Faktor Penentu Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Bank Syariah di Indonesia




Gambar Dibuat Oleh AI

FORMOSA NEWS - Pengungkapan tanggung jawab sosial bank syariah di Indonesia masih belum optimal dan sangat dipengaruhi oleh faktor keuangan serta tata kelola internal. Kesimpulan ini disampaikan oleh Risty Nandaditya bersama tim peneliti dari Universitas Tanjungpura melalui kajian literatur sistematis yang menganalisis tren Islamic Social Reporting (ISR) selama lima tahun terakhir. Kajian tersebut mencakup publikasi ilmiah periode 2020–2025 dan menyoroti pentingnya ISR dalam memperkuat transparansi serta akuntabilitas perbankan syariah di Indonesia.


Hasil kajian ini penting karena ISR bukan sekadar laporan tambahan, melainkan cerminan komitmen bank syariah terhadap nilai-nilai Islam, tanggung jawab sosial, dan kepercayaan publik. Di tengah pertumbuhan industri perbankan syariah nasional, praktik pelaporan sosial yang belum seragam dinilai berpotensi melemahkan legitimasi lembaga keuangan syariah di mata masyarakat dan investor.

 

Pelaporan Sosial Masih Bersifat Sukarela

Bank syariah di Indonesia hingga kini belum memiliki standar pelaporan ISR yang bersifat wajib. Kondisi tersebut membuat kualitas dan kelengkapan laporan sosial sangat bervariasi antarbank. Sebagian bank menyampaikan informasi sosial secara rinci, sementara yang lain hanya mengungkapkan secara terbatas.


Menurut para penulis, lemahnya regulasi menjadi salah satu penyebab utama rendahnya tingkat pengungkapan ISR. Tanpa pedoman baku, pelaporan sosial bergantung pada kebijakan internal dan kesadaran manajemen masing-masing bank. Akibatnya, laporan ISR sulit dibandingkan dan tidak selalu mencerminkan kinerja sosial yang sebenarnya.


Kajian atas Puluhan Artikel Ilmiah

Kajian ini merangkum 35 artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal nasional sepanjang 2020–2025. Seluruh artikel membahas faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan ISR pada bank syariah. Peneliti menelusuri pola temuan, variabel dominan, serta perbedaan hasil antar penelitian.


Pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang arah riset ISR di Indonesia. Dengan mengumpulkan dan membandingkan berbagai hasil penelitian, kajian ini menunjukkan tren umum sekaligus celah yang masih belum banyak dikaji oleh peneliti sebelumnya.


Faktor Keuangan Masih Dominan

Hasil kajian menunjukkan bahwa profitabilitasukuran perusahaan, dan leverage merupakan faktor yang paling sering dikaitkan dengan tingkat pengungkapan ISR. Bank syariah dengan aset besar dan kinerja keuangan yang kuat cenderung lebih terbuka dalam menyampaikan laporan sosial.


Ukuran perusahaan menjadi faktor paling konsisten. Bank berskala besar dinilai memiliki sumber daya yang lebih memadai untuk menyusun laporan sosial yang komprehensif. Selain itu, bank besar juga menghadapi tekanan publik yang lebih tinggi untuk menunjukkan tanggung jawab sosialnya.


Namun, temuan terkait profitabilitas dan leverage tidak selalu seragam. Sejumlah penelitian menemukan pengaruh positif, sementara penelitian lain menunjukkan tidak ada hubungan signifikan. Perbedaan ini mencerminkan belum matangnya praktik ISR di Indonesia serta perbedaan pendekatan pengukuran antarpenelitian.


Peran Tata Kelola Syariah

Selain faktor keuangan, kajian ini menegaskan pentingnya tata kelola syariah dalam mendorong pengungkapan ISR. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS), ukuran dewan komisaris, serta kualitas sharia governance terbukti berkontribusi terhadap keterbukaan laporan sosial.


Bank dengan struktur pengawasan syariah yang kuat cenderung lebih konsisten dalam melaporkan aktivitas sosial, kepatuhan syariah, serta kontribusi terhadap masyarakat. Tata kelola yang baik dinilai mampu menekan praktik simbolik dan mendorong pelaporan yang lebih substantif.


Risty Nandaditya menegaskan bahwa ISR seharusnya menjadi bagian dari identitas bank syariah. “Pengungkapan sosial bukan hanya soal citra perusahaan, tetapi juga wujud pertanggungjawaban moral dan spiritual,” tulisnya dalam artikel tersebut.


Dampak terhadap Reputasi dan Kepercayaan Publik

Kajian ini juga mencatat bahwa pengungkapan ISR yang baik berdampak positif terhadap reputasi dan nilai perusahaan. Bank syariah yang aktif menyampaikan laporan sosial dinilai lebih kredibel oleh investor, nasabah, dan pemangku kepentingan lainnya.


Transparansi sosial membantu bank membangun kepercayaan jangka panjang. Di tengah persaingan industri keuangan, reputasi berbasis nilai etika dan sosial menjadi keunggulan strategis yang tidak mudah ditiru.


Sebaliknya, minimnya pelaporan sosial berisiko menimbulkan persepsi negatif, terutama di kalangan masyarakat yang menaruh harapan tinggi pada prinsip keadilan dan keberlanjutan dalam sistem keuangan syariah.


Dorongan bagi Regulator dan Industri

Para penulis menilai sudah saatnya regulator mengambil peran lebih aktif. Penyusunan standar resmi Islamic Social Reporting dinilai penting untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi pelaporan sosial bank syariah. Standarisasi juga akan memudahkan evaluasi kinerja sosial serta meningkatkan akuntabilitas industri secara keseluruhan.


Kajian ini mendorong kolaborasi antara regulator, akademisi, dan industri perbankan syariah untuk merumuskan pedoman ISR yang sesuai dengan konteks Indonesia. Dengan standar yang jelas, pelaporan sosial diharapkan tidak lagi bersifat simbolik, tetapi benar-benar mencerminkan kontribusi nyata bank syariah bagi masyarakat.


Profil Penulis

Risty Nandaditya ,MuhsinMuhammad FahmiNina Febriana Dosinta, dan Syarif Muhammad Helmi, yang berasal dari Universitas Tanjungpura

Sumber Penelitian

Judul artikel jurnal: A Systematic Literature Review on the Determinants of Islamic Social Reporting Disclosure
Jurnal: International Journal of Finance and Business Management (IJFBM)
Tahun publikasi: 2026
URL resmi: (sesuai publikasi IJFBM)


Posting Komentar

0 Komentar