YouTube Mengubah Pertunjukan Janger Banyuwangi Menjadi Beragam Objek Budaya Digital

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Banyuwangi - Pertunjukan Janger Banyuwangi tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga berubah menjadi beragam objek budaya digital ketika direkam dan dipublikasikan di YouTube. Temuan ini diungkap Heru S.P. Saputra dan delapan peneliti dari Universitas Jember serta Universitas PGRI Banyuwangi melalui studi terhadap 16 video Janger yang dipublikasikan pada 2020 hingga Juli 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu pertunjukan dapat menghasilkan video pertunjukan panjang, lakon, tari, musik, pembukaan, komedi, hingga cerita berseri yang memiliki judul dan URL masing-masing.

Penelitian tersebut dimuat dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research Volume 5 Nomor 9 Tahun 2026 dengan judul “Reconstituting Vernacular Performance on YouTube: Liveness, Disaggregation, and Digital Object Formation in Janger Banyuwangi”. Artikel ini diterbitkan pada 2026 dan memiliki DOI 10.55927/fjmr.v5i9.207.

Ketika Pertunjukan Tradisional Masuk ke YouTube

Janger merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan Banyuwangi yang berkembang melalui pertemuan budaya, inovasi artistik, serta tradisi teater yang memiliki unsur cerita, tari, musik, humor, dan keterlibatan penonton.

Di panggung, unsur-unsur tersebut berada dalam satu rangkaian pertunjukan. Namun, ketika direkam dan diunggah ke YouTube, bagian-bagian tersebut dapat dipisahkan menjadi video tersendiri. Sebuah tarian, misalnya, dapat memiliki judul, thumbnail, durasi, URL, dan halaman video sendiri meskipun sebelumnya merupakan bagian dari satu acara yang lebih panjang.

Para peneliti menekankan bahwa video yang berbeda tidak selalu berarti pertunjukan yang berbeda. Dua atau lebih video dapat berasal dari satu acara yang sama, tetapi memiliki batas dan fungsi berbeda ketika ditampilkan di platform digital. Karena itu, tanggal publikasi YouTube juga tidak dapat digunakan sebagai bukti urutan berlangsungnya pertunjukan di panggung.

Menelusuri 16 Video dari Empat Kelompok Janger

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan membandingkan 16 video YouTube yang berkaitan dengan empat kelompok Janger, yaitu Sri Budoyo Pangestu, New Sastra Dewa, Krishna Buana, dan Karisma Dewata.

Video-video tersebut dipublikasikan antara 1 Januari 2020 dan 2 Juli 2026. Para peneliti memeriksa informasi pada halaman video, termasuk judul, pengunggah, tanggal publikasi, durasi, deskripsi, thumbnail, bentuk pertunjukan, serta hubungan video dengan acara tertentu. Enam video kemudian dipilih untuk pengamatan audiovisual lebih mendalam, meskipun analisis berbasis penanda waktu secara lengkap dilakukan terutama pada video NSD-02.

Dari 16 video tersebut, para peneliti menemukan tujuh bentuk objek pertunjukan digital, yaitu:

  • pertunjukan panjang;
  • lakon atau narasi;
  • pembukaan atau pambuko;
  • tari;
  • musik atau berdendang;
  • komedi atau dagelan;
  • narasi berseri.

Pembagian tersebut menunjukkan bahwa YouTube dapat membuat bagian-bagian dari sebuah pertunjukan tradisional menjadi unit digital yang dapat ditemukan dan diakses secara terpisah. Namun, pemisahan tersebut tidak otomatis mengubahnya menjadi pertunjukan yang benar-benar berdiri sendiri.

Kamera Membentuk Cara Penonton Melihat “Pertunjukan Langsung”

Salah satu temuan penting penelitian berkaitan dengan pengalaman “langsung” atau liveness. Para peneliti membedakan tanda “LIVE” pada halaman video dengan bukti kehadiran langsung yang terlihat dalam rekaman.

