Quantum Teaching Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas V dari 54 Menjadi 82 di Medan

Created by AI

FORMOSA NEWS - Medan, Indonesia — Penerapan model pembelajaran Quantum Teaching menunjukkan peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) pada siswa kelas V SD Negeri 068008 Medan Tuntungan. Penelitian yang ditulis oleh Darinda Sofia Tanjung, Rosiana Pepayosa Br Sinulingga, Rini Samaria Butar Butar, Ebita Nanda Br Depari, Rania Marsela Br Perangin Angin, dan Agustina E. Limbong dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Katolik Santo Thomas, Medan, mencatat kenaikan nilai rata-rata kelas dari 54 menjadi 82 selama dua siklus pembelajaran pada tahun ajaran 2025/2026. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang lebih interaktif dapat menjadi alternatif untuk membantu siswa sekolah dasar memahami materi sekaligus meningkatkan keterlibatan mereka di kelas.

Pembelajaran Aktif Menjadi Tantangan di Sekolah Dasar

Pendidikan dasar berperan penting dalam membangun pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan. Namun, siswa dapat mengalami kesulitan memahami materi apabila pembelajaran terlalu bergantung pada penjelasan guru, kegiatan mencatat, dan pengerjaan tugas tanpa kesempatan yang memadai untuk berpartisipasi aktif.

Kondisi tersebut ditemukan dalam pengamatan awal di kelas V SD Negeri 068008 Medan Tuntungan. Kegiatan pembelajaran masih didominasi penjelasan guru. Sebagian siswa belum menunjukkan perhatian yang konsisten, sementara beberapa siswa berbicara dengan teman ketika pelajaran berlangsung. Situasi ini menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam proses belajar.

Hasil evaluasi awal terhadap 25 siswa memperlihatkan bahwa hanya 11 siswa yang mencapai kriteria ketuntasan belajar, sedangkan 14 siswa lainnya belum tuntas. Nilai rata-rata kelas tercatat sebesar 54, dengan tingkat ketuntasan belajar klasikal sebesar 44%.

Kondisi tersebut menjadi dasar penerapan model Quantum Teaching. Model ini menekankan pengalaman belajar yang bermakna, interaksi, keterlibatan aktif, dan penguatan positif. Siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga diarahkan untuk mengalami, memahami, memperagakan, dan mengulang materi yang dipelajari.

Mengenal Model Quantum Teaching melalui Tahapan TANDUR

Dalam penelitian ini, Quantum Teaching diterapkan melalui enam tahapan yang dikenal dengan istilah TANDUR. Setiap tahap memiliki peran dalam membantu siswa mengikuti pembelajaran secara bertahap.

Enam tahapan tersebut meliputi:

  1. Tumbuhkan: Guru membangun minat, motivasi, dan kesiapan siswa untuk belajar.
  2. Alami: Siswa memperoleh pengalaman yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
  3. Namai: Guru membantu siswa mengenali, memahami, dan menyusun konsep yang dipelajari.
  4. Demonstrasikan: Siswa diberi kesempatan menunjukkan pemahamannya melalui kegiatan pembelajaran.
  5. Ulangi: Materi dipelajari kembali untuk memperkuat pemahaman.
  6. Rayakan: Guru memberikan apresiasi terhadap partisipasi, usaha, dan pencapaian siswa.

Rangkaian tersebut memberikan struktur pembelajaran yang tidak hanya mengutamakan penyampaian materi. Siswa juga memperoleh kesempatan untuk membangun pemahaman melalui pengalaman, menunjukkan pengetahuan, mengulang konsep penting, dan menerima penghargaan atas usaha mereka.

Pendekatan ini relevan untuk pembelajaran IPAS karena materi yang dipelajari dapat dihubungkan dengan berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari. Guru dapat merancang aktivitas yang mendorong siswa mengamati lingkungan, mendiskusikan konsep, menyampaikan gagasan, dan menunjukkan pemahaman terhadap materi.

Penelitian Dua Siklus Menunjukkan Peningkatan Hasil Belajar

Tim peneliti menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mengacu pada model Kemmis dan McTaggart. Prosesnya meliputi empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus agar hasil pelaksanaan pembelajaran pertama dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.

Penelitian berfokus pada 25 siswa kelas V-B SD Negeri 068008 Medan Tuntungan. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar, observasi, dan dokumentasi. Hasil pada tahap awal kemudian dibandingkan dengan hasil setelah Siklus I dan Siklus II.

Hasil penelitian memperlihatkan peningkatan nilai rata-rata dan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar.

Perkembangan hasil belajar siswa:

  • Kondisi awal: Nilai rata-rata 54, dengan 11 siswa tuntas atau 44%.
  • Siklus I: Nilai rata-rata meningkat menjadi 66, dengan 15 siswa tuntas atau 60%.
  • Siklus II: Nilai rata-rata mencapai 82, dengan 23 siswa tuntas atau 92%.

Dari kondisi awal hingga akhir Siklus II, nilai rata-rata kelas meningkat sebesar 28 poin. Persentase ketuntasan belajar juga bertambah 48 poin persentase, dari 44% menjadi 92%.

Jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan turun dari 14 siswa pada tahap awal menjadi 10 siswa setelah Siklus I, kemudian menjadi hanya dua siswa pada Siklus II. Capaian akhir tersebut melampaui indikator keberhasilan penelitian yang ditetapkan sebesar 75%.

