Studi tersebut mengkaji Antara Konveksi, sebuah UMKM konveksi di Indonesia yang menerapkan model bisnis pre-order. Dengan menata ulang proses akuntansi melalui sistem berbasis Excel yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha, perusahaan ini mencatat kenaikan pendapatan sebesar 83,17 persen, lonjakan laba kotor hingga 1.190,08 persen, serta berbalik dari kerugian menjadi margin laba bersih 16,40 persen hanya dalam waktu satu tahun. Temuan ini penting karena jutaan UMKM di negara berkembang masih kesulitan mengelola keuangan dan tidak memiliki sumber daya untuk mengadopsi sistem digital yang kompleks.
Mengapa Pengelolaan Keuangan UMKM Sangat Penting
UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, dengan kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan produk domestik bruto. Namun, banyak pelaku UMKM masih mengandalkan pembukuan manual atau perangkat lunak akuntansi yang kaku dan tidak sesuai dengan pola operasional sehari-hari.
Kesenjangan ini sangat terasa pada UMKM dengan model bisnis non-standar, seperti sistem pre-order. Pada model ini, struktur biaya, pengelolaan persediaan, dan arus kas sangat berbeda dibandingkan usaha produksi massal. Ketidaksesuaian sistem pencatatan sering membuat pelaku usaha sulit memantau kinerja keuangan secara akurat.
Solusi akuntansi digital memang menjanjikan efisiensi, tetapi tingkat adopsinya masih rendah. Banyak platform berbasis cloud atau kecerdasan buatan dinilai mahal, rumit, dan kurang relevan dengan kebutuhan spesifik UMKM. Akibatnya, tidak sedikit pelaku usaha yang akhirnya meninggalkan alat digital atau menggunakannya secara tidak optimal.
Kasus Antara Konveksi menunjukkan alternatif yang realistis: mengoptimalkan alat yang sudah dikenal, terjangkau, dan fleksibel.
Bagaimana Penelitian Dilakukan
Tim peneliti menggunakan pendekatan studi kasus, dengan mengombinasikan analisis data keuangan dan wawancara mendalam. Fokus penelitian diarahkan pada laporan keuangan Antara Konveksi tahun 2023 dan 2024, serta wawancara dengan pemilik usaha dan kepala bagian akuntansi.
Alih-alih memperkenalkan perangkat lunak baru, perusahaan justru merancang ulang sistem Excel yang sudah digunakan, dengan template dan rumus yang disesuaikan dengan alur kerja pre-order. Kinerja keuangan sebelum dan sesudah optimalisasi kemudian dibandingkan secara tahunan, mencakup pendapatan, biaya, margin laba, dan struktur keuangan secara keseluruhan.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap tidak hanya perubahan angka, tetapi juga dampak perbaikan pengelolaan data terhadap pengambilan keputusan sehari-hari di dalam perusahaan.
Hasil Keuangan Utama Secara Ringkas
Optimalisasi Excel menghasilkan peningkatan kinerja yang sangat signifikan:
- Pendapatan meningkat dari Rp919,7 juta pada 2023 menjadi Rp1,68 miliar pada 2024, naik 83,17 persen.
- Laba kotor melonjak dari Rp58,4 juta menjadi Rp754,1 juta, meningkat lebih dari 1.190 persen.
- Biaya pendapatan turun drastis secara proporsional, dari 93,64 persen menjadi 55,24 persen dari total pendapatan.
- Margin laba bersih berubah dari kerugian –18,57 persen menjadi keuntungan 16,40 persen, melampaui rata-rata standar industri UMKM.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa peningkatan kinerja tidak hanya berasal dari penjualan yang lebih tinggi, tetapi juga dari pengendalian biaya dan penetapan harga yang lebih tepat berkat data keuangan yang lebih jelas dan terstruktur.
Mengapa Excel Lebih Efektif Dibanding Perangkat Lunak Canggih
Menurut penelitian ini, Antara Konveksi sempat mencoba perangkat lunak akuntansi komersial, namun dinilai terlalu kaku dan tidak sesuai dengan kebutuhan operasional berbasis pre-order. Excel justru memberikan keleluasaan untuk membangun sistem yang mengikuti cara kerja usaha secara nyata.
“Kekuatan alat yang mudah diakses terletak pada fleksibilitasnya,” tulis Andiani dan Prajogo dari STIE Malangkuçeçwara. Mereka menekankan bahwa bagi UMKM dengan model bisnis yang unik, fleksibilitas dan keterampilan manusia sering kali lebih penting daripada kecanggihan teknologi.
Dengan menyesuaikan struktur data pada siklus produksi dan pesanan pelanggan, perusahaan memperoleh gambaran biaya, margin, dan arus kas secara real time. Visibilitas ini memungkinkan penyesuaian harga dan alokasi sumber daya yang lebih cepat dan akurat.
Implikasi Lebih Luas bagi UMKM dan Pembuat Kebijakan
Temuan ini menantang anggapan umum bahwa transformasi digital UMKM harus selalu melibatkan teknologi mahal dan kompleks. Bagi banyak usaha kecil, hambatan utama bukan terletak pada ketersediaan alat, melainkan pada kurangnya penyesuaian strategis.
Bagi pemilik UMKM, pesan utamanya jelas: menginvestasikan waktu untuk mengoptimalkan alat yang sudah dikenal seperti Excel dapat memberikan manfaat finansial yang besar. Pelatihan karyawan untuk menggunakan alat tersebut secara efektif bahkan bisa lebih berdampak dibandingkan membeli perangkat lunak siap pakai yang tidak sesuai kebutuhan.
Bagi pembuat kebijakan dan lembaga pendukung UMKM, studi ini mendorong perubahan fokus. Program pelatihan sebaiknya menekankan keterampilan digital praktis dan sistem yang dapat disesuaikan, bukan pendekatan seragam untuk semua jenis usaha. Dukungan terhadap optimalisasi alat yang mudah diakses berpotensi memperkuat ketahanan keuangan UMKM lintas sektor.
0 Komentar