Yogyakarta- Kemampuan menulis geguritan atau puisi berbahasa Jawa siswa SMA dapat meningkat signifikan ketika pembelajaran tidak lagi bergantung pada ceramah semata. Temuan ini diungkapkan Atik Andari dan Prof. Dr. Suwarna, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui penelitian yang dilakukan pada tahun ajaran 2025/2026 di SMA Negeri 2 Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil riset tersebut dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research edisi 2026 dan menjadi bukti penting bahwa inovasi metode belajar mampu menjawab persoalan rendahnya literasi sastra daerah di sekolah.
Penelitian ini relevan di tengah kekhawatiran menurunnya minat siswa terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Jawa. Geguritan, sebagai salah satu bentuk puisi modern Jawa, menuntut kepekaan bahasa, imajinasi, serta kemampuan menuangkan gagasan secara kreatif. Namun di banyak sekolah, pembelajarannya masih berlangsung kaku, teoritis, dan minim media pendukung.
Masalah Lama dalam Pembelajaran Geguritan
Berdasarkan pengamatan peneliti dan wawancara dengan guru bahasa Jawa, siswa—khususnya di kelas khusus olahraga (KKO)—mengalami kesulitan besar saat diminta menulis geguritan. Ide sering buntu, kosakata terbatas, dan proses belajar terasa membosankan. Metode konvensional yang dominan ceramah dan penugasan individu dinilai tidak selaras dengan karakter siswa yang lebih aktif dan kinestetik.
Situasi ini mendorong Atik Andari dan Suwarna untuk menghadirkan pendekatan berbeda: model pembelajaran Think–Talk–Write (TTW) yang dipadukan dengan media foto sebagai pemantik ide.
Cara Kerja Model Think–Talk–Write
Pendekatan ini memberi ruang bagi siswa untuk berpikir, berbicara, dan menulis secara berurutan, sehingga proses kreatif tidak terasa menakutkan.
Metode Penelitian yang Digunakan
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain kuasi-eksperimen. Dua kelas X KKO dipilih sebagai sampel: satu kelas sebagai kelompok eksperimen yang belajar dengan model TTW berbantuan foto, dan satu kelas sebagai kelompok kontrol yang tetap menggunakan metode konvensional.
Kemampuan menulis geguritan siswa diukur melalui tes praktik menulis, baik sebelum maupun sesudah perlakuan. Data kemudian dianalisis menggunakan uji statistik non-parametrik untuk memastikan hasil yang objektif.
Temuan Utama: Skor Siswa Naik Signifikan
Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang sangat jelas. Sebelum penerapan TTW, nilai rata-rata menulis geguritan siswa di kelas eksperimen tergolong rendah. Namun setelah model Think–Talk–Write diterapkan:
- 33 dari 36 siswa mengalami peningkatan nilai menulis geguritan
- Uji statistik menunjukkan peningkatan tersebut signifikan secara matematis
- Kemampuan siswa kelas eksperimen mampu menyamai bahkan sedikit melampaui kelas kontrol yang belajar dengan metode konvensional
Menurut Atik Andari, keberhasilan ini tidak lepas dari peran media foto. Visual membantu siswa menemukan ide konkret dan memilih diksi yang lebih hidup. Diskusi kelompok juga mengurangi kecemasan saat menulis puisi.
“Foto memberi titik awal yang jelas. Siswa tidak lagi menulis dari kekosongan, tetapi dari sesuatu yang mereka lihat, bicarakan, dan pahami bersama,” jelasnya.
Dampak bagi Dunia Pendidikan
Temuan ini membawa implikasi luas bagi pembelajaran bahasa dan sastra, khususnya di sekolah menengah. Model Think–Talk–Write terbukti tidak hanya meningkatkan nilai akademik, tetapi juga:
- Meningkatkan keaktifan siswa di kelas
- Menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis
- Mengurangi kesan bahwa sastra adalah pelajaran yang sulit dan membosankan
Bagi sekolah dengan karakter siswa yang beragam—termasuk kelas olahraga—pendekatan ini dinilai lebih inklusif dan adaptif.
Penelitian ini juga memberi pesan penting bagi pengambil kebijakan pendidikan: inovasi pembelajaran berbasis aktivitas dan media visual perlu mendapat tempat lebih besar dalam kurikulum, terutama untuk pelajaran berbasis kreativitas.

0 Komentar