Sidoarjo Perkuat Mitigasi Banjir Melalui Standar Operasional Prosedur Terpadu di Kawasan Afvoer Pucang

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Sidoarjo – Masalah banjir tahunan yang melanda Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini mendapatkan solusi strategis melalui pengembangan sistem tata kelola bencana yang lebih terstruktur. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada awal tahun 2026 mengungkapkan bahwa kunci utama pengendalian banjir bukan hanya terletak pada pembangunan fisik, melainkan pada kejelasan prosedur kerja antarlembaga.

Penelitian ini dilakukan oleh Veronika Nugraheni Sri Lestari dari Universitas Dr. Soetomo, bekerja sama dengan Budiyanto dan Triyonowati dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia. Hasil studi ini sangat krusial bagi warga Sidoarjo mengingat wilayah ini sering kali menghadapi ancaman luapan air selama musim penghujan, terutama di area Afvoer Pucang.

Mengapa Sidoarjo Terus Tergenang?

Sidoarjo menghadapi tantangan geografis dan teknis yang kompleks. Setiap musim hujan, mulai dari bulan Oktober hingga April, wilayah ini kerap terendam banjir akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Pemicu utamanya meliputi degradasi drainase, akumulasi sedimen (pendangkalan), arus balik air laut (rob), hingga kurangnya koordinasi antar instansi pemerintah.

Veronika dan timnya mencatat bahwa sistem drainase di Sidoarjo sangat rumit, melibatkan saluran irigasi dan bendungan pengatur level air. Tanpa panduan yang jelas, upaya penanganan sering kali menjadi terfragmentasi atau tidak sinkron, yang pada akhirnya memperlambat surutnya air di kawasan pemukiman dan jalan protokol seperti Jalan Yos Sudarso dan area Pucang.

Metodologi: Menggali Data dari Lapangan

Untuk merumuskan solusi yang tepat, para peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Mereka melakukan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan pengumpulan dokumen dari berbagai pemangku kepentingan utama.

Instansi yang dilibatkan dalam pengumpulan data ini antara lain:

  • Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBMSDA) Sidoarjo.
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dan Sidoarjo.
  • Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.

Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman untuk memastikan bahwa prosedur yang dihasilkan benar-benar valid dan aplikatif di lapangan.

Tiga Pilar Prosedur Operasional Standar (SOP) Banjir

Hasil penelitian ini merekomendasikan sebuah Standar Operasional Prosedur (SOP) terpadu yang dibagi menjadi tiga fase kritis:

1. Fase Pra-Banjir (Mitigasi & Kesiapsiagaan) Fokus utama tahap ini adalah pencegahan melalui inspeksi rutin dan normalisasi saluran Afvoer Pucang setidaknya dua kali setahun. Selain itu, dilakukan pemantauan debit air melalui CCTV dan data BMKG, serta edukasi masyarakat melalui simulasi tanggap darurat dan pembentukan "Desa Tangguh Bencana".
2. Fase Tanggap Darurat (Saat Banjir Terjadi) Ketika status darurat diumumkan oleh BPBD Sidoarjo, SOP menginstruksikan aktivasi posko lapangan dan koordinasi teknis untuk pengoperasian pompa serta pintu air oleh Dinas PUBMSDA dan BBWS. Prioritas utama adalah evakuasi kelompok rentan dan distribusi logistik serta air bersih secara cepat.
3. Fase Pasca-Bencana (Rehabilitasi) Setelah air surut, dilakukan survei kerusakan untuk laporan resmi, pembersihan saluran dan pemukiman dalam waktu maksimal tujuh hari, serta evaluasi SOP untuk perbaikan di musim hujan berikutnya.

Dampak dan Manfaat bagi Masyarakat

Implementasi SOP ini diharapkan dapat menghilangkan tumpang tindih peran antarlembaga yang selama ini menghambat efisiensi. Dengan adanya panduan tertulis yang jelas, pengambilan keputusan tidak lagi hanya berdasarkan pengalaman pribadi petugas di lapangan, melainkan berdasarkan indikator hidrologis yang terukur.

Bagi masyarakat Sidoarjo, keberadaan SOP ini berarti respon darurat yang lebih cepat dan transparan. Selain itu, keterlibatan komunitas dalam menjaga kebersihan saluran drainase menjadi bagian integral dari sistem ini, guna mencegah sumbatan sampah yang sering kali menjadi penyebab utama banjir.

Profil Penulis

Veronika Nugraheni Sri Lestari adalah seorang akademisi dan peneliti di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya. Ia memiliki fokus keahlian dalam bidang manajemen publik dan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas institusi dalam menangani krisis dan bencana lingkungan.

Referensi Penelitian:

Judul Artikel: The Importance of Standard Operating Procedures (SOPs) in Flood Control in Sidoarjo Regency
Penulis: Veronika Nugraheni Sri Lestari, Budiyanto, Triyonowati
Nama Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR)
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar