Kualitas Air Tanah Penting bagi Kebutuhan Rumah Tangga dan Pertanian
Air tanah merupakan sumber daya penting bagi masyarakat, terutama di wilayah yang mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk air minum dan irigasi pertanian. Salah satu sumber air tanah adalah sumur artesis, yaitu sumur yang memanfaatkan air dari lapisan akuifer bertekanan sehingga air dapat naik menuju permukaan tanpa selalu memerlukan pemompaan.
Meskipun air tanah mengalami penyaringan alami ketika melewati lapisan geologi, proses tersebut tidak menjamin bahwa seluruh kandungan kimianya memenuhi persyaratan untuk air minum. Komposisi air dapat berubah akibat pelarutan mineral, karakteristik batuan, kondisi akuifer, dan aktivitas manusia.
Di Distrik Samukh, Azerbaijan, air tanah digunakan untuk kebutuhan domestik dan pertanian. Namun, informasi terperinci mengenai perbedaan karakteristik kimia air artesis antarlokasi masih terbatas. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengukuran kualitas air secara sistematis agar pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan berdasarkan data.
Dalam artikel berjudul Hydrogeochemical Variability and Statistical Assessment of Samukh (Azerbaijan) Artesian Wells, tim peneliti membandingkan air dari tiga permukiman, yaitu Sarıgamısh, Garayeri, dan Yenibag. Mereka menilai karakteristik fisikokimia air, mengidentifikasi hubungan antarkomponen kimia, serta membandingkan hasil pengukuran dengan pedoman kualitas air minum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sembilan Sampel Air Dianalisis dari Tiga Permukiman
Penelitian dilakukan menggunakan sembilan sampel air tanah yang dikumpulkan dari sumur artesis di Sarıgamısh, Garayeri, dan Yenibag pada musim panas 2026. Setiap lokasi diwakili oleh tiga sampel pengulangan untuk memperoleh gambaran karakteristik air di masing-masing wilayah.
Sampel dikumpulkan dalam botol polietilena berkapasitas satu liter. Sebelum pengambilan sampel, air sumur dialirkan selama tiga hingga lima menit untuk mengeluarkan air yang menggenang di saluran keluaran. Sampel kemudian disimpan pada suhu sekitar 4 derajat Celsius dan segera dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.
Tim mengukur sembilan parameter utama, yaitu tingkat keasaman (pH), potensi oksidasi-reduksi (Eh), bikarbonat, klorida, sulfat, kalsium, magnesium, gabungan natrium dan kalium, serta total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS).
TDS menunjukkan jumlah keseluruhan zat terlarut yang terukur dalam air. Nilai yang lebih tinggi mengindikasikan kandungan mineral terlarut yang lebih besar, meskipun penilaian kelayakan air tetap perlu mempertimbangkan jenis zat yang terkandung dan parameter kualitas lainnya.
Para peneliti menggunakan analisis statistik untuk mengetahui apakah karakteristik air berbeda secara signifikan di antara ketiga lokasi. Mereka juga menggunakan analisis korelasi Pearson untuk mengidentifikasi hubungan antara kandungan mineral dan parameter kualitas air lainnya. Selanjutnya, hasil pengukuran dibandingkan dengan nilai pedoman kualitas air minum WHO yang digunakan dalam artikel tersebut.
Kandungan Sulfat Melampaui Nilai Rekomendasi di Semua Lokasi
Hasil analisis memperlihatkan perbedaan karakteristik kimia yang signifikan di antara ketiga lokasi pengambilan sampel. Pengujian statistik menunjukkan nilai signifikansi di bawah 0,001 untuk seluruh parameter yang dibandingkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa komposisi air tanah di Samukh tidak seragam, bahkan di antara sumur yang berada dalam satu distrik.
Salah satu temuan utama adalah tingginya konsentrasi sulfat. Kandungan sulfat pada ketiga lokasi berada dalam rentang sekitar 480–701 miligram per liter, sementara nilai pedoman yang digunakan dalam artikel adalah 250 miligram per liter.
Rinciannya sebagai berikut:
- Sarıgamısh: 700,71 mg/L, merupakan konsentrasi sulfat tertinggi.
- Yenibag: 560,36 mg/L.
- Garayeri: 480,23 mg/L, merupakan konsentrasi sulfat terendah, tetapi masih melampaui nilai pedoman.
Menurut Ibadullayeva, Atayeva, Salmanova, dan Mammadli, tingginya sulfat kemungkinan berkaitan dengan pelarutan mineral yang mengandung sulfat, seperti gipsum dan anhidrit, di dalam akuifer. Konsentrasi sulfat yang tinggi dapat memengaruhi rasa air dan berpotensi menimbulkan efek laksatif pada individu yang sensitif.
Parameter berikutnya adalah gabungan natrium dan kalium. Konsentrasinya berkisar antara 324,41 hingga 381,28 mg/L, dengan nilai tertinggi ditemukan di Yenibag. Artikel tersebut mengaitkan peningkatan kandungan unsur-unsur ini dengan pelapukan mineral silikat dan proses pertukaran ion di dalam akuifer.
Kandungan total padatan terlarut juga perlu mendapat perhatian. Nilai TDS di Sarıgamısh mencapai 1.202,56 mg/L, sedangkan di Yenibag mencapai 1.092,55 mg/L. Kedua nilai tersebut melampaui ambang 1.000 mg/L yang digunakan sebagai pembanding dalam artikel. Sementara itu, Garayeri mencatat TDS sebesar 942,77 mg/L, masih di bawah nilai tersebut.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa air tanah di Sarıgamısh dan Yenibag memiliki tingkat mineralisasi lebih tinggi dibandingkan dengan Garayeri berdasarkan parameter TDS yang diukur.
