Ketahanan Metakognitif Mahasiswa Perkuat Adaptasi Belajar dan Integritas Akademik Pascapandemi

 

Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS - Banten - Perubahan besar dalam sistem pendidikan tinggi setelah pandemi COVID-19 mendorong mahasiswa untuk tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga tangguh secara reflektif dan etis. Hal ini ditegaskan dalam riset terbaru yang ditulis oleh Teti Berliani dari Universitas Palangkaraya, bersama Pierre Marcello Lopulalan dan Rabbani Ischak dari Politeknik Pelayaran Banten, serta Rachmat Efendi dari Universitas Islam Depok. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di Asian Journal of Applied Education ini menunjukkan bahwa ketahanan metakognitif berperan penting dalam meningkatkan kemampuan adaptasi belajar mahasiswa sekaligus menjaga integritas akademik di era pembelajaran digital pascapandemi.

Riset yang dilakukan di Provinsi Banten ini menjadi relevan karena perguruan tinggi Indonesia kini berada di tengah transisi menuju sistem pembelajaran hibrida. Mahasiswa dituntut untuk mandiri, mampu menyesuaikan strategi belajar, dan tetap menjunjung kejujuran akademik di tengah minimnya pengawasan langsung. Temuan penelitian ini penting karena menawarkan jawaban atas tantangan tersebut dari sisi psikologis dan kognitif mahasiswa, bukan semata dari kebijakan institusi.

Tantangan Pembelajaran Pascapandemi

Setelah pandemi, pembelajaran tatap muka tidak sepenuhnya kembali seperti sebelumnya. Model hibrida—perpaduan daring dan luring—menjadi norma baru. Di satu sisi, teknologi memberi fleksibilitas. Namun di sisi lain, mahasiswa menghadapi tekanan baru: tuntutan adaptasi cepat, beban tugas digital, serta godaan pelanggaran akademik seperti plagiarisme dan kecurangan ujian daring.

Dalam konteks ini, ketahanan metakognitif menjadi kunci. Konsep ini merujuk pada kemampuan individu untuk menyadari cara berpikirnya sendiri, mengevaluasi strategi belajar, lalu menyesuaikannya ketika menghadapi kesulitan. Mahasiswa dengan ketahanan metakognitif yang baik cenderung lebih reflektif, tidak mudah menyerah, dan mampu menjaga konsistensi etika akademik meski berada di lingkungan belajar yang serba digital.

Cara Penelitian Dilakukan

Tim peneliti menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan survei kuantitatif dan wawancara mendalam. Sebanyak 60 mahasiswa yang telah menjalani pembelajaran hibrida dipilih secara purposif sebagai responden survei. Untuk memperdalam temuan, enam mahasiswa diwawancarai secara mendalam mengenai pengalaman mereka beradaptasi dan menjaga kejujuran akademik selama pembelajaran daring dan hibrida.

Data survei dianalisis secara deskriptif dan korelasional, sementara data wawancara diolah secara tematik. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat tidak hanya angka, tetapi juga cerita dan refleksi mahasiswa di balik angka-angka tersebut.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang cukup optimistis.

Pertama, tingkat ketahanan metakognitif mahasiswa tergolong tinggi, dengan skor rata-rata 4,21 dari skala 1–5. Mahasiswa menunjukkan kesadaran yang baik terhadap proses berpikir, mampu mengatur strategi belajar, dan terbiasa merefleksikan hasil belajarnya.

Kedua, terdapat hubungan kuat antara ketahanan metakognitif dan kemampuan adaptasi belajar, dengan koefisien korelasi 0,68. Artinya, semakin reflektif seorang mahasiswa, semakin mudah ia menyesuaikan diri dengan perubahan metode belajar, platform digital, dan tuntutan akademik baru.

Ketiga, ketahanan metakognitif juga berpengaruh signifikan terhadap integritas akademik. Analisis regresi menunjukkan nilai pengaruh sebesar β = 0,51, yang menandakan bahwa mahasiswa dengan kesadaran reflektif tinggi cenderung lebih jujur dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas maupun ujian.

Wawancara memperkuat temuan ini. Sejumlah mahasiswa mengungkapkan bahwa kejujuran akademik bukan sekadar takut melanggar aturan, tetapi bagian dari kesadaran diri sebagai pembelajar. Mereka memilih mengerjakan tugas sendiri karena memahami makna belajar, bukan semata mengejar nilai.

Dampak bagi Pendidikan Tinggi

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa adaptasi belajar dan integritas akademik tidak cukup dibangun melalui teknologi dan pengawasan, tetapi perlu ditopang oleh kemampuan refleksi dan pengendalian diri mahasiswa.

Bagi perguruan tinggi, hasil ini dapat menjadi dasar untuk merancang kurikulum yang lebih menekankan latihan reflektif, seperti jurnal belajar, portofolio proses, dan evaluasi diri. Pendekatan ini tidak hanya membantu mahasiswa beradaptasi, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran sebagai bagian dari identitas akademik.

Bagi pembuat kebijakan pendidikan, riset ini menunjukkan pentingnya mengintegrasikan literasi metakognitif dan etika akademik dalam strategi transformasi digital pendidikan. Di tengah maraknya penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan, penguatan kesadaran berpikir dan nilai moral menjadi semakin krusial.

Kontribusi Ilmiah dan Sosial

Secara ilmiah, penelitian ini memperluas pemahaman tentang pembelajaran adaptif dengan menempatkan ketahanan metakognitif sebagai penghubung antara fleksibilitas belajar dan perilaku etis. Secara sosial, temuan ini relevan bagi masyarakat luas karena menunjukkan bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kecakapan teknis, tetapi juga oleh kedewasaan berpikir dan integritas.

Seperti ditegaskan oleh Teti Berliani dari Universitas Palangkaraya, penguatan refleksi diri dan kesadaran berpikir adalah fondasi penting untuk membangun ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan dan berintegritas di era digital.

Profil Singkat Penulis

Teti Berliani, M.Pd. adalah dosen Universitas Palangkaraya dengan keahlian di bidang pendidikan dan pengembangan pembelajaran reflektif. Pierre Marcello Lopulalan, M.Pd. dan Rabbani Ischak, M.Pd. merupakan dosen di Politeknik Pelayaran Banten dengan fokus pada pembelajaran adaptif dan pengembangan karakter mahasiswa. Rachmat Efendi, M.Pd. adalah akademisi Universitas Islam Depok yang menekuni bidang pendidikan dan etika akademik.

Sumber Penelitian

Berliani, T., Lopulalan, P. M., Ischak, R., & Efendi, R. (2026). Cultivating Metacognitive Resilience for Adaptive Learning and Academic Integrity in Post-Pandemic Higher Education. Asian Journal of Applied Education, Vol. 5 No. 1, 51–64.

DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.15846

URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae

Posting Komentar

0 Komentar