Dalam artikel berjudul The Role of Catechetics in Countering the Spread of Agnosticism in the Information Age, John Ronaldo, Yanto Paulus Hermanto, Andrew Jordan, Fajar Sentosa Pradika, dan Karolin Ferdianto mengkaji bagaimana kemudahan akses informasi, media sosial, serta banjir konten digital memengaruhi cara jemaat memaknai iman dan keberadaan Tuhan. Penelitian ini penting karena fenomena agnostisisme tidak lagi bersifat marginal, tetapi mulai merambah komunitas religius, terutama generasi muda yang akrab dengan teknologi digital.
Tantangan Iman di Tengah Banjir Informasi
Era informasi telah mengubah cara manusia berinteraksi, belajar, dan membentuk pandangan hidup. Data penggunaan media sosial di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di depan gawai, dengan platform seperti YouTube, Instagram, WhatsApp, dan TikTok mendominasi konsumsi informasi. Kondisi ini, menurut para peneliti, membawa konsekuensi serius terhadap literasi digital dan kehidupan beriman.
Minimnya kemampuan menyaring informasi membuat masyarakat mudah terpapar hoaks, termasuk hoaks keagamaan. Lebih jauh, konten digital yang bersifat sekuler, skeptis, atau relativistik dinilai berpotensi mengikis nilai-nilai kekristenan dan menumbuhkan sikap acuh terhadap dimensi spiritual. Situasi global seperti konflik geopolitik dan krisis ekonomi juga memperkuat pertanyaan eksistensial tentang peran Tuhan di tengah penderitaan manusia.
“Di tengah arus informasi yang tidak terbendung, gereja menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan dan mampu menjawab kegelisahan iman jemaat,” tulis John Ronaldo dan tim dalam artikelnya.
Memahami Agnostisisme di Era Digital
Agnostisisme dipahami sebagai sikap yang mengakui kemungkinan adanya Tuhan, tetapi meragukan atau menolak klaim agama tentang kepastian pengetahuan ilahi. Dalam konteks era informasi, agnostisisme berkembang seiring meningkatnya rasionalisme, dominasi sains, dan budaya digital yang menempatkan logika personal di atas otoritas religius.
Penelitian ini menjelaskan bahwa individu agnostik cenderung kurang tertarik pada praktik ibadah dan pengalaman spiritual, serta lebih fokus pada kebutuhan pribadi yang dianggap rasional. Fenomena seperti echo chamber di media sosial—di mana algoritma hanya menampilkan informasi yang sejalan dengan pandangan pengguna—memperkuat sikap selektif dalam beriman. Sekularisasi digital juga mendorong tersingkirnya perspektif religius dari ruang publik maya.
Dampaknya terlihat dalam munculnya kelompok Spiritual but Not Religious (SBNR) dan sikap indiferentisme beragama, yaitu ketidakpedulian terhadap perbedaan dan ajaran agama. Jika dibiarkan, kecenderungan ini dapat bermuara pada ateisme praktis, di mana individu tetap beridentitas religius tetapi tidak lagi menjalani kehidupan iman secara nyata.
Metodologi: Menelaah Literatur dan Gagasan Kunci
Untuk memahami fenomena tersebut, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur. Berbagai jurnal ilmiah, buku, dan sumber tepercaya dikaji untuk memetakan karakteristik agnostisisme, pengaruhnya terhadap masyarakat, serta peran kateketika dalam konteks era informasi.
Pendekatan ini memungkinkan penulis merangkum gagasan-gagasan kunci dari para pemikir teologi, filsafat, dan studi sosial, lalu mengaitkannya dengan tantangan nyata yang dihadapi gereja masa kini.
Kateketika sebagai Strategi Penangkal
Hasil kajian menunjukkan bahwa kateketika memiliki peran strategis dalam menangkal pengaruh agnostisisme melalui tiga fungsi utama: apologetik, penggembalaan, dan pedagogik.
- Peran apologetic Kateketika membekali jemaat dengan pemahaman iman yang rasional dan alkitabiah, sehingga mampu menjawab keraguan serta kritik terhadapisonan terhadap iman Kristen. Pendidikan iman yang baik membantu umat tidak mudah goyah oleh argumen populer yang meremehkan agama.
- Peran penggembalaan Dalam konteks krisis iman, kateketika berfungsi sebagai pendampingan pastoral. Gereja diharapkan hadir secara empatik, membuka ruang dialog, dan memberikan jawaban yang logis serta relevan terhadap pertanyaan jemaat, khususnya generasi muda yang kritis.
- Peran pedagogic Kateketika juga berperan membentuk wawasan dunia yang Kristosentris. Melalui pembelajaran berbasis komunitas dan kelompok kecil, jemaat diajak mengintegrasikan iman dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus saling menguatkan dalam menghadapi pengaruh negatif budaya digital.
Menurut John Ronaldo dari Sekolah Tinggi Teologi Kharisma, pendekatan kateketika yang kontekstual dan dialogis menjadi kunci agar gereja tidak tertinggal oleh perubahan zaman. “Pengajaran iman tidak cukup bersifat informatif, tetapi harus transformatif,” tulisnya.
Implikasi bagi Gereja dan Masyarakat
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan teologi, pelayanan gereja, dan pembinaan generasi muda. Gereja dituntut untuk lebih adaptif memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi iman, tanpa kehilangan kedalaman spiritual. Bagi masyarakat, penguatan literasi digital dan keagamaan menjadi penting agar individu mampu bersikap kritis terhadap informasi sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai iman.
Penelitian ini juga relevan bagi pembuat kebijakan dan pendidik, terutama dalam merancang program pendidikan karakter dan keagamaan yang selaras dengan tantangan era informasi.
Profil Singkat Penulis
· John Ronaldo, M.Th. – Dosen dan peneliti di Sekolah Tinggi Teologi Kharisma, Bandung. Bidang keahlian: kateketika dan teologi praktis.
· Yanto Paulus Hermanto, M.Th. – Akademisi di Sekolah Tinggi Teologi Kharisma, fokus pada teologi pastoral dan pendidikan iman.
· Andrew Jordan, M.Th. – Peneliti teologi dengan minat pada isu iman dan budaya digital.
· Fajar Sentosa Pradika, M.Th. – Dosen teologi praktis, menaruh perhatian pada pelayanan gereja di era modern.
· Karolin Ferdianto, M.Th. – Akademisi yang menekuni studi pendidikan Kristen dan pembinaan jemaat.
Sumber Penelitian
Ronaldo,
John., Hermanto, Yanto Paulus., Jordan, Andrew., Pradika, Fajar Sentosa., &
Ferdianto, Karolin. The Role of Catechetics in Countering the Spread of
Agnosticism in the Information Age. Jurnal Sosial, Politik dan Budaya
(SOSPOLBUD), Vol. 5, No. 1, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/sospolbud.v5i1.15975

0 Komentar