Penelitian tersebut menegaskan bahwa integrasi teknologi digital dalam pengelolaan guru dan tenaga kependidikan bukan sekadar alat administratif, melainkan fondasi strategis untuk mewujudkan pembelajaran inklusif yang bermakna. Dengan sistem manajemen berbasis data, sekolah dapat merespons keberagaman kebutuhan peserta didik secara lebih adil, terstruktur, dan berkelanjutan.
Tantangan Nyata Sekolah Inklusif di Indonesia
Sekolah inklusif dirancang untuk memastikan semua peserta didik—termasuk anak berkebutuhan khusus memperoleh hak yang sama atas pendidikan berkualitas. Namun dalam praktiknya, banyak sekolah belum sepenuhnya siap menjalankan prinsip tersebut.
Masalah utama muncul pada aspek manajemen guru dan tenaga kependidikan. Banyak pendidik belum memiliki kompetensi pedagogik inklusif yang memadai, sementara tenaga kependidikan sering kali belum dilibatkan secara optimal dalam layanan administrasi dan pendukung pembelajaran inklusif. Kondisi ini diperparah oleh sistem pengelolaan sumber daya manusia yang masih manual, terpisah-pisah, dan tidak berbasis data.
Akibatnya, perencanaan layanan inklusif menjadi tidak terkoordinasi, pengambilan keputusan berjalan lambat, dan kualitas pembelajaran sulit ditingkatkan secara sistematis.
Mengapa Teknologi Digital Menjadi Kunci
Perkembangan teknologi digital membuka peluang besar untuk mengatasi persoalan tersebut. Sistem digital memungkinkan sekolah mengelola data guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik secara terintegrasi, akurat, dan transparan.
Menurut Komariyah dan tim dari Universitas Mulawarman, teknologi digital dapat membantu sekolah dalam:
- Pendataan kompetensi guru secara sistematis,
- Dokumentasi layanan inklusif yang rapi dan berkelanjutan,
- Koordinasi lintas peran di lingkungan sekolah, serta
- Pengambilan keputusan berbasis data yang lebih cepat dan tepat.
Dengan dukungan teknologi, manajemen sekolah tidak lagi bersifat reaktif, tetapi berubah menjadi strategis dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Cara Penelitian Dilakukan
Penelitian ini menggunakan studi literatur dan analisis kebijakan, dengan menelaah berbagai sumber akademik, laporan pemerintah, dan hasil penelitian sebelumnya terkait pendidikan inklusif, manajemen pendidikan, dan transformasi digital.
Para penulis menganalisis bagaimana pengelolaan guru dan tenaga kependidikan diterapkan di sekolah inklusif, tantangan yang muncul, serta potensi pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pembelajaran mendalam (deep learning).
Pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi riil sekolah inklusif sekaligus menawarkan kerangka konseptual untuk penguatan manajemen berbasis digital.
Temuan Utama Penelitian
Dari hasil analisis, penelitian ini menyoroti beberapa temuan penting:
- Kompetensi guru inklusif masih terbatas, terutama dalam memahami kebutuhan belajar peserta didik yang beragam.
- Peran tenaga kependidikan belum optimal, khususnya dalam administrasi dan koordinasi layanan inklusif.
- Sistem manajemen SDM sekolah masih manual dan terfragmentasi, sehingga sulit mendukung evaluasi dan pengambilan keputusan.
- Pemanfaatan teknologi digital masih parsial, belum terintegrasi dalam sistem manajemen sekolah.
- Koordinasi antarpendidik dan staf lemah, menghambat kolaborasi dalam pembelajaran inklusif.
- Kebijakan pendukung digitalisasi sekolah inklusif masih terbatas, baik di tingkat sekolah maupun pemerintah.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama sekolah inklusif bukan hanya pada aspek pedagogik, tetapi juga pada sistem manajemen dan tata kelola sumber daya manusia.
Dampak Langsung bagi Pembelajaran Mendalam
Penelitian ini menegaskan hubungan erat antara manajemen sekolah dan kualitas pembelajaran. Pembelajaran mendalam menuntut keterlibatan aktif siswa, pemahaman konseptual, berpikir kritis, serta penerapan pengetahuan dalam konteks nyata.
Dalam konteks inklusif, pembelajaran mendalam hanya dapat terwujud jika guru didukung oleh sistem manajemen yang kuat, kolaboratif, dan adaptif. Teknologi digital berperan sebagai penghubung antara prinsip inklusivitas dan praktik pembelajaran bermakna.
“Integrasi teknologi digital memungkinkan penguatan kompetensi pedagogik guru dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam layanan pendidikan inklusif,” tulis Laili Komariyah dari Universitas Mulawarman dalam artikelnya.
Implikasi bagi Sekolah dan Pembuat Kebijakan
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan Indonesia. Bagi sekolah, penelitian ini menekankan pentingnya:
- Mengembangkan sistem manajemen guru dan staf berbasis digital,
- Meningkatkan literasi digital pendidik dan tenaga kependidikan, serta
- Membangun budaya kolaborasi yang didukung teknologi.
Bagi pembuat kebijakan, hasil kajian ini menjadi dasar penting untuk merumuskan kebijakan afirmatif yang mendorong digitalisasi manajemen sekolah inklusif. Dukungan terhadap infrastruktur teknologi, pelatihan berkelanjutan, dan sistem manajemen terpadu menjadi kunci keberhasilan.
Tanpa langkah strategis ini, pendidikan inklusif berisiko berhenti pada tataran konsep, tanpa mampu menjamin kualitas dan keadilan pembelajaran bagi semua peserta didik.
0 Komentar