Penelitian dilakukan di Kelurahan Girian Bawah, Kota Bitung, sebuah kawasan pesisir perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi dan keterbatasan sanitasi lingkungan. Temuan ini penting karena diare masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian balita, khususnya di wilayah pesisir yang rentan terhadap pencemaran lingkungan.
Latar Belakang Masalah Kesehatan Masyarakat
Wilayah pesisir perkotaan menghadapi tantangan ganda: pertumbuhan penduduk yang cepat dan infrastruktur sanitasi yang belum memadai. Di Indonesia, diare masih termasuk penyakit menular utama pada balita. Data nasional menunjukkan angka kejadian diare balita masih berada di atas target nasional, sementara Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Kota Bitung, mencatat tren peningkatan kasus dalam beberapa tahun terakhir.
Lingkungan tempat tinggal yang padat, penggunaan sumur gali yang tidak memenuhi standar kesehatan, serta jamban keluarga yang tidak layak memperbesar risiko paparan bakteri penyebab diare.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dan dilaksanakan pada Juli–Agustus 2024. Sebanyak 140 ibu balita yang anaknya pernah mengalami diare diwawancarai menggunakan kuesioner terstruktur. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dan observasi kondisi lingkungan rumah.
Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara kondisi sanitasi lingkungan dan kejadian diare pada balita.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan:
-
54,3% balita mengalami diare dalam tiga bulan terakhir
-
45,7% rumah tangga menggunakan sumber air bersih yang tidak sehat, terutama sumur gali terbuka
-
40% keluarga masih menggunakan jamban yang tidak memenuhi standar kesehatan
-
Terdapat hubungan signifikan antara kondisi air bersih dan kejadian diare(p = 0,030)
-
Terdapat hubungan signifikan antara kondisi jamban dan kejadian diare(p = 0,005)
Balita yang tinggal di rumah dengan jamban tidak sehat dan sumber air yang tercemar memiliki risiko diare jauh lebih tinggi dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi memadai.
Dampak dan Implikasi Nyata
Temuan ini menegaskan bahwa penyediaan air bersih dan jamban sehat bukan sekadar infrastruktur, tetapi merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang menyelamatkan nyawa. Peningkatan akses terhadap sanitasi layak berpotensi menurunkan beban diare, mencegah malnutrisi, serta menekan angka kematian balita di wilayah pesisir.
Peneliti menekankan perlunya:
-
Edukasi masyarakat tentang sanitasi rumah tangga
-
Program pemerintah untuk pembangunan jamban sehat
-
Pengawasan kualitas air bersih di kawasan pesisir
-
Integrasi isu sanitasi dalam kebijakan kesehatan anak
Kutipan Akademik
Menurut Dr. Oksfriani Jufri Sumampouw, dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi, “Kondisi jamban dan sumber air bersih merupakan faktor penentu utama kejadian diare pada balita di kawasan pesisir perkotaan. Intervensi sanitasi harus menjadi prioritas kebijakan kesehatan masyarakat.”
Profil Penulis
Oksfriani Jufri Sumampouw
Bidang keahlian: kesehatan lingkungan, sanitasi, dan penyakit berbasis lingkungan di wilayah pesisir.
Jeini Ester Nelwan
Bidang keahlian: kesehatan lingkungan dan kesehatan keluarga.
Frelly Valentino Kuhon
Bidang keahlian: sanitasi lingkungan dan kesehatan anak.
Odi Roni Pinontoan
Bidang keahlian: kesehatan lingkungan dan perilaku kesehatan.
Ester Candrawati Musa
Bidang keahlian: kesehatan ibu dan anak serta sanitasi dasar.
Jane Tahulending
Bidang keahlian: kesehatan masyarakat pesisir dan promosi kesehatan.
Sumber Penelitian
-
Judul artikel: The Determinants of the Incidence of Diarrhea in Underfive Children in Urban Coastal Areas: A Cross-sectional Study
-
Jurnal: International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS)
-
Tahun: 2026
0 Komentar