Tulungagung- Astrologi Jawa bukan sekadar sistem penanggalan atau ramalan nasib. Dalam artikel ilmiah yang ditulis Luqman Fauzi dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, tradisi astrologi Jawa dibaca ulang sebagai fondasi etika ekologis yang relevan untuk menjawab krisis lingkungan masa kini. Kajian ini dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research dan menunjukkan bagaimana kearifan lokal Jawa memandang manusia, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Luqman Fauzi, dosen dan peneliti di bidang filsafat dan pemikiran keislaman Nusantara, menelusuri teks-teks klasik Jawa—mulai dari primbon, kitab astrologi, hingga naskah kaweruh—untuk menjelaskan cara pandang holistik masyarakat Jawa terhadap alam. Di tengah meningkatnya bencana ekologis akibat eksploitasi berlebihan, temuan ini penting karena menawarkan perspektif etis yang berakar kuat pada budaya lokal Indonesia.
Alam sebagai Jaring Kehidupan
Dalam kosmologi Jawa, alam semesta dipahami sebagai bawana—jaring kehidupan tempat manusia, hewan, tumbuhan, dan unsur kosmik saling terhubung. Tidak ada makhluk yang berdiri sendiri. Kerusakan pada satu bagian alam diyakini akan berdampak pada keseluruhan sistem kehidupan.
Konsep ini tercermin dalam ungkapan Jawa hamemayu hayuning bawana, yang berarti memperindah dan merawat keindahan dunia. Bagi masyarakat Jawa, tugas manusia bukan menaklukkan alam, melainkan menjaga keseimbangannya. Alam diperlakukan sebagai bagian dari diri manusia sendiri.
Fauzi menjelaskan bahwa ajaran ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi diwujudkan dalam praktik budaya. Salah satu contohnya adalah tradisi tumpeng. Bentuk kerucut tumpeng melambangkan gunung—sumber air, kehidupan flora-fauna, sekaligus tempat sakral. Pesan ekologisnya jelas: merusak gunung berarti merusak sumber kehidupan.
Astrologi Jawa dan Etika Ekologi
Berbeda dari anggapan umum, astrologi Jawa tidak semata berbicara tentang peruntungan individu. Sistem ini disusun berdasarkan kaweruh titèn, yakni pengamatan kolektif masyarakat Jawa selama ratusan tahun terhadap hubungan antara pergerakan matahari, musim, dan kehidupan manusia.
Kalender Jawa Pranata Mangsa menjadi contoh konkret. Dua belas mangsa atau musim menggambarkan perubahan alam sepanjang tahun, lengkap dengan kondisi cuaca, siklus pertanian, hingga potensi bencana. Pengetahuan ini membantu petani menentukan waktu tanam dan panen secara selaras dengan alam, bukan melawannya.
Menurut Fauzi, kesadaran ekologis dalam astrologi Jawa lahir dari pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem kosmik. Ketika manusia bertindak serakah dan merusak alam, konsekuensinya adalah bencana—banjir, kekeringan, dan krisis pangan—yang dipahami sebagai bentuk ketidakseimbangan kosmis.
Alam, Ketuhanan, dan Tanggung Jawab Moral
Salah satu temuan penting dalam artikel ini adalah konsep emanasi dalam teologi Jawa. Alam semesta dipandang sebagai pancaran dari Sang Hyang Widhi, sumber segala kehidupan. Dengan demikian, merusak alam sama artinya dengan merusak manifestasi ketuhanan itu sendiri.
Keyakinan terhadap figur Batari Sri—penjaga bumi dan simbol kesuburan—menegaskan pandangan ini. Tanah diperlakukan sebagai “ibu” yang memberi kehidupan. Ketika manusia mengeksploitasi bumi tanpa batas, ia dianggap melawan Ibu Pertiwi, dan akibatnya adalah penderitaan kolektif.
“Siapa yang merusak alam, berarti merusak kehidupan. Siapa yang merusak kehidupan, berarti merusak kehendak ilahi,” tulis Fauzi, merangkum prinsip moral dalam ajaran Jawa. Etika ini menanamkan tanggung jawab personal dan sosial dalam menjaga lingkungan.
Metode Kajian Berbasis Literatur Klasik
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah berbagai kitab dan naskah Jawa klasik, seperti Primbon Bataljemur Adammakna, Baboning Kitab Primbon, dan Kaweruh Urip Megalamat. Fauzi menganalisis teks-teks tersebut secara holistik untuk menemukan pola pemikiran ekologis yang konsisten.
Alih-alih menggunakan istilah teknis yang rumit, kajian ini menekankan pemahaman kontekstual dan komparatif antar sumber. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan ulang tradisi lama sebagai sumber solusi etis kontemporer.
Relevansi bagi Krisis Lingkungan Modern
Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas. Di tengah krisis iklim dan degradasi lingkungan, etika ekologis berbasis budaya lokal dapat menjadi alternatif pendekatan pembangunan berkelanjutan. Nilai-nilai Jawa seperti keseimbangan, kehati-hatian, dan tanggung jawab antargenerasi relevan untuk kebijakan lingkungan, pendidikan, dan gerakan sosial.
Fauzi menekankan pentingnya memasukkan etika lingkungan ke dalam norma sosial dan hukum. Kesadaran ekologis tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata—mulai dari pengelolaan pekarangan rumah hingga kebijakan publik yang tegas terhadap perusakan alam.
Profil Penulis
Luqman Fauzi Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

0 Komentar