Profitabilitas dan Dewan Komisaris Independen Dongkrak Nilai Perusahaan Manufaktur di Indonesia

Ilustrasi By AI
FORMOSA NEWS - Jakarta - Nilai perusahaan manufaktur di Indonesia berkaitan erat dengan profitabilitas, praktik manajemen laba riil, likuiditas, dan peran dewan komisaris independen. Temuan ini berasal dari penelitian Sherly Anggraini dan Ita Trisnawati dari Trisakti School of Management, Jakarta, yang menganalisis 108 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 2022–2024. Hasilnya penting bagi investor karena menunjukkan faktor keuangan dan tata kelola mana yang paling berkaitan dengan nilai perusahaan.

Nilai perusahaan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor ketika menilai prospek sebuah perusahaan. Semakin baik persepsi pasar terhadap kinerja dan prospek perusahaan, semakin tinggi pula potensi nilai perusahaan. Dalam konteks perusahaan terbuka, nilai tersebut antara lain tercermin melalui harga saham dibandingkan dengan nilai bukunya.

Persaingan bisnis, perkembangan teknologi, dan perubahan kondisi ekonomi membuat perusahaan tidak cukup hanya meningkatkan laba. Perusahaan juga perlu menjaga kualitas informasi keuangan, mengelola aset secara produktif, serta menerapkan tata kelola yang dapat meningkatkan kepercayaan investor.

Anggraini dan Trisnawati mengembangkan kajian sebelumnya dengan menggabungkan sejumlah faktor keuangan dan tata kelola perusahaan. Selain kepemilikan institusional, komite audit, dan komisaris independen, penelitian ini memasukkan manajemen laba riil, profitabilitas, likuiditas, ukuran perusahaan, dan penghindaran pajak sebagai faktor yang diuji terhadap nilai perusahaan.

Menguji 108 perusahaan manufaktur

Penelitian menggunakan data 108 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dengan total 324 pengamatan selama periode 2022–2024. Sampel dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, termasuk konsistensi publikasi laporan keuangan, penggunaan mata uang rupiah, tahun buku yang berakhir pada 31 Desember, kondisi laba, kepemilikan institusional, serta ketersediaan data terkait pajak.

Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS 25. Nilai perusahaan diukur menggunakan Price to Book Value (PBV), sedangkan faktor lainnya diukur menggunakan indikator keuangan dan tata kelola yang sesuai dengan penelitian terdahulu.

Hasil analisis memperlihatkan bahwa tidak semua faktor yang diuji memiliki hubungan signifikan dengan nilai perusahaan.

Profitabilitas menjadi faktor positif

Salah satu temuan paling kuat adalah pengaruh positif profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Profitabilitas memiliki koefisien sebesar 19,181 dengan tingkat signifikansi 0,000.

Artinya, perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan lebih baik cenderung memiliki nilai perusahaan yang lebih tinggi. Kemampuan menghasilkan laba dapat menjadi sinyal positif bagi investor karena menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengelola sumber daya untuk menghasilkan keuntungan.

Bagi investor, informasi mengenai profitabilitas menjadi penting karena laba dapat berkaitan dengan kemampuan perusahaan memberikan keuntungan kepada pemegang saham, termasuk melalui potensi pembagian dividen.

Manajemen laba riil justru menekan nilai perusahaan

Sebaliknya, real earnings management atau manajemen laba riil memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Variabel ini memperoleh koefisien -0,545 dengan signifikansi 0,000.

Manajemen laba riil berkaitan dengan keputusan operasional yang dapat digunakan untuk memengaruhi angka laba, misalnya melalui perubahan aktivitas penjualan, pengeluaran diskresioner, atau produksi. Dalam jangka pendek, strategi semacam ini dapat membuat kinerja terlihat lebih baik. Namun, jika dilakukan secara oportunistis, dampaknya dapat merugikan kualitas kinerja perusahaan dalam jangka panjang.

Temuan Anggraini dan Trisnawati menunjukkan bahwa pasar dapat memberikan respons negatif terhadap praktik tersebut. Ketika kualitas laba dipertanyakan, kepercayaan investor dapat menurun dan akhirnya menekan nilai perusahaan.

