![]() |
| Gambar: Illustrasi AI |
Penelitian terbaru dari I Gede Wahyu Pratama dan Ni Ketut Purnawati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana mengungkapkan bahwa proses produksi tempe di Tempe Putra Cendana, Klungkung, belum sepenuhnya terkendali. Studi yang dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 4, No. 12, 2025, menunjukkan bahwa tingkat kerusakan produk tempe masih tinggi dan biaya kualitas yang dikeluarkan perusahaan belum optimal.
Latar Belakang Penelitian
Kualitas produk merupakan faktor utama dalam keberhasilan perusahaan, terutama dalam menghadapi persaingan industri yang ketat. Pengendalian kualitas yang efektif dapat meningkatkan kepuasan konsumen sekaligus menekan biaya produksi akibat produk cacat. Metode Statistical Quality Control (SQC) digunakan untuk memantau dan mengendalikan proses produksi secara statistik sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas.
Temuan Utama Penelitian:
- Produksi tempe selama Juli 2025 mencapai 26.827 unit dengan 1.322 unit mengalami kerusakan, rata-rata 40 unit per hari.
- Tingkat kerusakan produk tempe berkisar antara 3,9% hingga 6,1%, melebihi standar ISO 2859-1 yang menetapkan tingkat cacat maksimal 2%-5% untuk industri makanan.
- Analisis P-chart menunjukkan banyak titik data yang melewati batas kendali atas dan bawah, menandakan proses produksi belum stabil dan masih di luar kendali.
- Faktor penyebab kerusakan tempe meliputi faktor manusia (human error), metode produksi yang tidak konsisten, kualitas bahan baku (ragi dan kedelai), serta peralatan dan kondisi lingkungan yang kurang optimal.
- Biaya kualitas aktual yang dikeluarkan perusahaan sebesar Rp 65.506.126,00 jauh lebih tinggi dibandingkan biaya kualitas optimal sebesar Rp 22.811.650,00, dengan selisih Rp 42.683.946,00.
- Perusahaan dapat mengurangi jumlah produk rusak dari 15.864 unit menjadi 2.851 unit per tahun jika pengendalian kualitas dilakukan secara optimal.
Implikasi untuk Publik dan Industri
Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan pengendalian kualitas yang sistematis dan konsisten dalam industri tempe untuk mengurangi produk cacat dan menekan biaya produksi. Peningkatan pengawasan kualitas dan perbaikan prosedur produksi dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas perusahaan. Selain itu, pengelolaan bahan baku dan lingkungan produksi yang lebih baik akan mendukung pertumbuhan jamur tempe yang optimal dan mengurangi kerusakan produk.
Kesimpulan
Penelitian oleh Pratama dan Purnawati menyimpulkan bahwa proses produksi tempe di Tempe Putra Cendana masih belum optimal dan memerlukan tindakan korektif. Penggunaan metode Statistical Quality Control efektif dalam mengidentifikasi masalah kualitas dan faktor penyebab kerusakan produk. Perusahaan disarankan untuk meningkatkan standar operasional prosedur, memperketat pengawasan kualitas, serta memperbaiki kondisi lingkungan dan peralatan produksi guna menekan tingkat kerusakan dan biaya kualitas.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan pengendalian kualitas di industri makanan tradisional dan dapat menjadi acuan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam meningkatkan daya saing produk mereka.
Sumber:
Pratama, I. G. W., & Purnawati, N. K. (2025). Analysis of Tempeh Product Quality Control Using the Statistical Quality Control Method. *East Asian Journal of Multidisciplinary Research*, 4(12), 5891-5910. https://doi.org/10.55927/eajmr.v4i12.502

0 Komentar