Bali- Belanja produk kecantikan secara online ternyata tidak lagi digerakkan oleh soal “seberapa berguna” sebuah aplikasi. Penelitian terbaru dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana menunjukkan bahwa niat konsumen untuk membeli produk kecantikan secara online lebih dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan dan rasa menyenangkan saat berinteraksi dengan platform digital.
Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah yang ditulis oleh I Made Pradnyana Adi Putra dan Gede Suparna dari Universitas Udayana, Bali, dan dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research. Studi tersebut mengkaji perilaku pengguna platform kecantikan Sociolla di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, dua wilayah dengan penetrasi internet tinggi dan konsumen digital aktif. Hasilnya penting karena menjelaskan mengapa platform digital populer belum tentu sukses mendorong transaksi.
Platform Populer, Tapi Transaksi Menurun
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami lonjakan bisnis berbasis digital, termasuk e-commerce. Sociolla, yang berdiri sejak 2015, menjadi salah satu pemain utama di sektor ritel kecantikan berbasis platform. Namun, meskipun popularitasnya tinggi, kontribusi penjualan online Sociolla justru menurun secara proporsional dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi inilah yang mendorong Putra dan Suparna untuk meneliti faktor psikologis di balik niat belanja konsumen. “Popularitas aplikasi tidak otomatis berbanding lurus dengan keputusan membeli,” tulis penulis dalam artikelnya. Persepsi pengguna terhadap pengalaman menggunakan aplikasi justru menjadi kunci.
Menguji Perilaku Konsumen Digital
Penelitian ini melibatkan 112 responden yang merupakan pengguna kanal online Sociolla namun belum pernah melakukan pembelian. Data dikumpulkan melalui survei daring dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik untuk melihat hubungan antara empat faktor utama: persepsi manfaat, persepsi kemudahan, rasa menikmati penggunaan aplikasi, dan niat membeli secara online.
Alih-alih fokus pada istilah teknis, temuan penelitian ini bisa diringkas secara sederhana: konsumen muda, khususnya pengguna produk kecantikan, lebih peduli pada pengalaman menggunakan aplikasi daripada sekadar fungsi praktisnya.
Temuan Utama Penelitian
Hasil analisis menunjukkan beberapa poin penting:
- Kemudahan penggunaan berpengaruh langsung dan signifikan terhadap niat membeli. Aplikasi yang mudah dipelajari, fleksibel, dan tidak rumit mendorong pengguna lebih ingin bertransaksi.
- Rasa senang saat menggunakan aplikasi (perceived enjoyment) terbukti menjadi faktor kunci yang meningkatkan niat beli.
- Persepsi manfaat tidak berpengaruh langsung terhadap niat membeli. Artinya, meskipun pengguna merasa aplikasi itu berguna, hal tersebut belum tentu membuat mereka ingin berbelanja.
- Namun, persepsi manfaat dan kemudahan dapat meningkatkan rasa senang, dan melalui rasa senang inilah niat membeli akhirnya terbentuk.
Dengan kata lain, manfaat aplikasi baru “berfungsi” ketika dibungkus dalam pengalaman yang menyenangkan.
Konsumen Muda dan Belanja Berbasis Pengalaman
Mayoritas responden penelitian ini adalah perempuan berusia 17–25 tahun, kelompok usia yang sangat akrab dengan teknologi digital dan tren gaya hidup. Bagi kelompok ini, belanja produk kecantikan bukan sekadar aktivitas fungsional, tetapi juga pengalaman visual, emosional, dan personal.
Penelitian ini menegaskan bahwa bagi konsumen muda, standar fungsi dasar e-commerce sudah dianggap “biasa”. Semua aplikasi dianggap sama-sama berguna. Yang membedakan adalah seberapa nyaman, menarik, dan menyenangkan pengalaman berinteraksi dengan platform tersebut.
Implikasi untuk Industri dan Bisnis Digital
Temuan ini membawa pesan kuat bagi pelaku industri e-commerce dan startup digital, khususnya di sektor gaya hidup dan kecantikan. Fokus pengembangan platform tidak cukup berhenti pada fitur dan efisiensi.
Menurut Putra dan Suparna, platform digital perlu:
- Mendesain antarmuka yang intuitif dan fleksibel
- Menghadirkan pengalaman visual yang menarik
- Menambahkan fitur interaktif seperti virtual try-on, video ulasan, atau personalisasi rekomendasi produk
- Meminimalkan hambatan teknis seperti bug aplikasi dan kesulitan pembayaran
“Interaksi digital bukan hanya soal transaksi, tetapi juga eksplorasi dan pengalaman,” tulis penulis, menekankan pentingnya pendekatan yang menggabungkan nilai fungsional dan emosional.
Dampak bagi Kebijakan dan Pendidikan Digital
Di luar dunia bisnis, hasil penelitian ini juga relevan bagi pengembangan literasi digital dan kebijakan ekonomi kreatif. Pemerintah dan institusi pendidikan dapat menggunakan temuan ini untuk memahami perilaku konsumen digital muda, terutama dalam mendorong adopsi platform lokal.
Pendekatan berbasis pengalaman juga bisa diterapkan pada pengembangan layanan publik digital, aplikasi pendidikan, hingga platform UMKM agar lebih ramah dan menarik bagi pengguna.

0 Komentar