AI Efektif Memicu Berpikir Kritis Mahasiswa, Namun Integrasi Pengetahuan Tetap Bergantung pada Refleksi Diri

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Malang - Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terbukti mampu memicu rasa ingin tahu dan memperluas eksplorasi berpikir mahasiswa, tetapi belum sepenuhnya menggantikan peran refleksi diri dalam membangun pemahaman mendalam. Kesimpulan ini disampaikan oleh Mayasari bersama Agustinus Prasetyo Edy Wibowo dan Syamsudin dalam riset yang dipublikasikan pada 2026 di Asian Journal of Applied Education. Penelitian yang melibatkan mahasiswa perguruan tinggi berbasis teknologi di Gading Serpong ini penting karena memberikan gambaran nyata tentang bagaimana AI memengaruhi kualitas berpikir kritis mahasiswa di pendidikan tinggi Indonesia.

Studi tersebut mengulas kehadiran kognitif mahasiswa—yakni kemampuan membangun makna melalui berpikir kritis dan reflektif—saat belajar dengan dukungan AI. Di tengah pesatnya adopsi chatbot dan sistem pembelajaran berbasis AI di kampus, temuan ini membantu menjawab pertanyaan mendasar: sejauh mana AI benar-benar mendukung proses berpikir mahasiswa, bukan sekadar mempercepat akses jawaban.

AI sebagai Mitra Belajar di Kampus Digital

Dalam beberapa tahun terakhir, AI tidak lagi sekadar alat administratif di perguruan tinggi. Berbagai kampus mulai memanfaatkan AI sebagai mitra belajar yang memberi umpan balik cepat, rekomendasi materi, hingga dialog konseptual. Perubahan ini sejalan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan personalisasi, fleksibilitas, dan penguatan penalaran kritis.

Namun, kekhawatiran juga muncul. Kemudahan memperoleh jawaban instan dikhawatirkan justru mengurangi kedalaman berpikir mahasiswa. Mayasari dan tim peneliti menyoroti bahwa diskusi tentang AI sering kali berfokus pada efektivitas teknologi, bukan pada bagaimana mahasiswa membangun pengetahuan saat berinteraksi dengan AI.

Untuk itu, penelitian ini menggunakan kerangka Community of Inquiry (CoI), sebuah model yang menilai kualitas pembelajaran daring melalui empat fase kehadiran kognitif: pemicu (triggering), eksplorasi, integrasi, dan resolusi.

Mengamati Proses Berpikir Mahasiswa secara Langsung

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus mendalam. Sebanyak 12 mahasiswa dari perguruan tinggi berbasis teknologi dipilih secara purposif, mewakili variasi tingkat literasi digital dan pengalaman menggunakan AI. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi aktivitas belajar digital, serta analisis interaksi mahasiswa dengan platform AI yang mereka gunakan sehari-hari.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat bukan hanya hasil belajar, tetapi juga proses berpikir mahasiswa saat AI hadir sebagai “rekan dialog” dalam pembelajaran.

Empat Temuan Utama tentang Kehadiran Kognitif

Hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten dalam keempat fase kehadiran kognitif.

Pertama, fase pemicu paling kuat didukung oleh AI. AI berperan sebagai pemantik rasa ingin tahu mahasiswa melalui pertanyaan adaptif, koreksi instan, dan notifikasi konsep yang belum dipahami. Banyak mahasiswa mengaku “terpancing” untuk berpikir lebih dalam setelah AI menunjukkan kesalahan atau celah pemahaman mereka. Pada tahap ini, AI berfungsi efektif sebagai alarm kognitif yang mendorong proses berpikir kritis dimulai.

Kedua, fase eksplorasi juga terbantu signifikan. Mahasiswa memanfaatkan AI untuk meminta penjelasan tambahan, contoh alternatif, atau sudut pandang berbeda atas suatu konsep. AI membantu memperluas eksplorasi informasi dan mempermudah navigasi materi. Namun, efektivitas tahap ini sangat dipengaruhi oleh literasi digital mahasiswa. Mereka yang terbiasa berdialog dengan AI cenderung mengeksplorasi lebih dalam dibanding mahasiswa yang pasif atau mudah menyerah ketika penjelasan terasa rumit.

