Osteoporosis dikenal sebagai “penyakit tulang rapuh”. Kondisi ini membuat tulang kehilangan kepadatannya, mudah retak, dan meningkatkan risiko patah tulang, bahkan akibat benturan ringan. Dampaknya bukan hanya nyeri atau keterbatasan gerak, tetapi juga penurunan kualitas hidup dan peningkatan risiko kematian akibat komplikasi. Di Indonesia, kasus osteoporosis kerap terlambat terdeteksi dan terapi yang dijalani pasien sering kali hanya berfokus pada obat, tanpa dukungan rehabilitasi fisik yang memadai.
Melalui artikel berjudul Effectiveness of Physiotherapy and Pharmacological Therapy in Patients with Osteoporosis: A Systematic Review, Syahirah dan Ismedsyah menelaah kembali bukti-bukti ilmiah yang ada untuk menjawab pertanyaan penting: terapi mana yang paling efektif, dan apakah kombinasi terapi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan terapi tunggal.
Menyaring Bukti dari Riset Global
Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic review, yakni menelaah hasil penelitian terdahulu yang relevan dan kredibel. Para peneliti menelusuri basis data ilmiah internasional seperti PubMed, Scopus, dan Cochrane Library. Dari ratusan artikel yang tersedia, mereka menyaring dan memilih 15 studi berbahasa Inggris dengan desain penelitian yang dinilai valid.
Secara sederhana, peneliti membandingkan dampak tiga pendekatan: fisioterapi saja, terapi obat saja, dan kombinasi keduanya. Fokusnya adalah pada indikator klinis yang paling menentukan keselamatan pasien osteoporosis, seperti kepadatan tulang, kekuatan otot, keseimbangan tubuh, dan risiko jatuh atau patah tulang.
Fisioterapi: Menguatkan Otot dan Menjaga Keseimbangan
Hasil kajian menunjukkan bahwa fisioterapi memiliki peran penting yang sering diremehkan. Latihan kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan terbukti mampu meningkatkan kekuatan otot serta kontrol postur tubuh pasien osteoporosis. Latihan ini membantu pasien bergerak lebih stabil dan mengurangi risiko jatuh, yang merupakan penyebab utama patah tulang pada lansia.
Fisioterapi juga membantu meningkatkan kesadaran posisi tubuh dan koordinasi gerak. Dalam jangka panjang, latihan yang terstruktur dapat memperbaiki keseimbangan, memperkuat otot penopang tulang, dan mendukung aktivitas harian pasien agar tetap mandiri.
Terapi Obat: Meningkatkan Kepadatan Tulang
Di sisi lain, terapi farmakologis tetap menjadi fondasi utama penanganan osteoporosis. Obat-obatan seperti bisfosfonat, kalsium, vitamin D, denosumab, dan teriparatide bekerja langsung pada metabolisme tulang. Obat ini menekan proses pengeroposan tulang dan, dalam beberapa kasus, merangsang pembentukan tulang baru.
Kajian ini menegaskan bahwa terapi obat efektif meningkatkan kepadatan tulang dan menurunkan risiko patah tulang, terutama pada pasien dengan skor densitas tulang yang sudah sangat rendah. Namun, terapi obat saja tidak cukup untuk mengatasi masalah keseimbangan dan kelemahan otot yang sering menyertai osteoporosis.
Kombinasi Terapi Memberi Hasil Terbaik
Temuan paling penting dari kajian ini adalah keunggulan pendekatan kombinasi. Pasien yang menjalani fisioterapi sekaligus terapi obat menunjukkan perbaikan yang lebih menyeluruh dibandingkan mereka yang hanya menerima satu jenis terapi.
“Kombinasi fisioterapi dan farmakologi lebih efektif dalam meningkatkan kepadatan tulang, kekuatan otot, dan keseimbangan tubuh dibandingkan terapi tunggal,” tulis Syahirah dan Ismedsyah dalam kesimpulan artikelnya. Dengan kata lain, obat memperkuat tulang dari dalam, sementara fisioterapi menjaga tubuh tetap stabil dan fungsional.
Pendekatan ini tidak hanya menurunkan risiko patah tulang, tetapi juga membantu pasien mempertahankan kualitas hidup, kemandirian, dan rasa percaya diri dalam beraktivitas sehari-hari.
Implikasi bagi Layanan Kesehatan
Hasil penelitian ini memiliki dampak luas bagi dunia kesehatan, terutama dalam perumusan layanan terpadu bagi lansia. Rumah sakit, klinik, dan pusat rehabilitasi didorong untuk tidak memisahkan pengobatan dan fisioterapi sebagai dua layanan yang berdiri sendiri.
Bagi pembuat kebijakan, temuan ini menguatkan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam program pencegahan dan penanganan osteoporosis. Edukasi masyarakat juga perlu diperluas agar pasien memahami bahwa olahraga terarah dan terapi fisik sama pentingnya dengan konsumsi obat.
Profil Penulis
Keduanya aktif meneliti pendekatan berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis, khususnya gangguan sistem gerak.

0 Komentar