![]() |
| Illustration by Ai |
JAKARTA — Indonesia berpeluang meningkatkan produktivitas gula melalui perbaikan pengelolaan pertanian, pemanfaatan teknologi digital, serta peningkatan koordinasi antara petani tebu dan pabrik gula. Hal ini menjadi temuan utama dalam artikel tinjauan yang ditulis oleh Loso Judijanto dari IPOSS Jakarta dan diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research.
Artikel berjudul “Closing
Indonesia’s Sugar Yield Gap: Reconstructing Farm-to-Mill Productivity from
Historical Highs toward a Competitive, Digital, and Climate-Resilient Sugarcane
System” menjelaskan bahwa peningkatan produksi gula tidak cukup dilakukan
dengan menanam lebih banyak tebu. Produktivitas juga bergantung pada kualitas
tebu, proses panen dan pengangkutan, serta efisiensi pengolahan di pabrik gula.
Persoalan ini penting bagi
Indonesia karena produksi tebu perlu mendukung pasokan gula nasional sekaligus
membantu petani mempertahankan produktivitas di tengah berbagai tantangan
lingkungan dan operasional.
Tantangan Produktivitas Gula
di Indonesia
Menurut data yang dikutip dalam
artikel dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Indonesia memproduksi sekitar
39,07 juta ton tebu dan 2,67 juta ton gula pada 2025. Produktivitas tebu
rata-rata dilaporkan mencapai sekitar 69,35 ton per hektare.
Artikel tersebut juga mengacu
pada catatan historis yang menunjukkan bahwa hasil gula di Jawa pernah
mendekati 14,7 ton per hektare sekitar 1930. Namun, angka historis ini perlu
dipahami sebagai gambaran potensi masa lalu, bukan ukuran yang sepenuhnya dapat
dibandingkan dengan kondisi saat ini atau target nasional yang berlaku untuk
semua wilayah.
Loso Judijanto menjelaskan bahwa
kesenjangan antara potensi dan hasil produksi gula tidak disebabkan oleh satu
masalah saja. Produksi gula merupakan hasil dari rangkaian proses yang saling
berkaitan, mulai dari budidaya tebu di lahan, pemanenan, pengangkutan, hingga
pengolahan di pabrik.
Empat Faktor yang Menentukan
Produksi Gula
Artikel ini mengidentifikasi
empat faktor utama yang memengaruhi jumlah gula yang dapat dihasilkan dari
setiap hektare lahan.
Faktor pertama adalah produktivitas
biomassa tebu. Jumlah tebu yang dipanen dipengaruhi oleh varietas tanaman,
kondisi tanah, ketersediaan air, pengelolaan unsur hara, serta kesehatan
tanaman. Bibit yang kurang berkualitas, kekeringan, serangan hama dan penyakit,
serta penurunan produktivitas tanaman ratoon dapat mengurangi hasil panen.
Tanaman ratoon merupakan tanaman tebu yang tumbuh kembali dari sisa batang
setelah panen sebelumnya.
Faktor kedua adalah kandungan
gula dan kualitas tebu. Panen tebu dalam jumlah besar tidak selalu
menghasilkan gula dalam jumlah besar. Kandungan sukrosa dalam tebu memengaruhi
jumlah gula yang dapat diperoleh selama proses pengolahan. Karena itu,
pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi wilayah dan pemeliharaan tanaman
yang baik menjadi bagian penting dalam meningkatkan hasil.
Faktor ketiga adalah pemeliharaan
kualitas setelah panen. Kualitas tebu dapat menurun ketika waktu antara
pemotongan dan pengolahan terlalu lama. Keterlambatan pengangkutan, antrean di
pabrik, serta jadwal panen yang tidak terkoordinasi dapat mengurangi jumlah
gula yang bisa diperoleh dari tebu.
