Kegiatan yang melibatkan langsung warga tersebut menjadi bagian dari penguatan Program Kampung Iklim (ProKlim), program nasional yang mendorong peran aktif masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Hasilnya dinilai penting karena persoalan sampah masih menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca di kawasan perkotaan dan perdesaan.
Tantangan Sampah dan Perubahan Iklim
Volume sampah rumah tangga di Indonesia terus meningkat seiring urbanisasi dan perubahan gaya hidup. Di banyak wilayah, keterbatasan infrastruktur dan rendahnya partisipasi warga membuat sampah berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa pengolahan memadai. Kondisi ini turut memperburuk pencemaran lingkungan dan mempercepat krisis iklim.
Dusun Krajan, yang berada di kawasan dataran tinggi Kota Batu, menghadapi karakteristik sampah yang didominasi limbah organik dari aktivitas rumah tangga dan pertanian. Situasi tersebut mendorong perlunya pendekatan pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berbasis komunitas.
Pendekatan Lapangan yang Sederhana dan Partisipatif
Tim ITN Malang melakukan observasi lapangan, wawancara dengan warga dan perangkat desa, serta analisis dokumen pendukung untuk memetakan sistem pengelolaan sampah yang berjalan. Program dirancang secara partisipatif, meliputi sosialisasi pemilahan sampah, pelatihan pembuatan kompos dan eco-enzyme, hingga pendampingan pembentukan bank sampah komunitas.
Pendekatan ini menempatkan warga sebagai pelaku utama, sementara tim pengabdian berperan sebagai fasilitator dan pendamping teknis.
Hasil Nyata di Tingkat Rumah Tangga
Hasil kegiatan menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Sekitar 85 persen peserta mampu memilah sampah organik dan anorganik setelah mengikuti sosialisasi. Unit bank sampah berhasil dibentuk dan mulai beroperasi, memberikan nilai ekonomi dari sampah anorganik seperti botol plastik dan kertas.
Selain itu, pengolahan sampah organik menjadi kompos mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA. Warga juga terlibat dalam kegiatan penghijauan, konservasi sumber air, dan adaptasi perubahan iklim, seperti pembuatan sumur resapan.
Dampak Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
Menurut Anis Artiyani, pengelolaan sampah berbasis masyarakat tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi warga. “Ketika masyarakat terlibat langsung, kesadaran lingkungan meningkat dan manfaat ekonomi mulai dirasakan,” jelasnya.
Model ini dinilai relevan untuk direplikasi di wilayah lain, terutama desa dan dusun yang telah atau akan menjalankan Program Kampung Iklim. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan institusi pendidikan menjadi kunci keberlanjutan program.
Profil Singkat Penulis
- Anis Artiyani, S.T., M.T.Institut Teknologi Nasional Malang
- Candra Dwiratna Wulandari, S.T., M.T. – Teknik Lingkungan, ITN Malang
- Sanny Andjar Sari, S.T., M.T. – Teknik Industri, ITN Malang
- Julianus Hutabarat, S.T., M.T. – Teknik Industri, ITN Malang
- Harimbi Setyawati, S.T., M.T. – Teknik Kimia, ITN Malang
- I Nyoman Sudiasa, S.T., M.T. – Teknik Sipil, ITN Malang
- Erni Junita Sinaga, S.T., M.T. – Teknik Kimia, ITN Malang
- Muh. Wiryawan Jauhari, S.T., M.T. – Teknik Lingkungan, ITN Malang
Sumber Penelitian
Artiyani, A., Wulandari, C. D., Sari, S. A., Hutabarat, J., Setyawati, H., Sudiasa, I. N., Sinaga, E. J., & Jauhari, M. W. (2026).
Optimalisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat dalam Mendukung Program Kampung Iklim (ProKlim) di Dusun Krajan, Desa Torongrejo, Kota Batu.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 1, 13–22.
DOI: 10.55927/jpmb.v5i1.573
URL: https://nblformosapublisher.org/index.php/jpmb

0 Komentar