Transformasi digital layanan kesehatan di Indonesia terus berjalan, namun implementasinya di tingkat layanan dasar masih menghadapi sejumlah kendala. Hal ini tergambar dalam riset terbaru yang dilakukan Saprudin bersama tim peneliti dari Universitas Djuanda mengenai penerapan Rekam Medis Elektronik (Electronic Medical Records/EMR) di Puskesmas Kabupaten Sukabumi. Studi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) ini menunjukkan bahwa EMR sudah membantu integrasi layanan kesehatan primer, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
Riset ini ditulis oleh Saprudin, Sitti Hartini, Hani Sadiah, Muhammad Yusuf Suferi, Jon Yuweldri Putra, Rossa Purbo Bekti, Restu Apriyana, dan Ujang Sunandar, seluruhnya berasal dari Universitas Djuanda, Bogor. Temuan mereka penting karena Puskesmas merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, sekaligus tulang punggung kebijakan kesehatan nasional berbasis data.
Digitalisasi Sudah Jalan, Tapi Masih Parsial
Di Sukabumi, EMR telah digunakan di berbagai Puskesmas untuk mencatat data pasien secara digital. Sistem ini menggantikan pencatatan manual yang selama bertahun-tahun menjadi sumber masalah, mulai dari data hilang hingga lambatnya pelayanan. Namun, dalam praktiknya, penggunaan EMR belum merata di semua unit layanan.
Beberapa poli dan unit pendukung, seperti farmasi dan laboratorium, belum sepenuhnya terhubung dalam satu sistem. Akibatnya, alur data pasien masih terputus-putus dan belum sepenuhnya mendukung layanan yang terintegrasi dari pendaftaran hingga tindak lanjut medis.
Para peneliti mencatat bahwa kondisi ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Keterbatasan infrastruktur digital, seperti jaringan internet yang tidak stabil dan jumlah komputer yang terbatas, menjadi penghambat utama. Selain itu, kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem digital juga belum merata.
Data Lebih Cepat, Analisis Masih Terbatas
Meski belum optimal, manfaat EMR sudah dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pencatatan menjadi lebih cepat dan risiko kesalahan data berkurang. Riwayat kunjungan pasien dapat diakses dengan lebih mudah, sehingga membantu dokter dan perawat dalam memberikan layanan lanjutan.
Dari sisi integrasi nasional, data EMR Puskesmas Sukabumi telah terhubung dengan platform SATUSEHAT milik Kementerian Kesehatan. Rata-rata tingkat pengiriman data mencapai 74,13 persen selama periode pemantauan pada 2025. Angka ini menunjukkan bahwa integrasi berjalan cukup baik, meski masih fluktuatif dan belum konsisten.
Masalah muncul ketika data yang sudah terkumpul belum dimanfaatkan secara maksimal untuk analisis kesehatan masyarakat. EMR masih lebih banyak berfungsi sebagai alat pencatat, belum sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis bukti, seperti pemetaan penyakit atau perencanaan program kesehatan.
Tantangan Geografis dan Kesenjangan Digital
Kabupaten Sukabumi memiliki wilayah yang luas dengan kondisi geografis yang beragam. Perbedaan akses internet dan kesiapan fasilitas antar-Puskesmas menciptakan kesenjangan dalam pemanfaatan EMR. Di beberapa wilayah, digitalisasi justru berisiko menambah ketimpangan layanan jika tidak disertai dukungan infrastruktur dan literasi digital yang memadai.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya perubahan budaya kerja. Transisi dari sistem manual ke digital membutuhkan adaptasi, pelatihan berkelanjutan, dan kepemimpinan yang kuat di tingkat Puskesmas. Tanpa itu, resistensi terhadap teknologi baru sulit dihindari.
Rekomendasi untuk Pemerintah Daerah
Berdasarkan temuan lapangan, tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah strategis. Di tingkat Puskesmas, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan rutin menjadi kebutuhan mendesak. Standar operasional prosedur penggunaan EMR juga perlu diseragamkan agar kualitas data lebih konsisten.
Sementara itu, pemerintah daerah didorong untuk memberikan dukungan lintas sektor. Penyediaan anggaran khusus untuk infrastruktur digital, peningkatan kualitas jaringan internet, serta pendampingan teknis menjadi kunci keberlanjutan EMR. Integrasi dengan SATUSEHAT juga perlu diperkuat agar data kesehatan daerah dapat dimanfaatkan secara nasional.
Menurut Saprudin, EMR seharusnya tidak berhenti sebagai alat administrasi. “Data digital harus menjadi dasar pengambilan keputusan layanan kesehatan yang lebih tepat sasaran,” tulisnya dalam laporan penelitian tersebut.
Dampak bagi Layanan Kesehatan Masyarakat
Jika diterapkan secara konsisten dan inklusif, EMR berpotensi meningkatkan efisiensi Puskesmas, mempercepat pelayanan, dan memperkuat sistem rujukan. Dalam jangka panjang, data yang terintegrasi dapat membantu pemerintah merancang kebijakan kesehatan yang lebih akurat dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Namun, tanpa investasi serius pada infrastruktur dan sumber daya manusia, digitalisasi berisiko hanya menjadi formalitas. Temuan dari Sukabumi ini menjadi cerminan tantangan yang juga dihadapi banyak daerah lain di Indonesia.
Profil Singkat Penulis
Saprudin, S.KM., M.KM. adalah dosen Universitas Djuanda dengan keahlian di bidang kebijakan dan manajemen kesehatan. Ia bersama tim peneliti lintas disiplin di Universitas Djuanda aktif mengkaji transformasi digital layanan kesehatan, khususnya di tingkat pelayanan primer.
Sumber Penelitian
Saprudin et al. (2026). Implementation of E-Health Innovations in Primary Health Care Services in Sukabumi Regency.
International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 1.
DOI: 10.59890/ijarss.v4i1.175
URL: https://jpnmultitechpublisher.my.id/index.php/ijarss/index

0 Komentar