Hasil kajian ini penting karena ISR bukan sekadar laporan
tambahan, melainkan cerminan komitmen bank syariah terhadap nilai-nilai Islam,
tanggung jawab sosial, dan kepercayaan publik. Di tengah pertumbuhan industri
perbankan syariah nasional, praktik pelaporan sosial yang belum seragam dinilai
berpotensi melemahkan legitimasi lembaga keuangan syariah di mata masyarakat
dan investor.
Pelaporan Sosial Masih Bersifat Sukarela
Bank syariah di Indonesia hingga kini belum memiliki standar
pelaporan ISR yang bersifat wajib. Kondisi tersebut membuat kualitas dan
kelengkapan laporan sosial sangat bervariasi antarbank. Sebagian bank
menyampaikan informasi sosial secara rinci, sementara yang lain hanya
mengungkapkan secara terbatas.
Menurut para penulis, lemahnya regulasi menjadi salah satu
penyebab utama rendahnya tingkat pengungkapan ISR. Tanpa pedoman baku,
pelaporan sosial bergantung pada kebijakan internal dan kesadaran manajemen
masing-masing bank. Akibatnya, laporan ISR sulit dibandingkan dan tidak selalu
mencerminkan kinerja sosial yang sebenarnya.
Kajian atas Puluhan Artikel Ilmiah
Kajian ini merangkum 35
artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal nasional sepanjang
2020–2025. Seluruh artikel membahas faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan
ISR pada bank syariah. Peneliti menelusuri pola temuan, variabel dominan, serta
perbedaan hasil antar penelitian.
Pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang arah riset
ISR di Indonesia. Dengan mengumpulkan dan membandingkan berbagai hasil
penelitian, kajian ini menunjukkan tren umum sekaligus celah yang masih belum
banyak dikaji oleh peneliti sebelumnya.
Faktor Keuangan Masih Dominan
Hasil kajian menunjukkan bahwa profitabilitas, ukuran perusahaan, dan leverage merupakan faktor yang paling sering
dikaitkan dengan tingkat pengungkapan ISR. Bank syariah dengan aset besar dan
kinerja keuangan yang kuat cenderung lebih terbuka dalam menyampaikan laporan
sosial.
Ukuran perusahaan menjadi faktor paling konsisten. Bank berskala
besar dinilai memiliki sumber daya yang lebih memadai untuk menyusun laporan
sosial yang komprehensif. Selain itu, bank besar juga menghadapi tekanan publik
yang lebih tinggi untuk menunjukkan tanggung jawab sosialnya.
Namun, temuan terkait profitabilitas dan leverage tidak selalu
seragam. Sejumlah penelitian menemukan pengaruh positif, sementara penelitian
lain menunjukkan tidak ada hubungan signifikan. Perbedaan ini mencerminkan
belum matangnya praktik ISR di Indonesia serta perbedaan pendekatan pengukuran
antarpenelitian.
Peran Tata Kelola Syariah
Selain faktor keuangan, kajian ini menegaskan pentingnya tata kelola syariah dalam mendorong
pengungkapan ISR. Keberadaan Dewan
Pengawas Syariah (DPS), ukuran dewan komisaris, serta kualitas sharia governance terbukti
berkontribusi terhadap keterbukaan laporan sosial.
Bank dengan struktur pengawasan syariah yang kuat cenderung lebih
konsisten dalam melaporkan aktivitas sosial, kepatuhan syariah, serta
kontribusi terhadap masyarakat. Tata kelola yang baik dinilai mampu menekan
praktik simbolik dan mendorong pelaporan yang lebih substantif.
Risty Nandaditya menegaskan bahwa ISR seharusnya menjadi bagian
dari identitas bank syariah. “Pengungkapan sosial bukan hanya soal citra
perusahaan, tetapi juga wujud pertanggungjawaban moral dan spiritual,” tulisnya
dalam artikel tersebut.
Dampak terhadap Reputasi dan Kepercayaan Publik
Kajian ini juga mencatat bahwa pengungkapan ISR yang baik
berdampak positif terhadap reputasi dan nilai perusahaan. Bank syariah yang
aktif menyampaikan laporan sosial dinilai lebih kredibel oleh investor,
nasabah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Transparansi sosial membantu bank membangun kepercayaan jangka
panjang. Di tengah persaingan industri keuangan, reputasi berbasis nilai etika
dan sosial menjadi keunggulan strategis yang tidak mudah ditiru.
Sebaliknya, minimnya pelaporan sosial berisiko menimbulkan
persepsi negatif, terutama di kalangan masyarakat yang menaruh harapan tinggi
pada prinsip keadilan dan keberlanjutan dalam sistem keuangan syariah.
Dorongan bagi Regulator dan Industri
Para penulis menilai sudah saatnya regulator mengambil peran lebih
aktif. Penyusunan standar resmi
Islamic Social Reporting dinilai penting untuk meningkatkan
kualitas dan konsistensi pelaporan sosial bank syariah. Standarisasi juga akan
memudahkan evaluasi kinerja sosial serta meningkatkan akuntabilitas industri
secara keseluruhan.
Kajian ini mendorong kolaborasi antara regulator, akademisi, dan
industri perbankan syariah untuk merumuskan pedoman ISR yang sesuai dengan
konteks Indonesia. Dengan standar yang jelas, pelaporan sosial diharapkan tidak
lagi bersifat simbolik, tetapi benar-benar mencerminkan kontribusi nyata bank
syariah bagi masyarakat.
Profil Penulis
Risty
Nandaditya ,Muhsin, Muhammad Fahmi, Nina Febriana Dosinta, dan Syarif Muhammad Helmi, yang berasal dari Universitas Tanjungpura
Sumber Penelitian
Judul artikel jurnal: A
Systematic Literature Review on the Determinants of Islamic Social Reporting
Disclosure
Jurnal: International Journal of
Finance and Business Management (IJFBM)
Tahun publikasi: 2026
URL resmi: (sesuai publikasi IJFBM)

0 Komentar