Ketiga, fase integrasi tidak sepenuhnya ditopang AI. Integrasi pengetahuan—menghubungkan berbagai ide menjadi pemahaman utuh—lebih banyak terjadi melalui refleksi mandiri. Mahasiswa menggunakan AI sebagai partner untuk memeriksa logika atau struktur konsep, tetapi penyatuan gagasan tetap bergantung pada proses berpikir internal. “AI membantu memberi kerangka, tetapi menyatukan konsep tetap pekerjaan saya sendiri,” ungkap salah satu partisipan.

Keempat, fase resolusi hanya muncul pada sebagian mahasiswa. Resolusi, yakni kemampuan menerapkan pemahaman pada konteks nyata atau pemecahan masalah, menjadi tahap paling jarang tercapai. Fase ini terutama muncul pada mahasiswa dengan literasi digital tinggi dan kemampuan regulasi diri yang kuat. Bagi mereka, AI berfungsi sebagai evaluator atau alat validasi, bukan sebagai penentu keputusan. Mahasiswa yang terlalu bergantung pada jawaban instan cenderung berhenti pada tahap memahami, tanpa melangkah ke penerapan.

AI Kuat sebagai Pemicu, Bukan Pengganti Berpikir

Menurut Mayasari dari Universitas Raharja, temuan ini menegaskan bahwa AI sangat efektif dalam dua tahap awal berpikir kritis, tetapi tidak otomatis menghasilkan pembelajaran mendalam. “AI bisa memicu dan memperluas eksplorasi, tetapi integrasi dan penerapan pengetahuan tetap membutuhkan refleksi dan kendali diri mahasiswa,” tulisnya.

Agustinus Prasetyo Edy Wibowo dari Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun menambahkan bahwa peran AI sebaiknya diposisikan sebagai pendukung pedagogis, bukan pengganti proses kognitif. Sementara itu, Syamsudin dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa agar AI benar-benar memperkuat kualitas berpikir, bukan sekadar mempercepat penyelesaian tugas.

Implikasi bagi Pendidikan Tinggi dan Kebijakan Kampus

Temuan ini membawa implikasi luas bagi dunia pendidikan tinggi. Bagi dosen, desain pembelajaran berbasis AI perlu disertai aktivitas reflektif, diskusi argumentatif, dan tugas pemecahan masalah agar mahasiswa terdorong mencapai fase integrasi dan resolusi. Bagi kampus, peningkatan literasi digital dan kemampuan regulasi diri mahasiswa menjadi kunci agar AI dimanfaatkan secara kritis.

Dari sisi kebijakan, penelitian ini mendukung perlunya panduan penggunaan AI di perguruan tinggi yang tidak hanya menyoal etika dan teknis, tetapi juga strategi pedagogis. AI berpotensi besar memperkuat pembelajaran, asalkan digunakan dalam kerangka yang mendorong berpikir reflektif dan mandiri.

Profil Penulis

Mayasari – Dosen dan peneliti di Universitas Raharja, bidang keahlian teknologi pendidikan dan pembelajaran berbasis AI. Agustinus Prasetyo Edy Wibowo – Dosen di Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun, bidang teknologi dan pendidikan vokasi.
Syamsudin – Dosen di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, bidang pendidikan dan kajian pembelajaran digital.

Sumber Penelitian

Mayasari, Wibowo, A.P.E., & Syamsudin. (2026). Exploring Students’ Cognitive Presence in AI-Assisted Learning Environments: A Qualitative Inquiry in Higher Education. Asian Journal of Applied Education,

Vol. 5 No. 1, hlm. 179–192.

DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.15852

Posting Komentar

0 Komentar