Pria, Menari, dan Stigma: Menyelami Pengalaman Pembentukan Identitas Tubuh Penari Pria di Tengah Fenomena Maskulinitas Beracun

Gambar Ilustrasi AI

Peneliti UMS Ungkap Penari Pria di Indonesia Mampu Ubah Stigma Maskulinitas Menjadi Resiliensi Diri

Sebuah studi ilmiah terbaru mendokumentasikan bagaimana penari pria di Indonesia membentuk identitas tubuh (embodied identity) dan membangun ketahanan mental di tengah tekanan maskulinitas toksik. Penelitian ini dilakukan oleh Rofiq Adi Utomo dan Afriza Animawan Arifin dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN) edisi September 2026. Temuan ini menjadi sangat penting karena memetakan secara mendalam bagaimana ekspresi seni tari dapat menjadi wadah penyembuhan psikologis sekaligus strategi meredam perundungan gender berbasis budaya patriarki.

Latar Belakang dan Konteks Maskulinitas Toksik dalam Seni Tari

Seni tari menempatkan tubuh sebagai media utama untuk menyampaikan emosi, pengalaman hidup, dan identitas diri. Namun, penari pria sering kali berhadapan dengan konstruksi sosial maskulinitas hegemonik yang menuntut laki-laki untuk selalu tampil kuat, kaku, dan dominan. Stereotipe gender yang mengaitkan gerakan tari yang luwes dengan sifat kewanitaan kerap memicu stigma, tuduhan penyimpangan, hingga perundungan (bullying). Tekanan sosial ini menciptakan tekanan psikologis yang berisiko memicu rasa terisolasi, kecemasan, serta krisis percaya diri pada penari pria.

Metodologi Penelitian

Peneliti dari Universitas Muhammadiyah Surakarta menerapkan pendekatan kualitatif fenomenologi untuk menggali pengalaman hidup para penari. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan empat penari pria profesional yang berkarir lebih dari dua tahun dan berasal dari berbagai daerah seperti Pekalongan, Blitar, Wonogiri, dan Batam. Untuk memperkuat keabsahan data, peneliti melakukan triangulasi sumber dengan mewawancarai dua pakar, yakni akademisi antropologi/peneliti gender serta pelatih tari balet dan kontemporer berpengalaman. Seluruh data dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) yang dibantu perangkat lunak ATLAS.ti.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis riset ini mengungkap beberapa poin penting mengenai perjalanan pembentukan identitas penari pria:

  • Proses Awal Pembentukan Identitas: Ketertarikan awal pada dunia tari terbentuk sejak dini melalui dorongan keluarga, pengaruh lingkungan sosial, pertunjukan seni, serta tugas sekolah. Penari mulai mengenali tubuhnya sebagai media ekspresi emosi yang jujur.
  • Dampak Tekanan dan Stigma Gender: Para penari pria mengalami perundungan verbal dengan julukan stereotipikal, pengucilan sosial, hingga tuntutan untuk memperagakan gerakan yang lebih kaku dan "gagah". Dampak emosional yang dirasakan meliputi kecenderungan menarik diri, merasa terisolasi, hingga penurunan konsentrasi.
  • Strategi Adaptasi dan Mekanisme Coping: Penari pria mengembangkan resiliensi dengan mengabaikan komentar negatif, mengekspresikan emosi secara bebas melalui panggung tari kontemporer, serta mengukuhkan prestasi seni sebagai bentuk afirmasi diri.
  • Dukungan Sosial sebagai Kunci Ketahanan: Lingkungan inklusif yang dibentuk oleh keluarga, rekan sejawat, pelatih tari, dan komunitas seni terbukti menjadi faktor krusial dalam memulihkan kepercayaan diri dan memperkuat penerimaan identitas.

Implikasi dan Dampak Bagi Masyarakat

Penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan seni, praktisi psikologi, dan pembuat kebijakan kebudayaan. Penemuan ini menegaskan pentingnya menciptakan ruang latihan dan komunitas seni yang aman serta inklusif guna melindungi kesehatan mental para pelaku seni dari dampak maskulinitas toksik. Selain itu, riset ini membuka wawasan masyarakat luas agar tidak lagi membatasi ekspresi kebudayaan berdasarkan norma gender yang kaku.

Mengenai pentingnya penerimaan identitas dan lingkungan yang mendukung bagi penari pria, tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Surakarta memberikan penegasannya. Rofiq Adi Utomo dan Afriza Animawan Arifin menyimpulkan, "Pembentukan identitas tubuh pada penari pria merupakan proses dinamis yang menyatukan pengalaman fisik, emosional, dan sosial; meski stigma gender dan tekanan maskulinitas toksik kerap menimbulkan konflik batin, dukungan komunitas seni serta refleksi diri mampu mengubah tekanan tersebut menjadi kekuatan psikologis yang memperluas makna maskulinitas secara lebih inklusif".

Profil Penulis:

  1. Rofiq Adi Utomo, S.Psi. – Peneliti dan alumni Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Indonesia, dengan keahlian di bidang psikologi sosial, identitas gender, dan seni pertunjukan.
  2. Afriza Animawan Arifin, S.Psi., M.A. – Dosen dan peneliti di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Indonesia, yang berfokus pada kajian psikologi kebudayaan, fenomena gender, dan metode penelitian kualitatif.

Sumber Penelitian:

Posting Komentar

0 Komentar