Surabaya- Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir ternyata lebih banyak digerakkan oleh investasi riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) dibandingkan oleh pesatnya transaksi e-commerce dan peningkatan jumlah pengguna internet. Temuan ini diungkap oleh Keefie Rahino Herdana bersama Riko Setya Wijaya dan Putra Perdana dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, dalam riset yang dipublikasikan pada 2026.
Penelitian tersebut menganalisis hubungan antara investasi R&D, nilai transaksi e-commerce, serta infrastruktur digital terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode 2015–2024. Hasilnya menunjukkan kontras yang menarik: investasi R&D berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara transaksi e-commerce dan infrastruktur digital justru memiliki pengaruh negatif yang signifikan.
Temuan ini menjadi penting di tengah optimisme besar terhadap ekonomi digital Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah dan pelaku usaha mendorong digitalisasi sebagai motor pertumbuhan baru. Namun, riset ini menunjukkan bahwa transformasi digital belum otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat jika tidak diiringi kesiapan sektor produksi, sumber daya manusia, dan kebijakan pendukung.
Pertumbuhan digital belum selalu berarti pertumbuhan ekonomi
Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil sepanjang satu dekade terakhir, kecuali penurunan tajam pada 2020 akibat pandemi COVID-19. Dalam periode yang sama, ekonomi digital berkembang pesat, ditandai oleh meningkatnya belanja R&D, lonjakan transaksi e-commerce, serta perluasan akses internet di berbagai wilayah.
Namun, menurut para peneliti, pertumbuhan digital tersebut menyimpan tantangan struktural. Masalah infrastruktur yang belum merata, kualitas internet yang timpang, serta rendahnya literasi digital dan keamanan siber membuat manfaat ekonomi digital belum sepenuhnya dirasakan oleh perekonomian nasional.
“Pertumbuhan ekonomi digital perlu didukung oleh ekosistem yang matang, bukan sekadar peningkatan jumlah pengguna atau nilai transaksi,” tulis Herdana dan tim dalam artikelnya.
Metode sederhana, data resmi nasional dan global
Riset ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data runtut waktu (time series) selama sepuluh tahun, dari 2015 hingga 2024. Data diperoleh dari sumber resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS), World Bank, dan Statista.
Pertumbuhan ekonomi diukur melalui laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil. Sementara itu, investasi R&D diwakili oleh belanja R&D sebagai persentase PDB, transaksi e-commerce diukur dari nilai total transaksi, dan infrastruktur digital diproksi melalui tingkat penetrasi internet.
Dengan analisis regresi linier berganda, para peneliti menguji pengaruh masing-masing variabel secara parsial maupun simultan. Model yang digunakan mampu menjelaskan lebih dari 90 persen variasi pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode penelitian, menunjukkan kekuatan penjelasan yang sangat tinggi.
R&D terbukti menjadi motor pertumbuhan ekonomi
Hasil analisis menunjukkan bahwa investasi R&D memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Setiap peningkatan investasi R&D berkorelasi dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa inovasi dan pengembangan teknologi merupakan fondasi utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Investasi R&D mendorong peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, serta daya saing industri nasional.
Menurut Herdana, investasi R&D tidak hanya berdampak pada perusahaan atau sektor tertentu, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian secara keseluruhan. Inovasi yang dihasilkan dari R&D memungkinkan munculnya produk baru, proses produksi yang lebih efisien, serta nilai tambah yang lebih tinggi.
Hasil ini juga sejalan dengan teori pertumbuhan ekonomi endogen yang menempatkan inovasi dan pengetahuan sebagai faktor kunci pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
E-commerce dan internet belum memberi dampak optimal
Berbeda dengan R&D, transaksi e-commerce justru menunjukkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Setiap kenaikan nilai transaksi e-commerce berkorelasi dengan penurunan laju pertumbuhan ekonomi, meskipun dalam skala kecil.
Temuan serupa juga muncul pada variabel infrastruktur digital. Peningkatan jumlah pengguna internet tidak serta-merta meningkatkan pertumbuhan ekonomi, bahkan menunjukkan hubungan negatif secara statistik.
Para peneliti menilai kondisi ini sebagai indikasi bahwa ekonomi digital Indonesia masih menghadapi “paradoks produktivitas digital”. Meskipun aktivitas digital meningkat, kontribusinya terhadap nilai tambah domestik belum optimal.
Salah satu penyebab utamanya adalah ketidaksiapan sektor produksi lokal. Banyak transaksi e-commerce masih bergantung pada produk impor atau tidak menciptakan rantai nilai domestik yang kuat. Selain itu, peningkatan konsumsi digital belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kapasitas produksi, kualitas tenaga kerja, dan adopsi teknologi di sektor industri.
Implikasi bagi kebijakan ekonomi nasional
Temuan ini membawa implikasi penting bagi arah kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia. Fokus pada pembangunan digital perlu diimbangi dengan penguatan kualitas, bukan hanya kuantitas.
Para peneliti merekomendasikan agar pemerintah meningkatkan investasi R&D melalui belanja publik, insentif pajak, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. R&D dinilai sebagai instrumen paling konsisten dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Di sisi lain, pengembangan e-commerce perlu diarahkan untuk memperkuat pelaku usaha domestik, meningkatkan literasi digital, dan mendorong penggunaan produk lokal. Infrastruktur digital juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesiapan industri agar benar-benar menjadi penggerak ekonomi.
Tanpa strategi yang terintegrasi, pertumbuhan ekonomi digital berisiko hanya meningkatkan konsumsi tanpa menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian nasional.

0 Komentar