Data ini memperlihatkan bahwa peningkatan terjadi secara bertahap selama penerapan model pembelajaran dan perbaikan tindakan pada kedua siklus.

Aktivitas Guru dan Siswa Juga Mengalami Peningkatan

Selain mengukur hasil tes, peneliti mengamati aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran. Pengamatan ini memberikan gambaran mengenai perubahan yang terjadi di kelas setelah Quantum Teaching diterapkan.

Pada Siklus I, aktivitas guru tercatat sebesar 76%, sedangkan aktivitas siswa mencapai 62%. Setelah evaluasi dan perbaikan pembelajaran, kedua indikator tersebut meningkat pada Siklus II.

Aktivitas guru mencapai 92%, sementara aktivitas siswa meningkat menjadi 90%. Dengan demikian, aktivitas guru bertambah 16 poin persentase dan aktivitas siswa meningkat 28 poin persentase antara kedua siklus.

Perbaikan pada Siklus II dilakukan dengan memberikan arahan yang lebih terstruktur, memperluas kesempatan siswa untuk berpartisipasi, serta memberikan pendampingan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan.

Peningkatan aktivitas siswa menjadi temuan penting karena memperlihatkan perubahan dalam proses pembelajaran, bukan hanya pada hasil tes. Siswa mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang dirancang guru dan terlibat dalam tahapan pembelajaran.

Proses refleksi juga menunjukkan pentingnya evaluasi berkelanjutan dalam pembelajaran. Guru dapat menggunakan hasil pengamatan untuk mengenali bagian yang belum berjalan optimal, kemudian menyesuaikan strategi mengajar sesuai kebutuhan siswa.

Implikasi bagi Guru dan Sekolah

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Quantum Teaching dapat menjadi salah satu alternatif bagi guru sekolah dasar yang ingin meningkatkan hasil belajar IPAS sekaligus mendorong partisipasi siswa.

Bagi guru, tahapan TANDUR dapat digunakan sebagai panduan untuk menyusun kegiatan belajar yang lebih bervariasi. Guru dapat memulai pembelajaran dengan membangun ketertarikan siswa, menghubungkan materi dengan pengalaman, memberikan kesempatan untuk menunjukkan pemahaman, lalu memperkuat konsep melalui pengulangan dan apresiasi.

Bagi sekolah, hasil ini menegaskan pentingnya dukungan terhadap inovasi pembelajaran. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui pelatihan guru, perencanaan pembelajaran bersama, diskusi praktik mengajar, dan penyediaan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan kelas.

Siswa juga dapat memperoleh manfaat dari pembelajaran yang memberi ruang lebih luas untuk berpartisipasi, menyampaikan gagasan, menunjukkan pemahaman, dan menerima umpan balik. Aktivitas tersebut dapat melengkapi pembelajaran akademik dengan pengalaman yang mendorong tanggung jawab dan keterlibatan.

Meski demikian, hasil penelitian perlu dipahami sesuai dengan ruang lingkupnya. Penelitian hanya melibatkan 25 siswa dalam satu kelas dan tidak menggunakan kelompok kontrol sebagai pembanding. Oleh karena itu, hasilnya menunjukkan peningkatan yang terjadi selama penerapan Quantum Teaching di kelas tersebut, tetapi belum membuktikan bahwa model ini menjadi satu-satunya penyebab perubahan atau akan menghasilkan dampak yang sama di semua sekolah.

Penelitian lanjutan pada sekolah, jumlah siswa, dan materi IPAS yang berbeda dapat membantu memberikan gambaran lebih luas mengenai penerapan model ini dalam berbagai kondisi pembelajaran.

Profil Penulis

Artikel ini ditulis oleh enam peneliti yang berafiliasi dengan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Katolik Santo Thomas, Medan, Indonesia, yaitu:

  • Darinda Sofia Tanjung
  • Rosiana Pepayosa Br Sinulingga
  • Rini Samaria Butar Butar
  • Ebita Nanda Br Depari
  • Rania Marsela Br Perangin Angin
  • Agustina E. Limbong

Afiliasi para penulis menempatkan artikel ini dalam bidang pendidikan guru sekolah dasar dan praktik pembelajaran. Naskah yang diberikan mencantumkan Rosiana Pepayosa Br Sinulingga sebagai penulis korespondensi, yang dapat dihubungi melalui email rosianapepayosa@gmail.com. Gelar akademik dan bidang keahlian khusus masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam informasi naskah yang tersedia.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Implementation of the Quantum Teaching Model to Improve Students’ Learning Outcomes in IPAS for Grade V Students at SD Negeri 068008 Medan Tuntungan in the 2025/2026 Academic Year

Penulis: Darinda Sofia Tanjung, Rosiana Pepayosa Br Sinulingga, Rini Samaria Butar Butar, Ebita Nanda Br Depari, Rania Marsela Br Perangin Angin, dan Agustina E. Limbong.

Institusi: Universitas Katolik Santo Thomas, Medan, Indonesia.

Jurnal: Asian Journal of Applied Education (AJAE).

Tahun publikasi: 2026, berdasarkan informasi dalam naskah yang diberikan.

DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i4.16969

Situs resmi jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae

Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0), sebagaimana tercantum dalam naskah.

Posting Komentar

0 Komentar