Salah satu instrumen penting dalam pembinaan guru adalah supervisi akademik, yang seharusnya berfungsi sebagai pendampingan profesional, bukan sekadar pengawasan dokumen. Tanpa supervisi yang efektif, guru berisiko tertinggal dalam mengembangkan metode dan praktik pengajaran yang sesuai. Namun, berbagai kajian nasional menunjukkan bahwa supervisi akademik di banyak sekolah masih belum berjalan optimal.
Cara
Penelitian Dilakukan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan kondisi supervisi akademik secara nyata di lapangan. Data dikumpulkan melalui:
- Wawancara mendalam
- Observasi langsung
- Studi dokumentasi
Sebanyak
12 informan terlibat, terdiri dari wakil kepala sekolah, ketua program
keahlian, dan guru. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami supervisi
akademik tidak hanya sebagai kebijakan tertulis, tetapi sebagai praktik yang
dialami langsung oleh pendidik di sekolah.
Temuan
Utama: Supervisi Berjalan, Tetapi Tidak Sistematis
Hasil
penelitian menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara ketentuan normatif
supervisi akademik dan praktik di lapangan. Temuan utama dapat diringkas
sebagai berikut:
Perencanaan supervisi lemah, Pengawas pembina tidak menyusun perencanaan supervisi secara tertulis dan
sistematis. Tidak ada jadwal jelas, tujuan supervisi tidak dikomunikasikan
kepada guru, dan instrumen supervisi tidak terdokumentasi. Kondisi ini membuat
supervisi dipersepsikan sebagai kegiatan insidental.
Pelaksanaan didominasi pemeriksaan dokumen, Supervisi lebih sering berupa pemeriksaan silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran. Observasi langsung di kelas hanya dilakukan pada sebagian guru,
dengan durasi singkat. Akibatnya, pengawas tidak memperoleh gambaran utuh
tentang proses pembelajaran yang sebenarnya.
Evaluasi minim dan tidak terdokumentasi, Evaluasi hasil supervisi jarang dilakukan secara individual dan mendalam. Guru
umumnya hanya menerima pertanyaan singkat tanpa umpan balik terstruktur
mengenai kelebihan dan kekurangan praktik mengajar mereka.
Tidak ada tindak lanjut pembinaan, Tahap tindak lanjut menjadi kelemahan paling serius. Tidak ditemukan program
pembinaan lanjutan, pelatihan, atau pendampingan yang dirancang berdasarkan
hasil supervisi. Supervisi berhenti tanpa dampak berkelanjutan.
Dampak
bagi Pendidikan Kejuruan
Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas, terutama bagi pendidikan kejuruan:
- Bagi guru, minimnya pembinaan menghambat pengembangan kompetensi profesional.
- Bagi sekolah, kualitas pembelajaran sulit meningkat jika supervisi tidak berjalan efektif.
- Bagi pembuat kebijakan, hasil ini menjadi peringatan perlunya penguatan sistem supervisi, pelatihan pengawas, dan mekanisme evaluasi yang akuntabel.
Profil Penulis
Bidang keahlian manajemen dan supervisi pendidikan.
Nuril Mawaddah, M.Pd. Dosen STIA Bina Banua Banjarmasin.
Fokus pada supervisi akademik dan profesionalisme guru.
Bakhtiar, M.Pd. Dosen STIA Bina Banua Banjarmasin.
Bidang keahlian kepemimpinan dan manajemen pendidikan kejuruan.

0 Komentar