Ritual Mangongkal Holi Batak Toba Ditinjau Ulang dalam Pendidikan Agama Kristen Kontekstual


Ilustrasi by AI

Jakarta- Ritual adat Mangongkal Holi dalam budaya Batak Toba mengandung nilai penghormatan leluhur dan solidaritas sosial, tetapi juga berpotensi mengalami penyimpangan makna jika tidak dikaji secara kritis. Temuan ini diungkapkan oleh Favor Adelaide Bancin, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Kristen Universitas Kristen Indonesia, dalam artikel ilmiah yang terbit di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) pada 2026. Kajian ini penting karena menyentuh titik temu sensitif antara iman Kristen, budaya lokal, dan pendidikan agama di Indonesia.

Mangongkal Holi merupakan ritual penggalian dan pemindahan tulang-belulang leluhur ke tempat pemakaman yang lebih layak dan terhormat, biasanya disertai upacara adat besar. Praktik ini telah berlangsung sejak masa pra-Kristen dan tetap dijalankan hingga kini, termasuk oleh komunitas Batak Toba yang beragama Kristen. Di sinilah persoalan muncul: bagaimana gereja dan pendidikan agama memaknai ritual adat yang sarat simbol religius dan sosial ini tanpa terjebak pada sinkretisme atau penolakan total terhadap budaya.

Favor Bancin menempatkan Mangongkal Holi bukan sekadar tradisi warisan leluhur, melainkan ruang belajar iman yang nyata. Ia menilai bahwa praktik adat ini menyimpan nilai-nilai luhur seperti rasa syukur, penghormatan kepada orang tua dan leluhur, tanggung jawab keluarga, serta solidaritas antar-marga. Namun, di saat yang sama, ritual ini juga berisiko mengalami distorsi makna ketika dijadikan sarana pamer status sosial, legitimasi ekonomi, atau kebanggaan kolektif yang berlebihan.

Secara historis, masyarakat Batak Toba memandang adat sebagai sistem nilai yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk relasi dengan leluhur dan pemaknaan atas kematian. Mangongkal Holi berfungsi memperkuat identitas genealogis, menjaga kesinambungan marga, dan menegaskan posisi sosial keluarga dalam komunitas. Tidak mengherankan jika ritual ini sering melibatkan biaya besar dan partisipasi luas lintas generasi.

Ketika Kekristenan masuk ke Tanah Batak, gereja—terutama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)—tidak serta-merta menghapus Mangongkal Holi. Sebaliknya, gereja melakukan penyesuaian teologis dengan menekankan bahwa ritual ini bukan pemujaan roh leluhur, melainkan bentuk penghormatan historis dan kultural. Namun, menurut Bancin, penyesuaian struktural dan liturgis saja belum cukup menjawab persoalan teologis yang lebih dalam.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, dengan menelaah karya-karya teologi kontekstual, antropologi budaya, dan pedagogi iman. Bancin memadukan pemikiran Stephen B. Bevans tentang teologi kontekstual, H. Richard Niebuhr mengenai relasi Kristus dan budaya, serta konsep teologi dosa dari Cornelius Plantinga dan John H. Walton. Kerangka ini digunakan untuk membaca Mangongkal Holi secara kritis namun konstruktif.

Hasil kajian menunjukkan bahwa dosa tidak hanya dipahami sebagai pelanggaran moral individu, tetapi juga sebagai distorsi struktural dan kultural. Dalam konteks Mangongkal Holi, distorsi itu tampak ketika ritual lebih berorientasi pada gengsi, kompetisi sosial, dan kebanggaan ekonomi daripada pada relasi yang benar dengan Tuhan. Bancin menegaskan bahwa penghilangan unsur animisme tidak otomatis membuat praktik budaya tersebut sepenuhnya sejalan dengan iman Kristen.

Temuan utama penelitian ini dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Mangongkal Holi mengandung nilai etis dan sosial yang kuat, seperti solidaritas, gotong royong, dan penghormatan keluarga.
  • Ritual ini berpotensi menyimpang secara teologis jika motivasinya bergeser ke pencarian prestise dan legitimasi sosial.
  • Gereja dan Pendidikan Agama Kristen perlu mengembangkan pendekatan kontekstual-kritis, bukan sekadar adaptif atau normatif.
  • Mangongkal Holi dapat menjadi sarana pembelajaran iman lintas generasi jika dimaknai secara reflektif dan berpusat pada Allah.

Implikasi penelitian ini sangat relevan bagi dunia pendidikan dan gereja. Dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK), Mangongkal Holi dapat dijadikan studi kasus nyata untuk melatih peserta didik membaca budaya secara teologis. Bancin menekankan bahwa PAK tidak boleh berhenti pada transfer doktrin, melainkan harus membentuk kemampuan reflektif agar umat mampu menilai dan mentransformasi praktik budaya secara bertanggung jawab.

Pendekatan pedagogis yang disarankan bersifat dialogis dan kritis. Peserta didik diajak menghargai nilai budaya, sekaligus menguji motivasi dan orientasi spiritual di baliknya. Dengan demikian, pendidikan iman tidak terjebak pada indoktrinasi, tetapi mendorong kedewasaan beriman dalam konteks budaya lokal.

Dalam kerangka Missio Dei, penelitian ini juga menempatkan Mangongkal Holi sebagai ruang kesaksian iman Kristen di tengah masyarakat majemuk. Tradisi lokal tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai arena di mana Injil diuji, dihidupi, dan ditransformasikan secara nyata.

Profil Penulis

Favor Adelaide Bancin

Universitas Kristen Indonesia.

Sumber Penelitian

Bancin, Favor Adelaide. Mangongkal Holi in Toba Batak Culture: The Distortion of Sin and the Transformation of the Gospel Its Implications in Christian Religious Education.
East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 2026, hlm. 227–240.

web: https://mtiformosapublisher.org/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar