Faktor Lanskap dan Sosiodemografi yang Mendorong Penularan Malaria di Sulawesi Utara, Indonesia


                                                                 Ilustrasi by AI 

Manado- Kasus malaria di Kota Bitung, Sulawesi Utara, terbukti tidak menyebar secara merata. Penelitian yang dilakukan Ronald Imanuel Ottay, Jeini Ester Nelwan, Fona Dwiana Hermina Budiarso, dan Oksfriani Jufri Sumampouw dari Universitas Sam Ratulangi, Manado, mengungkap bahwa penularan malaria terkonsentrasi kuat di wilayah tertentu, khususnya Kecamatan Lembeh Selatan dan Kecamatan Maesa. Studi ini dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Natural and Health Sciences dan menegaskan pentingnya pendekatan pengendalian malaria berbasis lokasi.

Penelitian ini menganalisis 379 kasus malaria terkonfirmasi di Kota Bitung selama periode 2021–2023. Hasilnya penting karena memberikan gambaran jelas tentang pola waktu, lokasi, serta faktor lingkungan dan sosial yang memengaruhi penularan malaria, sehingga dapat menjadi dasar perencanaan kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih tepat sasaran.

Pola Kasus Malaria Berfluktuasi Setiap Tahun

Data menunjukkan bahwa jumlah kasus malaria di Kota Bitung mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Puncak kasus terjadi pada 2022 dengan 212 kasus, sebelum kemudian menurun pada 2023. Meski menurun, pola penularan tetap menunjukkan karakter berulang.

Secara bulanan, peneliti menemukan tiga puncak kasus malaria dalam satu tahun, yaitu pada Maret–April, Juli–Agustus, dan November. Pola ini berkaitan erat dengan kondisi iklim, terutama curah hujan dan kelembapan udara yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles, vektor penular malaria.

Curah hujan yang meningkat pada 2022 dinilai memperluas genangan air dan rawa, menciptakan habitat ideal bagi nyamuk. Sebaliknya, pada 2023, hujan yang lebih tidak merata diduga mengganggu siklus hidup nyamuk sehingga menekan jumlah kasus.

Pendekatan Spasial Berbasis GIS

Berbeda dari pemantauan konvensional, penelitian ini menggunakan Geographic Information System (GIS) untuk memetakan setiap kasus malaria berdasarkan lokasi geografis. Titik-titik kasus kemudian dianalisis bersama data ketinggian wilayah dan kepadatan penduduk.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menghitung Annual Parasite Incidence (API) di setiap kecamatan, yaitu jumlah kasus malaria per 1.000 penduduk berisiko dalam satu tahun. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa penularan malaria di Kota Bitung bersifat mengelompok (clustered), bukan menyebar acak.

Lembeh Selatan dan Maesa Menjadi Episentrum

Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa dua kecamatan menyumbang hampir 80 persen dari seluruh kasus malaria di Kota Bitung.

  • Kecamatan Lembeh Selatan tercatat sebagai wilayah dengan risiko tertinggi, dengan API 15,4 per 1.000 penduduk, masuk kategori tinggi.

  • Kecamatan Maesa berada pada kategori API sedang (3,74 per 1.000), namun memiliki jumlah kasus yang besar.

Sebaliknya, beberapa kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi justru menunjukkan jumlah kasus malaria yang rendah. Temuan ini menegaskan bahwa kepadatan penduduk bukan satu-satunya faktor penentu, melainkan harus dilihat bersama faktor lingkungan dan mobilitas penduduk.

Lingkungan Lebih Menentukan Dibanding Ketinggian Wilayah

Secara umum, malaria sering dikaitkan dengan wilayah dataran rendah. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa ketinggian wilayah bukan faktor tunggal. Kecamatan Lembeh Selatan, yang sebagian wilayahnya berada di dataran tinggi, justru mencatat kasus paling tinggi.

Peneliti menilai kondisi ini dipengaruhi oleh lingkungan pesisir, rawa payau, kawasan mangrove, dan kolam air tergenang yang menjadi habitat produktif nyamuk Anopheles. Sebaliknya, kecamatan dataran rendah tertentu memiliki kasus rendah karena minimnya habitat nyamuk dan lebih baiknya pengelolaan lingkungan.

Laki-Laki Lebih Banyak Terinfeksi

Dari sisi demografi, 58 persen kasus malaria terjadi pada laki-laki. Peneliti mengaitkan hal ini dengan tingginya aktivitas luar ruang pada malam hari, termasuk pekerjaan dan kebiasaan sosial, yang meningkatkan risiko gigitan nyamuk.

Pola ini sejalan dengan tren nasional, di mana laki-laki secara konsisten mencatat jumlah kasus malaria lebih tinggi dibanding perempuan.

Implikasi bagi Pengendalian Malaria

Penelitian ini menegaskan bahwa pengendalian malaria tidak efektif jika dilakukan secara merata di semua wilayah. Upaya pencegahan harus difokuskan pada wilayah hotspot, khususnya Lembeh Selatan dan Maesa.

Langkah yang direkomendasikan meliputi:

  • pengelolaan lingkungan dan pengurangan genangan air,

  • penguatan surveilans vektor nyamuk,

  • edukasi masyarakat berbasis wilayah,

  • serta pemanfaatan peta spasial untuk respons cepat.

Wilayah dengan kasus rendah dapat dijadikan contoh praktik baik dalam pengendalian malaria berbasis lingkungan dan layanan kesehatan.

Profil Singkat Penulis

Ronald Imanuel Ottay
Peneliti Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi
Bidang keahlian: epidemiologi penyakit menular dan analisis spasial

Jeini Ester Nelwan
Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi
Bidang keahlian: kesehatan lingkungan

Fona Dwiana Hermina Budiarso
Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi
Bidang keahlian: promosi kesehatan dan kesehatan masyarakat

Dr. Oksfriani Jufri Sumampouw
Dosen dan peneliti senior Universitas Sam Ratulangi
Bidang keahlian: epidemiologi spasial dan kebijakan kesehatan publik


Sumber Penelitian

Judul artikel jurnal:
Landscape and Socio-Demographic Drivers of Malaria Transmission in North Sulawesi, Indonesia

Nama jurnal:
International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS)

Tahun publikasi:
2026

Volume dan nomor:
Volume 4, Nomor 1

Halaman:
21–36

DOI:

URL resmi jurnal:

Posting Komentar

0 Komentar