Penelitian terbaru tentang laporan keberlanjutan menunjukkan perubahan besar: praktik pelaporan yang dulu sekadar memenuhi kewajiban kini berkembang menjadi strategi bisnis jangka panjang. Temuan ini diungkap oleh Masniatul Aulia dan Lilik Purwanti dari Universitas Brawijaya dalam artikel ilmiah yang terbit tahun 2026 di Indonesian Journal of Entrepreneurship & Startups (IJES). Studi ini penting karena memberikan peta komprehensif tentang bagaimana riset laporan keberlanjutan dan ESG berkembang di Indonesia dan dunia internasional dalam enam tahun terakhir.
Artikel berjudul “Sustainability Reporting Trends: A Systematic Literature Review” tersebut menganalisis ratusan publikasi ilmiah untuk memahami arah riset, teori yang dominan, metode yang digunakan, serta celah penelitian yang masih terbuka. Di tengah meningkatnya tuntutan transparansi ESG dan adopsi standar global seperti GRI dan ISSB (IFRS S1 dan S2), hasil kajian ini relevan bagi akademisi, regulator, pelaku usaha, hingga investor.
Laporan keberlanjutan makin mendesak secara global
Dalam satu dekade terakhir, laporan keberlanjutan berubah dari dokumen sukarela menjadi instrumen strategis. Data global menunjukkan hampir seluruh perusahaan besar dunia kini rutin menerbitkan laporan ESG. Di Eropa, penerapan Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) memperluas kewajiban pelaporan. Di tingkat global, ISSB memperkenalkan standar IFRS S1 dan S2 sebagai acuan tunggal pengungkapan keberlanjutan lintas negara.
Di Indonesia, dorongan serupa datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK No. 51/2017 dan dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang aktif memperkenalkan standar pelaporan keberlanjutan global. Kondisi ini membuat riset akademik tentang laporan keberlanjutan semakin intens, namun juga memunculkan pertanyaan: sejauh mana pelaporan ini benar-benar bermakna, bukan sekadar formalitas?
Menyisir 363 artikel ilmiah
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Masniatul Aulia dan Lilik Purwanti menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Mereka menelaah 169 artikel jurnal terindeks SINTA (Indonesia) dan 194 artikel internasional dari Emerald Publishing, yang terbit antara 2019–2025. Seluruh artikel dianalisis secara sistematis untuk memetakan tren topik, teori, metode penelitian, dan sektor industri yang paling banyak dikaji.
Hasilnya menunjukkan lonjakan signifikan publikasi riset laporan keberlanjutan sejak 2019, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 25 persen per tahun. Jurnal akuntansi dan manajemen mendominasi lebih dari tiga perempat publikasi, menandakan bahwa laporan keberlanjutan kini dipandang sebagai isu inti dalam tata kelola dan kinerja perusahaan.
Temuan utama: dari legitimasi ke strategi
Penelitian ini mencatat beberapa temuan penting:
Dampak bagi dunia usaha dan kebijakan
Menurut Masniatul Aulia, laporan keberlanjutan kini tidak lagi bisa dipahami sebagai dokumen administratif. Ia menegaskan bahwa literatur mutakhir menunjukkan laporan keberlanjutan berfungsi sebagai alat komunikasi strategis, manajemen risiko, dan pembangun reputasi jangka panjang. Perusahaan dengan pelaporan keberlanjutan yang kredibel cenderung memperoleh kepercayaan investor dan pemangku kepentingan yang lebih tinggi.
Bagi regulator dan pembuat kebijakan, hasil kajian ini menegaskan pentingnya mendorong kualitas dan substansi pelaporan, bukan hanya kepatuhan. Harmonisasi standar global seperti GRI dan ISSB dengan regulasi nasional menjadi kunci agar laporan keberlanjutan lebih dapat dibandingkan, andal, dan relevan.
Di sisi akademik, studi ini membuka ruang riset baru, mulai dari analisis narasi laporan, penggunaan big data dan kecerdasan buatan, hingga pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan akuntansi, manajemen, dan ilmu sosial.
0 Komentar