Batam- Sebuah kasus legionellosis yang terkonfirmasi secara molekuler di Indonesia mengungkap adanya kontaminasi bakteri Legionella pada sistem air di fasilitas kesehatan dan lingkungan rumah pasien. Temuan ini dilaporkan oleh Darmawali Handoko bersama tim peneliti dari National Health Biology Laboratory dan Public Health Laboratory Batam, dan dipublikasikan pada 2026 dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research. Kasus ini penting karena menunjukkan bahwa risiko penularan penyakit akibat air tidak hanya berasal dari rumah sakit, tetapi juga dari sistem air rumah tangga.
Legionellosis merupakan infeksi saluran pernapasan berat yang disebabkan oleh bakteri Legionella pneumophila. Penyakit ini menular melalui hirupan aerosol air yang terkontaminasi, bukan melalui kontak antar manusia. Di Indonesia, penyakit ini masih jarang terdiagnosis, sehingga laporan kasus dengan investigasi lingkungan seperti ini menjadi rujukan penting bagi tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan.
Ancaman Tersembunyi di Balik Sistem Air
Bakteri Legionella hidup dan berkembang di lingkungan air hangat, terutama pada sistem perpipaan, biofilm, dan perangkat yang menghasilkan uap atau aerosol. Fasilitas kesehatan dinilai sebagai lingkungan berisiko tinggi karena memiliki jaringan air yang kompleks serta banyak alat medis berbasis air, seperti humidifier oksigen dan nebulizer.
Namun, temuan penelitian ini menegaskan bahwa rumah tinggal juga dapat menjadi sumber paparan. Pendingin ruangan, dispenser air, teko pemanas, kran, hingga botol minum bayi terbukti dapat menjadi reservoir Legionella apabila tidak dibersihkan dan dirawat secara rutin. Kondisi iklim tropis Indonesia semakin mendukung kelangsungan hidup bakteri ini.
Metode Penelusuran Klinis dan Lingkungan
Tim peneliti melakukan konfirmasi klinis menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) terhadap spesimen saluran pernapasan pasien. Dari 12 spesimen klinis, sebanyak 7 spesimen dinyatakan positif Legionella pneumophila, memastikan diagnosis legionellosis.
Selain pemeriksaan klinis, dilakukan investigasi lingkungan dengan mengambil 15 sampel usap dari berbagai sumber air dan perangkat penghasil aerosol, baik di rumah sakit maupun di rumah pasien. Sampel tersebut diperiksa menggunakan PCR untuk mendeteksi Legionella sp. dan L. pneumophila.
Temuan Utama Penelitian
Hasil investigasi menunjukkan pola yang signifikan dan perlu mendapat perhatian serius:
- Legionella pneumophila terdeteksi pada spesimen klinis pasien
- Legionella sp. ditemukan pada 10 dari 15 sampel lingkungan
- Kontaminasi terjadi di dua lokasi sekaligus, yaitu rumah sakit dan rumah pasien
- Semua sampel lingkungan negatif untuk L. pneumophila, namun positif untuk Legionella tingkat genus
Kontaminasi lingkungan di rumah pasien ditemukan pada AC, dispenser air, teko air panas, kran, termos, dan botol susu. Di rumah sakit, bakteri terdeteksi pada kran air, dispenser, dan alat humidifier oksigen.
Mengapa Bakteri Tidak Selalu Terdeteksi Sama?
Perbedaan antara hasil klinis dan lingkungan ini dinilai wajar secara ilmiah. Pemeriksaan PCR tingkat genus (Legionella sp.) memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan PCR spesifik L. pneumophila. Dalam sistem air, bakteri sering berada dalam jumlah rendah atau dalam kondisi tidak aktif secara kultur, tetapi tetap berpotensi menular.
Menurut para penulis, keberadaan Legionella sp. di lingkungan tetap menandakan risiko kesehatan masyarakat. “Hasil negatif L. pneumophila di lingkungan tidak berarti tidak ada paparan,” tulis tim peneliti dari National Health Biology Laboratory, karena bakteri dapat berada dalam biofilm dan sulit terdeteksi secara spesifik.
Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat
Kasus ini memperkuat bukti bahwa legionellosis di Indonesia kemungkinan kurang terdeteksi, bukan jarang terjadi. Paparan ganda dari rumah sakit dan rumah tinggal meningkatkan risiko infeksi, terutama pada bayi, lansia, dan pasien dengan daya tahan tubuh rendah.
Bagi fasilitas kesehatan, penelitian ini menegaskan pentingnya program manajemen air, termasuk pemantauan suhu, disinfeksi berkala, dan pemeriksaan mikrobiologi rutin. Sementara bagi masyarakat, perawatan alat berbasis air di rumah menjadi langkah pencegahan sederhana namun krusial.
Regulasi nasional seperti Permenkes No. 2 Tahun 2023 tentang Kesehatan Lingkungan dan UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023 sudah mengamanatkan pengendalian risiko biologis pada sistem air. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih perlu diperkuat.
Relevansi di Era Perubahan Iklim dan Urbanisasi
Perubahan iklim, urbanisasi, dan peningkatan penggunaan perangkat berbasis air memperbesar peluang berkembangnya Legionella. Negara tropis seperti Indonesia menghadapi tantangan tambahan karena suhu lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri sepanjang tahun.
Penelitian ini menempatkan legionellosis sebagai isu kesehatan yang relevan dan mendesak, bukan hanya bagi rumah sakit besar, tetapi juga bagi rumah tangga perkotaan.
Profil Singkat Penulis
Darmawali Handoko

0 Komentar