Sejumlah Parameter Lain Masih Berada dalam Rentang Pedoman
Tidak semua parameter menunjukkan kondisi yang melampaui nilai acuan. Tingkat pH air di ketiga lokasi berkisar antara 7,21 dan 7,36, sehingga menunjukkan karakter sedikit basa dan masih berada dalam rentang 6,5–8,5 yang dicantumkan dalam artikel berdasarkan pedoman WHO.
Konsentrasi klorida juga relatif rendah, yakni sekitar 51,14–57,74 mg/L, jauh di bawah nilai pembanding 250 mg/L. Magnesium tercatat sekitar 4,77–14,68 mg/L, sedangkan kalsium berkisar antara 22,61–24,20 mg/L. Kedua parameter tersebut berada di bawah nilai pembanding yang digunakan oleh peneliti.
Perbedaan antara parameter yang memenuhi dan yang melampaui nilai acuan menunjukkan bahwa kualitas air tidak cukup dinilai hanya berdasarkan satu indikator. Air dengan pH yang sesuai, misalnya, masih dapat memiliki kandungan sulfat atau mineral terlarut yang memerlukan perhatian khusus.
Karena itu, penilaian kualitas air perlu mempertimbangkan beberapa parameter secara bersamaan sebelum menentukan penggunaannya untuk konsumsi manusia atau keperluan lainnya.
Hubungan Antarkomponen Mengungkap Pengaruh Kondisi Geologi
Analisis korelasi Pearson memperkuat dugaan bahwa proses geologi berperan penting dalam membentuk komposisi kimia air tanah Samukh.
Hubungan paling kuat ditemukan antara sulfat dan magnesium, dengan koefisien korelasi sebesar 0,999. Artinya, dalam sampel yang dianalisis, peningkatan konsentrasi sulfat berkaitan erat dengan peningkatan konsentrasi magnesium.
TDS juga menunjukkan hubungan positif yang kuat dengan magnesium, dengan koefisien 0,963, serta dengan sulfat, sebesar 0,958. Hubungan ini menunjukkan bahwa kedua komponen tersebut berkaitan erat dengan tingginya kandungan mineral terlarut dalam air.
Tim peneliti menafsirkan pola tersebut sebagai indikasi kemungkinan adanya sumber geologi yang sama atau proses pelarutan mineral yang saling berkaitan. Namun, korelasi statistik tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat.
Secara keseluruhan, hasil penelitian mengarah pada kesimpulan bahwa interaksi antara air dan batuan, pelapukan mineral, serta kondisi geologi setempat merupakan faktor penting yang mengendalikan kimia air tanah di wilayah penelitian.
Pemantauan dan Pengolahan Air Menjadi Prioritas
Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi pengelolaan sumber daya air di Distrik Samukh. Walaupun sejumlah parameter berada dalam rentang pedoman, tingginya sulfat, gabungan natrium dan kalium, serta TDS pada beberapa lokasi menunjukkan bahwa air tidak sebaiknya langsung dinyatakan layak diminum hanya berdasarkan hasil pengukuran tertentu.
Artikel tersebut menyimpulkan bahwa air artesis di wilayah penelitian berpotensi digunakan untuk kebutuhan konsumsi setelah pengolahan yang sesuai, terutama untuk mengurangi kandungan sulfat dan natrium. Pemantauan berkala juga diperlukan untuk mengetahui apakah komposisi air berubah dari waktu ke waktu.
Untuk pertanian, peneliti menyoroti kemungkinan risiko salinitas akibat nilai TDS dan sulfat yang relatif tinggi. Sebelum digunakan secara luas untuk irigasi, kualitas air perlu dinilai lebih lanjut, termasuk melalui pengukuran rasio adsorpsi natrium dan tingkat bahaya salinitas.
Penting pula untuk memahami batas penelitian ini. Analisis hanya mencakup sembilan sampel dari tiga permukiman pada musim panas 2026. Hasilnya memberikan gambaran awal mengenai kondisi air di lokasi yang diteliti, tetapi belum menggambarkan seluruh sumur di Distrik Samukh atau perubahan kualitas air sepanjang tahun.
Penelitian lanjutan dengan cakupan lokasi lebih luas dan pengambilan sampel pada musim berbeda dapat membantu menentukan pola perubahan kualitas air secara lebih menyeluruh. Pengujian tambahan juga diperlukan untuk mendukung keputusan pengolahan dan penggunaan air sesuai kebutuhan masyarakat.
Profil Singkat Penulis
Dilshad Ibadullayeva merupakan salah satu penulis penelitian yang berafiliasi dengan Mingachevir State University dan Shaki Regional Scientific Centre, Azerbaijan. Bidang keahlian spesifiknya tidak dirinci dalam artikel.
Vafa Atayeva berafiliasi dengan Mingachevir State University dan Shaki Regional Scientific Centre. Ia merupakan penulis korespondensi dalam artikel ini.
Ayshan Salmanova tercantum sebagai penulis dengan afiliasi Mingachevir State University dan Shaki Regional Scientific Centre. Artikel tidak memberikan keterangan terperinci mengenai gelar dan bidang keahliannya.
Vafa Mammadli berafiliasi dengan Shaki Regional Scientific Centre. Informasi mengenai gelar akademik dan bidang keahlian spesifiknya tidak dirinci dalam artikel.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Hydrogeochemical Variability and Statistical Assessment of Samukh (Azerbaijan) Artesian Wells
Penulis: Dilshad Ibadullayeva, Vafa Atayeva, Ayshan Salmanova, dan Vafa Mammadli.
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Tahun publikasi: 2026
Volume dan nomor: Volume 5, Nomor 9, halaman 2557–2570.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i9.163
URL jurnal: https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar