Riset tersebut menyoroti dua hal penting sekaligus. Pertama, tidak semua wilayah dengan populasi ternak tinggi otomatis menjadi pusat pengembangan unggulan. Kedua, meskipun Banyumas memiliki modal sumber daya dan pengalaman beternak yang kuat, tekanan eksternal seperti kenaikan harga pakan dan alih fungsi lahan menuntut strategi pembangunan yang lebih adaptif dan efisien.
Potensi Besar, Tapi Tidak Merata
Banyumas dikenal sebagai daerah dengan tradisi peternakan rakyat yang kuat. Kondisi agroekologi yang mendukung, ketersediaan hijauan, serta keterlibatan masyarakat pedesaan menjadikan kambing dan domba sebagai komoditas penting bagi ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga.
Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa populasi kambing justru cenderung menurun, sementara populasi domba memperlihatkan tren meningkat. Dalam periode 2014–2024, populasi kambing mengalami fluktuasi dengan kecenderungan turun, terutama setelah 2019. Sebaliknya, populasi domba tumbuh lebih stabil dan konsisten.
Perbedaan ini menegaskan bahwa kambing dan domba tidak bisa diperlakukan sebagai satu komoditas yang sama dalam perencanaan pembangunan. Keduanya memiliki karakter risiko, peluang, dan kebutuhan kebijakan yang berbeda.
Metodologi yang Mudah Dipahami
Penelitian ini menggunakan survei lapangan di kecamatan-kecamatan dengan populasi ternak tinggi di Banyumas. Sebanyak 131 peternak kambing dan domba dipilih secara acak sederhana. Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi lapangan, sementara data sekunder diperoleh dari Dinas Perikanan dan Peternakan Banyumas serta Badan Pusat Statistik.
Untuk membaca arah perubahan populasi, peneliti menggunakan analisis tren. Untuk mengetahui wilayah basis, digunakan Location Quotient (LQ), yaitu metode perbandingan yang menunjukkan apakah suatu wilayah memiliki konsentrasi ternak lebih tinggi dibandingkan rata-rata kabupaten. Selanjutnya, analisis SWOT digunakan untuk menyusun strategi pengembangan berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Pendekatan ini memungkinkan hasil penelitian diterjemahkan langsung menjadi rekomendasi kebijakan yang aplikatif.
Kecamatan Basis Ternak Kambing dan Domba
Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa 14 kecamatan di Banyumas tergolong sebagai wilayah basis pengembangan ternak kambing dan domba. Kecamatan tersebut antara lain Sumpiuh, Kebasen, Gumelar, Kemranjen, Rawalo, Somagede, Tambak, Banyumas, Purwojati, Patikraja, Ajibarang, Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur, dan Lumbir.
Menariknya, penelitian ini menegaskan bahwa jumlah ternak yang besar tidak selalu berarti wilayah tersebut unggul secara struktural. LQ menilai keunggulan relatif, bukan sekadar angka absolut. Temuan ini penting untuk menghindari kebijakan yang keliru dalam menentukan lokasi prioritas pengembangan.
Strategi Bertahan dengan Mengoptimalkan Kekuatan
Berdasarkan analisis SWOT, posisi pengembangan ternak kambing dan domba di Banyumas berada pada Kuadran II, yang berarti kekuatan internal relatif baik, tetapi tekanan eksternal cukup besar. Situasi ini mendorong penerapan Strategi ST (Strength–Threat), yaitu memanfaatkan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman.
Beberapa strategi utama yang direkomendasikan peneliti meliputi:
- Peningkatan efisiensi operasional, terutama melalui perbaikan kualitas bibit, peningkatan keterampilan peternak, dan pengembangan hijauan pakan untuk menekan biaya.
- Diversifikasi produk, tidak hanya menjual ternak hidup, tetapi juga mengembangkan daging kemasan, produk olahan, susu kambing, dan ternak bibit.
- Penguatan kemitraan, termasuk dengan rumah makan, pasar tradisional, serta program pemerintah seperti penyediaan pangan bergizi.
- Perbaikan sistem pemasaran, untuk mengurangi ketergantungan pada tengkulak dan memperluas akses informasi harga.
Menurut tim peneliti, strategi ini lebih realistis dibandingkan ekspansi besar-besaran, mengingat tantangan seperti harga pakan tinggi, keterbatasan modal, serta dominasi perantara pasar.
Dampak bagi Peternak dan Kebijakan Daerah
Temuan ini memberikan pijakan kuat bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan peternakan berbasis wilayah. Dengan memfokuskan program pada kecamatan basis, intervensi seperti penyuluhan, perbaikan bibit, layanan kesehatan hewan, dan fasilitasi pasar dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
Bagi peternak, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan efisiensi dan nilai tambah, bukan sekadar menambah jumlah ternak. Sementara bagi dunia usaha dan koperasi, riset ini membuka peluang pengembangan rantai nilai ternak kecil yang lebih modern dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Dr. Nunung Noor Hidayat, S.Pt., M.P. adalah dosen dan peneliti di bidang peternakan dan pengembangan ternak rakyat pada Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ia aktif meneliti isu pengembangan wilayah, ekonomi peternakan, dan strategi pembangunan berbasis komoditas lokal, bersama tim akademisi lintas keahlian dari Unsoed.
0 Komentar