Faktor keempat adalah efisiensi
ekstraksi dan pemulihan gula di pabrik. Meskipun petani telah menghasilkan
tebu berkualitas baik, proses penggilingan yang tidak konsisten atau pengolahan
yang kurang efisien tetap dapat membatasi jumlah gula yang dihasilkan.
Keempat faktor tersebut saling
berkaitan. Peningkatan hasil tebu di lahan dapat memberikan manfaat yang
terbatas apabila kualitas tebu menurun sebelum tiba di pabrik atau proses
pengolahannya belum efisien.
Praktik Pertanian yang Lebih
Baik untuk Meningkatkan Hasil
Artikel ini menekankan pentingnya
penggunaan varietas tebu yang sesuai dengan kondisi setiap wilayah. Varietas
yang dipilih perlu memiliki kemampuan menghasilkan biomassa dan kandungan
sukrosa yang baik, serta ketahanan terhadap penyakit dan toleransi terhadap
tekanan air apabila diperlukan.
Pengelolaan air dan tanah juga
berperan penting. Petani perlu menerapkan irigasi dan drainase yang sesuai
dengan kondisi lahan. Pengujian tanah dan pemberian pupuk secara seimbang dapat
membantu memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman tanpa sekadar menambah jumlah
pupuk yang digunakan.
Pengelolaan tanaman ratoon juga
perlu diperhatikan. Ketika produktivitas tanaman yang tumbuh kembali setelah
panen mengalami penurunan, pembaruan tanaman dapat menjadi pilihan. Keputusan
tersebut sebaiknya didasarkan pada kondisi lahan dan tanaman, bukan diterapkan
secara seragam pada semua perkebunan.
Mekanisasi dapat membantu
mempercepat pekerjaan pertanian, tetapi penggunaannya perlu dikelola dengan
baik. Alat berat dapat menyebabkan pemadatan tanah yang berpotensi mengganggu
pergerakan air dan perkembangan akar. Pengaturan jalur alat berat secara terkendali
dapat membantu mengurangi kerusakan tanah yang tidak diperlukan.
Berbagai praktik tersebut dapat
menjadi fondasi untuk meningkatkan produktivitas tebu sebelum penerapan
teknologi yang lebih canggih dilakukan secara luas.
Teknologi Digital Membantu
Menghubungkan Petani dan Pabrik
Teknologi digital memberikan
peluang lain untuk memperbaiki produksi gula. Citra satelit, drone,
penginderaan jauh, dan teknologi pembelajaran mesin dapat membantu memantau
kondisi tanaman, memperkirakan hasil panen, serta mendeteksi potensi penyakit
lebih awal.
Informasi tersebut dapat membantu
petani dan pengelola perkebunan menentukan area yang membutuhkan perhatian
serta merencanakan kegiatan panen secara lebih efektif. Catatan digital juga
dapat menghubungkan informasi tentang lahan, varietas tebu, tanggal panen,
pengangkutan, dan hasil pengolahan di pabrik.
Namun, teknologi tidak dapat
menyelesaikan seluruh persoalan secara mandiri. Teknologi digital akan lebih
bermanfaat apabila tersedia data lapangan yang dapat diandalkan dan digunakan
bersama oleh petani, pengangkut tebu, serta pengelola pabrik gula.
Karena itu, artikel ini
merekomendasikan perbaikan jadwal panen, pengangkutan, dan pengolahan.
Pengurangan waktu antara pemotongan tebu dan penggilingan dapat membantu
menjaga kualitas tebu serta membatasi kehilangan hasil yang sebenarnya dapat
dihindari.
Dukungan pembiayaan dan
pendampingan petani juga penting. Petani kecil dapat menghadapi kesulitan dalam
memperoleh kredit, bibit berkualitas, mesin pertanian, dan pelatihan teknis.
Kemitraan, layanan penyewaan atau penggunaan mesin bersama, serta pelatihan
praktis dapat membantu memperluas akses terhadap perbaikan tersebut.
Strategi Bertahap untuk
Industri Gula yang Lebih Kompetitif
Alih-alih mengandalkan satu
solusi, artikel ini mengusulkan pendekatan bertahap untuk memperbaiki sistem
produksi tebu Indonesia.
Prioritas pertama adalah
memperkuat praktik dasar pertanian, termasuk kualitas bibit, pemilihan
varietas, irigasi dan drainase, kesuburan tanah, pengendalian hama dan
penyakit, serta pengelolaan tanaman ratoon.
Tahap kedua adalah meningkatkan
koordinasi operasional melalui layanan mekanisasi, perlindungan kondisi tanah,
penjadwalan panen, perbaikan transportasi, dan pengurangan waktu antara
pemotongan tebu dan pengolahannya.
Tahap ketiga adalah memperluas
pemantauan dan koordinasi digital. Pencatatan lahan, pemantauan menggunakan
satelit atau drone, perkiraan hasil berbantuan kecerdasan buatan (AI), jadwal
digital, dan sistem pelacakan dapat membantu para pemangku kepentingan
mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih baik.
Pengembangan varietas melalui
pemuliaan tanaman dan sistem pendukung keputusan yang lebih canggih dapat
dilakukan sesuai kebutuhan serta kesiapan setiap wilayah. Artikel tersebut juga
menjelaskan bahwa beberapa tahap dapat berjalan secara bersamaan, bukan harus
mengikuti urutan yang kaku.
Keberhasilan program perlu diukur
menggunakan lebih dari sekadar jumlah tebu yang dipanen. Indikator yang relevan
mencakup produksi gula per hektare, kualitas sukrosa, waktu pengangkutan dan
antrean pabrik, tingkat pemulihan gula di pabrik, biaya produksi, keuntungan
petani, efisiensi penggunaan air dan nitrogen, kondisi tanah, serta emisi.
Membangun Masa Depan Industri
Gula yang Terintegrasi dan Tahan Iklim
Artikel ini menyimpulkan bahwa
tantangan produktivitas gula Indonesia merupakan persoalan sistem yang
melibatkan pertanian, logistik, operasional pabrik, pembiayaan, dan koordinasi
kelembagaan. Perbaikan pada satu bagian saja belum tentu menghasilkan manfaat
maksimal apabila masalah pada bagian lain tetap terjadi.
Industri gula yang lebih
kompetitif membutuhkan kerja sama antara petani, pabrik gula, penyedia
teknologi, dan lembaga pendukung. Perbaikan juga perlu memperhatikan
keberlanjutan lingkungan dan keterlibatan petani kecil sebagai bagian penting
dari sistem produksi.
Dengan menggabungkan praktik
pertanian yang tepat, koordinasi panen hingga pengolahan yang lebih baik, serta
pemanfaatan teknologi digital sesuai kebutuhan, Indonesia berpeluang
meningkatkan pemulihan gula dan memperkuat ketahanan industri tebu.
Pesan utama artikel ini adalah
bahwa peningkatan produktivitas gula tidak hanya bergantung pada kemampuan
menghasilkan lebih banyak tebu, tetapi juga pada upaya menjaga kualitas tebu
dan mengolahnya secara efisien.
Profil Penulis
Loso Judijanto merupakan
penulis artikel tersebut dan berafiliasi dengan IPOSS Jakarta. Artikel yang
diterbitkan tidak mencantumkan gelar akademik maupun penjelasan terperinci
mengenai bidang keahlian formal penulis.
Sumber Artikel
- Judul: Closing Indonesia’s Sugar Yield Gap:
Reconstructing Farm-to-Mill Productivity from Historical Highs toward a
Competitive, Digital, and Climate-Resilient Sugarcane System
- Penulis: Loso Judijanto
- Jurnal: International Journal of Applied
and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR)
- Tahun publikasi: 2026
- Volume dan nomor: Volume 4, Nomor 9
- Halaman: 901–922
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i9.316
- Situs jurnal: https://journal.multitechpublisher.com/index.php/ijaamr

0 Komentar