Likuiditas tinggi tidak selalu menguntungkan

Likuiditas juga menunjukkan hubungan negatif dengan nilai perusahaan. Koefisien likuiditas tercatat -0,133 dengan signifikansi 0,019.

Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat likuiditas yang terlalu tinggi tidak otomatis dipersepsikan sebagai kabar baik. Perusahaan mungkin memiliki aset lancar dalam jumlah besar, tetapi apabila aset tersebut tidak digunakan secara produktif, kemampuan perusahaan menciptakan keuntungan dapat menjadi kurang optimal.

Dengan kata lain, investor tidak hanya melihat seberapa besar kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek. Efisiensi penggunaan aset juga menjadi pertimbangan penting dalam menilai perusahaan.

Komisaris independen memperkuat nilai perusahaan

Faktor tata kelola yang menunjukkan pengaruh positif adalah dewan komisaris independen. Variabel ini memiliki koefisien 1,513 dengan signifikansi 0,000.

Keberadaan komisaris independen dapat memperkuat fungsi pengawasan terhadap manajemen. Pengawasan yang lebih efektif membantu menjaga akuntabilitas perusahaan dan dapat meningkatkan kepercayaan investor.

Temuan ini memperlihatkan bahwa tata kelola perusahaan tidak hanya menjadi formalitas organisasi. Komposisi dan fungsi pengawasan yang berjalan dengan baik dapat berkaitan dengan persepsi pasar terhadap nilai perusahaan.

Empat faktor tidak menunjukkan pengaruh signifikan

Sementara itu, kepemilikan institusional, komite audit, ukuran perusahaan, dan tax avoidance tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Kepemilikan institusional memiliki signifikansi 0,330, sedangkan komite audit sebesar 0,117. Ukuran perusahaan menghasilkan signifikansi 0,057, sedikit di atas batas 0,05. Adapun tax avoidance memiliki signifikansi 0,960.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa besarnya kepemilikan lembaga, jumlah anggota komite audit, skala aset perusahaan, maupun praktik penghematan pajak tidak selalu menjadi faktor utama yang menentukan bagaimana investor menilai perusahaan manufaktur.

Implikasi bagi perusahaan dan investor

Bagi perusahaan manufaktur, hasil ini memberikan beberapa pesan penting. Peningkatan nilai perusahaan tidak cukup dilakukan dengan mengejar pertumbuhan laba secara jangka pendek. Perusahaan perlu menjaga profitabilitas yang berkelanjutan, menggunakan aset secara efisien, menghindari praktik manajemen laba yang berisiko menurunkan kualitas informasi, serta memperkuat mekanisme pengawasan melalui komisaris independen.

Bagi investor, hasil penelitian dapat menjadi tambahan pertimbangan ketika mengevaluasi perusahaan manufaktur. Profitabilitas dan tata kelola dapat diperhatikan bersama dengan kualitas laba dan efisiensi aset, bukan hanya ukuran perusahaan atau tingkat kepemilikan institusional.

Anggraini dan Trisnawati juga menekankan adanya keterbatasan penelitian. Periode pengamatan hanya tiga tahun, data masih menunjukkan masalah distribusi residual, dan ditemukan persoalan heteroskedastisitas pada beberapa variabel. Penelitian berikutnya disarankan memperpanjang periode pengamatan, menambah jumlah data, serta menggunakan transformasi variabel atau pendekatan lain untuk mengatasi persoalan statistik tersebut.

Profil Penulis

Sherly Anggraini merupakan penulis penelitian dari Trisakti School of Management, Jakarta, bersama Ita Trisnawati dari institusi yang sama. Penelitian keduanya berada dalam bidang akuntansi, keuangan perusahaan, tata kelola perusahaan, dan nilai perusahaan.

Sumber Penelitian

Artikel berjudul “The Effect of Real Earnings Management, Institutional Ownership, and Other Factors on Firm Value in Indonesia” ditulis oleh Sherly Anggraini dan Ita Trisnawati, dari Trisakti School of Management, Jakarta. Artikel diterbitkan pada 2026 dan menggunakan data perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2022–2024.

Jurnal: International Journal of Business Management Practices (IJBMP)
Tahun: 2026.
Penulis: Sherly Anggraini dan Ita Trisnawati.
Afiliasi: Trisakti School of Management, Jakarta, Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar