Penelitian ini melibatkan guru sekolah dasar di wilayah Semarang, Jawa Tengah, yang menghadapi beban kerja tinggi dan tuntutan emosional berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan bahwa guru yang mengikuti program terintegrasi selama enam minggu mengalami penurunan kecemasan yang jauh lebih besar dibandingkan guru yang tidak mengikuti program serupa. Temuan ini menegaskan bahwa kesejahteraan emosional guru dapat ditingkatkan melalui pendekatan kreatif, kognitif, dan kesadaran diri secara bersamaan.
Kecemasan Guru, Masalah yang Sering Terabaikan
Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa antara 26 hingga hampir 40 persen guru mengalami gejala kecemasan yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Guru yang cemas cenderung lebih mudah lelah secara emosional, kurang responsif terhadap kebutuhan siswa, dan berisiko mengalami burnout.
Meski mindfulness semakin populer di dunia pendidikan, sebagian besar program masih berfokus pada siswa. Guru, yang justru menjadi kunci terciptanya iklim kelas yang sehat, sering kali belum mendapatkan dukungan psikologis yang terstruktur dan berbasis riset.
“Ketika guru tidak mampu mengelola emosinya, kualitas interaksi di kelas ikut menurun,” tulis Robertus Heru Setyo Suhartono dan tim peneliti dalam artikel mereka.
Pendekatan Terpadu yang Berbeda dari Program Konvensional
Penelitian ini menawarkan pendekatan yang berbeda dengan menggabungkan tiga elemen utama:
- Terapi seni, untuk membantu guru mengekspresikan dan meredakan emosi melalui aktivitas visual seperti menggambar dan mewarnai mandala.
- Growth mindset, untuk melatih cara berpikir adaptif agar tantangan dipandang sebagai peluang belajar, bukan ancaman.
- Mindfulness, untuk meningkatkan kesadaran diri dan kemampuan merespons stres secara lebih tenang.
Program ini dijalankan selama enam minggu, dengan dua sesi per minggu. Setiap sesi berlangsung sekitar satu jam dan dipandu oleh fasilitator terlatih di bidang terapi seni dan mindfulness.
Metode Penelitian yang Kuat dan Seimbang
Penelitian menggunakan pendekatan mixed-methods, menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Sebanyak 40 guru dibagi menjadi dua kelompok: kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Tingkat kecemasan dan kemampuan regulasi emosi diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan instrumen psikologis yang telah tervalidasi secara internasional.
Selain itu, enam guru dari kelompok eksperimen diwawancarai secara mendalam untuk menggali pengalaman subjektif mereka selama mengikuti program.
Hasil Nyata: Kecemasan Turun, Regulasi Emosi Meningkat
Hasil analisis menunjukkan penurunan kecemasan yang signifikan pada kelompok eksperimen. Skor kecemasan rata-rata turun 1,16 poin, sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan berarti.
Kemampuan regulasi emosi juga meningkat secara signifikan, terutama dalam dua aspek utama:
· Cognitive reappraisal, yaitu kemampuan menafsirkan ulang situasi sulit secara lebih positif.
· Penurunan expressive suppression, atau kecenderungan menekan emosi secara berlebihan.
Analisis lanjutan menunjukkan bahwa regulasi emosi berperan sebagai mekanisme kunci yang menjembatani intervensi dan penurunan kecemasan. Artinya, terapi seni, growth mindset, dan mindfulness bekerja efektif karena memperkuat kemampuan guru dalam mengelola emosi.
Seorang guru peserta program menggambarkan pengalamannya, “Saat menggambar, pikiran saya terasa lebih tenang. Saya tidak lagi membawa semua beban kelas ke rumah.”
Dampak bagi Sekolah dan Kebijakan Pendidikan
Temuan ini memiliki implikasi luas. Bagi sekolah, program ini dapat menjadi bagian dari pengembangan profesional guru yang tidak hanya fokus pada kompetensi akademik, tetapi juga kesejahteraan emosional. Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa investasi pada kesehatan mental guru berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan iklim sekolah.
Model ini juga relatif mudah diterapkan karena tidak memerlukan fasilitas mahal atau intervensi klinis intensif. Aktivitas seni sederhana, refleksi mindset, dan latihan mindfulness singkat sudah cukup memberikan dampak berarti.
Para peneliti menilai pendekatan ini dapat direplikasi di berbagai jenjang pendidikan dan wilayah lain di Indonesia, dengan penyesuaian konteks lokal.
Profil Singkat Penulis
·Robertus Heru Setyo Suhartono, M.Pd. – Dosen dan peneliti psikologi pendidikan, Universitas Semarang.
·Yustina Sapan, M.Pd. – Akademisi pendidikan, PIP Semarang.
·Indrojiono, M.Pd. – Pendidik dan praktisi pendidikan dasar, ASM Marsudirini Santa Maria Yogyakarta.
·Asmi Ode, M.Pd. – Dosen pendidikan, Universitas Darussalam Ambon.
·Pierre Marcello Lopulalan, M.Pd. – Pengajar dan praktisi pendidikan vokasi, Politeknik Pelayaran Banten.
Sumber Penelitian
Artikel ini disusun berdasarkan publikasi ilmiah berjudul “The Influence of Art Therapy, Growth Mindset, and Mindfulness Practices in Reducing Teacher Anxiety: A Mixed-Methods Approach”, yang dimuat dalam Asian Journal of Applied Education, Vol. 5 No. 1, tahun 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.15936
0 Komentar