Pada video NSD-02, misalnya, rekaman memperlihatkan para pemusik dan penonton yang berkumpul di bawah tenda sebelum kamera beralih ke panggung dan menampilkan Tari Jaran Goyang. Suara pertunjukan tetap terdengar ketika sudut kamera berpindah. Rekaman tersebut juga memperlihatkan perubahan pencahayaan dan penggunaan pengambilan gambar yang lebih dekat pada penari.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa suasana pertunjukan langsung masih dapat dirasakan melalui video, tetapi tidak ditampilkan secara utuh. Kamera menentukan bagian mana yang terlihat jelas dan bagian mana yang keluar dari bingkai.

Dengan demikian, penonton YouTube tidak mengalami pertunjukan dalam kondisi yang sama dengan penonton yang hadir di lokasi. Mereka menyaksikan versi pertunjukan yang telah direkam, dibingkai kamera, diberi judul, dan tersedia untuk diputar kembali.

Satu Acara Bisa Menjadi Banyak Objek Digital

Kasus New Sastra Dewa menjadi salah satu contoh penting dalam penelitian ini. Video Tari Jaran Goyang dan video yang diberi label lakon berasal dari kelompok serta rangkaian acara yang memiliki penanda lokasi dan pertunjukan yang berkaitan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa beberapa URL berbeda dapat merepresentasikan bagian-bagian berbeda dari satu acara, bukan berarti ada beberapa pertunjukan yang berbeda.

Para peneliti menyebut proses ini sebagai disaggregation, atau pemisahan sebuah pertunjukan terintegrasi menjadi sejumlah objek digital. Setelah dipisahkan, bagian tersebut kemudian dapat mengalami recontextualization, yaitu memperoleh konteks baru melalui judul, deskripsi, thumbnail, URL, dan cara pengunggah menampilkannya.

Namun, tingkat kemandirian setiap video berbeda. NSD-02, misalnya, memiliki judul dan URL sendiri serta menampilkan rangkaian tari yang cukup koheren. Sebaliknya, bagian cerita yang diberi label “Bagian 1” tetap menunjukkan keterkaitannya dengan narasi yang lebih panjang.

Penting untuk Dokumentasi dan Pelestarian Budaya

Temuan ini memiliki implikasi bagi pelestarian seni tradisional di era digital. Menurut para peneliti, arsip budaya tidak cukup hanya menyimpan URL atau video yang telah diunggah. Hubungan antara video dan pertunjukan asalnya juga perlu dipertahankan.

Informasi seperti nama kelompok, lakon, lokasi, tanggal pertunjukan yang terverifikasi, identitas pengunggah, ID video, tanggal publikasi, serta hubungan dengan video lain dapat membantu menjaga konteks budaya sebuah rekaman.

Peneliti juga merekomendasikan agar kelompok seni dan lembaga budaya menghubungkan video pendek dengan rekaman pertunjukan yang lebih panjang ketika keduanya memang berasal dari acara yang sama. Dengan cara tersebut, pemisahan video di platform digital tidak menghilangkan hubungan antara sebuah potongan pertunjukan dengan konteks budaya asalnya.

Profil Penulis

Artikel ini ditulis oleh Heru S.P. Saputra, Wiwin Indiarti, Mochamad Ilham, Dominikus Rato, Titik Maslikatin, Lilis Yuliati, Edy Hariyadi, Panakajaya Hidayatullah, dan Siswanto.

Heru S.P. Saputra, Mochamad Ilham, Dominikus Rato, Titik Maslikatin, Lilis Yuliati, Edy Hariyadi, Panakajaya Hidayatullah, dan Siswanto berafiliasi dengan Metakultura Research Center, Universitas Jember, Indonesia. Sementara itu, Wiwin Indiarti berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas PGRI Banyuwangi, Indonesia. Bidang yang tampak dalam artikel ini mencakup seni pertunjukan Janger Banyuwangi, tradisi lisan, budaya lokal, digitalisasi budaya, media sosial, dan platform digital. Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik individual masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan.

Sumber Penelitian

Saputra, Heru S.P., Wiwin Indiarti, Mochamad Ilham, Dominikus Rato, Titik Maslikatin, Lilis Yuliati, Edy Hariyadi, Panakajaya Hidayatullah, dan Siswanto. “Reconstituting Vernacular Performance on YouTube: Liveness, Disaggregation, and Digital Object Formation in Janger Banyuwangi.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Volume 5 Nomor 9, 2026, halaman 3193–3210.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i9.207

Posting Komentar

0 Komentar