Bahasa sebagai Alat Kekuasaan dalam Drama Shakespeare Measure for Measure
Bahasa tidak sekadar menjadi sarana dialog dalam karya sastra klasik. Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Negeri Medan menunjukkan bahwa dalam drama Measure for Measure karya William Shakespeare, bahasa berfungsi sebagai alat kekuasaan yang mampu mengancam martabat, kebebasan, dan identitas tokoh-tokohnya. Temuan ini dipaparkan oleh Flora Gracia Siallagan bersama tim peneliti dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS).
Penelitian ini ditulis oleh Flora Gracia Siallagan, Monika Br. Tobing, Citra Ayudia, Rialdo Marcell Sitorus, dan Syamsul Bahri, seluruhnya berasal dari Universitas Negeri Medan. Mereka menelaah bagaimana dialog dalam drama Shakespeare abad ke-17 tersebut mencerminkan relasi kuasa, moralitas, dan tekanan sosial melalui apa yang disebut sebagai Face Threatening Acts (FTA), atau tindakan berbahasa yang mengancam “wajah sosial” seseorang. Studi ini penting karena membantu pembaca modern memahami bahwa konflik dalam drama klasik tidak hanya terjadi lewat tindakan fisik, tetapi juga melalui kata-kata.
Mengapa Measure for Measure Relevan Hari Ini
Measure for Measure sering disebut sebagai “problem play” karena memadukan komedi dan tragedi sambil mengangkat isu sensitif seperti keadilan, hukum moral, dan otoritas negara. Drama ini berkisah tentang kekuasaan hukum yang dijalankan secara keras di Wina, dan bagaimana para tokohnya—terutama perempuan dan rakyat kecil—harus menanggung konsekuensi sosial dari keputusan penguasa.
Menurut para peneliti, dialog dalam drama ini sarat dengan ancaman simbolik terhadap harga diri dan kebebasan tokoh. “Bahasa menjadi instrumen untuk menegakkan otoritas dan menundukkan individu,” tulis Flora Gracia Siallagan dalam analisisnya. Dengan kata lain, konflik utama tidak hanya tampak dalam alur cerita, tetapi juga tersembunyi dalam pilihan kata, perintah, pengakuan, dan penolakan yang diucapkan para tokoh.
Memahami Face Threatening Acts dengan Bahasa Sederhana
Konsep Face Threatening Acts berasal dari teori kesantunan Brown dan Levinson. “Face” atau wajah di sini bukan wajah fisik, melainkan citra diri sosial yang ingin dijaga setiap orang. Ada dua jenis utama
1. Wajah positif, yaitu kebutuhan untuk dihargai dan diterima.
2. Wajah negatif, yaitu kebutuhan untuk bebas dari paksaan atau tekanan.
Ucapan yang merendahkan, mengkritik, memerintah, atau memaksa dapat mengancam salah satu atau kedua jenis wajah ini. Dalam drama, ancaman semacam ini sering kali menandai adanya ketimpangan kekuasaan.
Metode Penelitian: Membaca Ulang Dialog Shakespeare
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Para penulis membaca teks asli Measure for Measure (1604) secara menyeluruh, lalu memilih dialog-dialog yang menunjukkan konflik, tekanan moral, atau relasi kuasa. Setiap dialog kemudian diklasifikasikan ke dalam empat jenis FTA:
1. Ancaman terhadap wajah positif pendengar
2. Ancaman terhadap wajah negatif pendengar
3. Ancaman terhadap wajah positif penutur
4. Ancaman terhadap wajah negatif penutur
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menafsirkan makna sosial dan moral di balik percakapan para tokoh, bukan sekadar menghitung frekuensi dialog.
Temuan Utama: Ancaman terhadap Kebebasan Paling Dominan
Dari total 128 tindakan berbahasa yang dianalisis, hasilnya menunjukkan pola yang jelas:
1. Ancaman terhadap wajah negatif pendengar: 28,1%
2. Ancaman terhadap wajah positif penutur: 25,0%
3. Ancaman terhadap wajah positif pendengar: 24,2%
4. Ancaman terhadap wajah negatif penutur: 22,7%
Dominasi ancaman terhadap wajah negatif pendengar menunjukkan bahwa perintah, tekanan, dan paksaan dari tokoh berkuasa—seperti Angelo—menjadi ciri utama bahasa dalam drama ini. Salah satu contoh kuat terlihat ketika Angelo memerintahkan bawahannya untuk mengeksekusi Claudio tanpa ruang diskusi. Bahasa yang digunakan secara langsung membatasi kebebasan lawan bicara.
Di sisi lain, ada pula tokoh seperti Juliet yang “mengorbankan” wajah positifnya dengan mengakui rasa bersalah dan menerima rasa malu di hadapan otoritas. Menurut peneliti, pengakuan ini bukan sekadar sikap moral, tetapi juga hasil dari tekanan institusional yang membuat individu menormalisasi ketundukan.
Bahasa, Kekuasaan, dan Martabat Manusia
Penelitian ini menegaskan bahwa Measure for Measure menggambarkan ketegangan antara martabat individu dan otoritas lembaga. Bahasa religius dan moral kerap digunakan untuk membenarkan kontrol sosial. Dalam dialog antara Duke (yang menyamar sebagai biarawan) dan Juliet, misalnya, nasihat moral justru menjadi alat untuk mengarahkan cara seseorang menyesali dosa, sekaligus membatasi otonominya.
“Shakespeare memperlihatkan bagaimana bahasa yang tampak saleh dan bermoral dapat menjadi sarana dominasi,” tulis para peneliti. Temuan ini relevan bagi pembaca masa kini, terutama dalam konteks hukum, pendidikan, dan birokrasi, di mana bahasa resmi sering kali menentukan siapa yang memiliki kuasa dan siapa yang harus patuh.
Dampak bagi Pendidikan dan Kajian Sastra
Studi ini memberikan kontribusi penting bagi pengajaran sastra dan linguistik. Guru dan dosen dapat menggunakan pendekatan FTA untuk membantu siswa memahami konflik drama secara lebih kritis. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra klasik tetap relevan untuk membahas isu kontemporer seperti kekuasaan, etika, dan komunikasi.
Bagi masyarakat luas, temuan ini mengingatkan bahwa kata-kata bukanlah sesuatu yang netral. Bahasa bisa melukai, menekan, atau sebaliknya membela martabat seseorang—tergantung siapa yang berbicara dan dalam konteks apa.
Profil Singkat Penulis
Flora Gracia Siallagan, S.S., M.Hum.
Dosen dan peneliti di Universitas Negeri Medan. Bidang keahlian: linguistik pragmatik dan analisis wacana sastra.
Monika Br. Tobing, S.S., M.Hum.
Dosen Universitas Negeri Medan, fokus pada linguistik dan pengajaran bahasa Inggris.
Citra Ayudia, S.S., M.Hum.; Rialdo Marcell Sitorus, S.S., M.Hum.; Syamsul Bahri, S.Pd., M.Hum.
Peneliti dan akademisi di Universitas Negeri Medan dengan minat pada kajian sastra, pragmatik, dan analisis bahasa dalam media dan budaya.
Sumber Penelitian
Siallagan, F. G., Tobing, M. Br., Ayudia, C., Sitorus, R. M., & Bahri, S. (2026).
“Face Threatening Acts in Shakespeare’s Measure for Measure.”
International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4 No. 1, hlm. 1677–1690.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i1.143

0 Komentar