Daun Benalu Batu Kalimantan Berpotensi Menghambat Protein Pemicu Kanker, Studi ULM Ungkap Temuan Awal

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Banjarmasin - Peneliti Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin melaporkan potensi senyawa aktif dari daun benalu batu (Paraboea sp.) sebagai penghambat protein pemicu pertumbuhan sel kanker. Temuan ini dipublikasikan pada awal 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research oleh Fujiati bersama tim peneliti lintas disiplin dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ULM. Studi ini penting karena memberikan dasar ilmiah terhadap penggunaan benalu batu sebagai obat tradisional antikanker oleh masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya di kawasan pegunungan kapur Batulicin.

Penelitian dilakukan sepanjang 2025 dan berfokus pada dua senyawa utama hasil ekstraksi etanol daun benalu batu, yakni veronikastrosida dan vicenin-2. Keduanya diuji secara komputasional untuk melihat kemampuannya berinteraksi dengan epidermal growth factor receptor (EGFR), sebuah protein yang diketahui berperan besar dalam pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. EGFR selama ini menjadi target utama berbagai obat kanker modern karena keterlibatannya dalam mengatur pembelahan sel dan mencegah kematian sel abnormal.

Dari Pengetahuan Lokal ke Bukti Ilmiah

Benalu batu telah lama dimanfaatkan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal Kalimantan Selatan sebagai ramuan pendukung kesehatan pasien kanker. Namun, penggunaan ini selama bertahun-tahun lebih bertumpu pada pengalaman empiris, belum didukung data ilmiah yang kuat. Menurut Fujiati, dokter dan dosen Fakultas Kedokteran ULM, kondisi inilah yang mendorong timnya untuk mengkaji kandungan kimia benalu batu secara lebih sistematis.

“Pengetahuan etnomedisin masyarakat adalah titik awal yang sangat berharga. Tantangannya adalah bagaimana membuktikannya secara ilmiah agar aman dan bisa dikembangkan lebih lanjut,” tulis Fujiati dalam artikelnya.

Metode Ringkas, Teknologi Mutakhir

Penelitian ini menggunakan pendekatan eksploratif dengan kombinasi analisis laboratorium dan simulasi komputer. Daun benalu batu diekstraksi menggunakan pelarut etanol, kemudian dianalisis kandungan senyawanya dengan teknologi Ultra High Performance Liquid Chromatography–Mass Spectrometry (UPLC-MS/MS). Hasil analisis menunjukkan bahwa veronikastrosida dan vicenin-2 merupakan senyawa dominan dalam ekstrak tersebut.

Selanjutnya, kedua senyawa diuji menggunakan metode molecular docking, yaitu simulasi komputer untuk memprediksi seberapa kuat suatu senyawa dapat berikatan dengan protein target. Dalam konteks ini, protein target yang dipilih adalah EGFR, protein kunci dalam banyak kasus kanker seperti kanker paru, payudara, dan kolorektal.

Pendekatan komputasional ini memungkinkan peneliti menyaring kandidat senyawa potensial dengan biaya dan waktu yang jauh lebih efisien dibandingkan uji laboratorium langsung pada sel atau hewan.

Temuan Utama: Ikatan Kuat dan Stabil

Hasil simulasi menunjukkan bahwa veronikastrosida memiliki energi ikatan sebesar −10,0 kkal/mol terhadap EGFR, sedangkan vicenin-2 memiliki energi ikatan −9,0 kkal/mol. Dalam studi molecular docking, semakin negatif nilai energi ikatan, semakin kuat dan stabil interaksi antara senyawa dan protein target.

Selain itu, nilai root mean square deviation (RMSD)—parameter untuk menilai kestabilan struktur ikatan—menunjukkan angka 1,32 Ã… untuk kompleks veronikastrosida-EGFR dan 1,98 Ã… untuk vicenin-2-EGFR. Nilai di bawah 2 Ã… umumnya dianggap sangat baik dan menunjukkan bahwa ikatan yang terbentuk stabil.

Secara sederhana, hasil ini mengindikasikan bahwa kedua senyawa mampu “menempel” dengan baik pada EGFR, sehingga berpotensi menghambat kerja protein tersebut dalam mendorong pertumbuhan sel kanker.

Mengapa EGFR Penting?

EGFR adalah protein reseptor yang berperan sebagai “saklar” pertumbuhan sel. Pada banyak jenis kanker, EGFR terlalu aktif, sehingga sel terus membelah tanpa kendali dan menghindari proses kematian alami. Banyak obat kanker modern dirancang untuk menonaktifkan protein ini, tetapi harganya relatif mahal dan dapat menimbulkan efek samping.

Temuan dari ULM ini membuka peluang pengembangan kandidat obat atau suplemen berbasis bahan alam lokal yang lebih terjangkau. Walau masih pada tahap awal, hasilnya memperkuat argumen bahwa tanaman lokal Indonesia menyimpan potensi besar dalam pengembangan terapi pendukung kanker.

Dampak dan Implikasi Lebih Luas

Penelitian ini tidak serta-merta menyatakan bahwa benalu batu dapat menggantikan obat kanker modern. Namun, hasilnya memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk melanjutkan penelitian ke tahap berikutnya, yakni uji laboratorium pada sel kanker (in vitro) dan uji pada hewan (in vivo).

Bagi dunia kesehatan, temuan ini berpotensi memperkaya pilihan terapi pendukung berbasis etnomedisin yang lebih terstandar dan aman. Bagi pembuat kebijakan dan dunia pendidikan, riset ini menegaskan pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati lokal sekaligus mendukung riset berbasis kearifan lokal.

Fujiati dan tim juga menekankan bahwa pendekatan komputasional seperti molecular docking dapat menjadi strategi efektif bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk bersaing dalam riset obat, tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas mahal.

Profil Singkat Penulis

dr. Fujiati adalah dosen dan peneliti pada Program Doktor Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Bidang keahliannya meliputi etnomedisin, farmakologi, dan pengembangan kandidat obat berbasis bahan alam.
Penulis pendamping dalam studi ini adalah Joharman, Maria Ulfah, Nina Mulyani, William Luth (Program Studi Kedokteran ULM), serta Andifa Anugerah Putra dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ULM.

Sumber Penelitian

Fujiati, Joharman, Ulfah, M., Mulyani, N., Luth, W., & Putra, A.A. (2026). Computational Study of Veronicastroside and Vicenin-2 Ethanol Extracts from Paraboea Sp Leaves as EGFR Inhibitors. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 249–260. DOI: 10.55927/fjmr.v5i1.685

Posting Komentar

0 Komentar