Penelitian tersebut menjadi relevan karena kepuasan kerja karyawan masih menjadi tantangan dalam lingkungan manufaktur. Artikel mencatat adanya fenomena ketidakpuasan karyawan di PT. Samawood Utama Work Industry, antara lain berkaitan dengan sistem promosi yang dinilai lemah serta persoalan pemutusan hubungan kerja. Artikel juga menyebut adanya aksi demonstrasi karyawan yang merasa mengalami pemutusan hubungan kerja secara sepihak. Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi analisis mengenai hubungan budaya organisasi, kepemimpinan, stres kerja, dan kepuasan kerja.
Budaya kerja dan kepemimpinan menjadi faktor penting
Dalam lingkungan manufaktur, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu menjalankan proses produksi secara efektif dan efisien. Karena itu, kualitas pengelolaan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari keberlangsungan operasional perusahaan.
Artikel tersebut menempatkan budaya organisasi dan kepemimpinan sebagai dua faktor penting dalam membentuk pengalaman karyawan di tempat kerja. Budaya organisasi mencakup nilai, norma, pola kerja, orientasi terhadap hasil, kerja sama tim, hingga stabilitas lingkungan kerja. Sementara itu, kepemimpinan berkaitan dengan kemampuan pemimpin memengaruhi, mengarahkan, mendukung, dan memotivasi karyawan.
Lingkungan kerja yang terbuka, suportif, dan komunikatif dapat membantu menciptakan kondisi psikologis yang lebih baik. Sebaliknya, tekanan kerja yang tinggi dan kepemimpinan yang kurang mendukung dapat memperbesar kemungkinan munculnya stres.
Penelitian melibatkan seluruh 75 karyawan
Johnnyfan, Thomas Sumarsan Goh, dan Henri Saragih menggunakan pendekatan kuantitatif dalam penelitian mereka. Populasi penelitian terdiri atas 75 karyawan PT. Samawood dan seluruh anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan studi literatur. Kuesioner menggunakan skala Likert 1–5. Instrumen penelitian juga melalui pengujian validitas dan reliabilitas sebelum digunakan dalam analisis.
Para peneliti kemudian menggunakan analisis deskriptif, pengujian asumsi statistik, dan analisis jalur untuk melihat hubungan antara budaya organisasi, kepemimpinan, stres kerja, dan kepuasan kerja.
Budaya organisasi yang lebih baik berkaitan dengan stres yang lebih rendah
Salah satu temuan utama penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap stres kerja. Artinya, semakin positif budaya organisasi yang dirasakan karyawan, semakin rendah tingkat stres kerja mereka.
Analisis menunjukkan nilai signifikansi 0,001 untuk pengaruh budaya organisasi terhadap stres kerja. Ketika budaya organisasi dan kepemimpinan dianalisis secara bersama-sama, keduanya mampu menjelaskan 87,5 persen variasi stres kerja berdasarkan nilai R² sebesar 0,875.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa budaya organisasi bukan sekadar identitas perusahaan. Cara perusahaan membangun komunikasi, kerja sama, dukungan, dan lingkungan kerja dapat berkaitan langsung dengan kondisi psikologis karyawan.
Kepemimpinan juga berperan dalam mengurangi tekanan kerja
Kualitas kepemimpinan menunjukkan pola yang serupa. Penelitian menemukan bahwa kepemimpinan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap stres kerja dengan nilai signifikansi 0,000.
Dengan kata lain, semakin baik kualitas kepemimpinan, semakin rendah stres yang dialami karyawan. Pemimpin yang mampu memberikan arahan yang jelas, memberikan dukungan, memperhatikan kondisi bawahan, dan membantu menyelesaikan persoalan di tempat kerja dapat menjadi sumber perlindungan dari tekanan kerja.
Johnnyfan, Goh, dan Saragih juga menemukan bahwa budaya organisasi dan kepemimpinan saling melengkapi dalam membentuk kondisi psikologis karyawan. Budaya kerja yang suportif dapat memperkuat rasa memiliki, sementara kepemimpinan yang baik dapat memberikan dukungan emosional dan kejelasan arah kerja.
Kepuasan kerja meningkat ketika budaya dan kepemimpinan membaik
Temuan berikutnya menunjukkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja. Nilai koefisien pengaruh langsungnya mencapai 0,401 dengan signifikansi 0,002.
Kepemimpinan juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dengan koefisien 0,276 dan signifikansi 0,038. Sebaliknya, stres kerja memberikan pengaruh negatif terhadap kepuasan kerja dengan koefisien -0,284 dan signifikansi 0,018.
Temuan ini memperlihatkan pola yang cukup jelas: lingkungan organisasi yang lebih sehat dan kepemimpinan yang lebih efektif berkaitan dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi, sedangkan stres kerja yang meningkat berkaitan dengan penurunan kepuasan kerja.
Stres menjadi penghubung antara lingkungan kerja dan kepuasan
Salah satu kontribusi penting penelitian ini adalah temuan bahwa stres kerja menjadi variabel perantara atau mediator.
Uji Sobel menghasilkan nilai 2,00 untuk hubungan antara budaya organisasi dan kepuasan kerja serta 2,15 untuk hubungan antara kepemimpinan dan kepuasan kerja. Kedua nilai tersebut lebih tinggi dari batas 1,96, sehingga efek tidak langsung dinyatakan signifikan.
Pada hubungan budaya organisasi dengan kepuasan kerja, pengaruh langsung tercatat sebesar 0,355, sedangkan pengaruh tidak langsung melalui stres kerja sebesar 0,102. Total pengaruh mencapai 0,457.
Sementara itu, kepemimpinan memiliki pengaruh langsung sebesar 0,380 terhadap kepuasan kerja dan pengaruh tidak langsung melalui stres kerja sebesar 0,213, sehingga total pengaruh mencapai 0,593.
Secara keseluruhan, budaya organisasi, kepemimpinan, dan stres kerja secara bersama-sama menjelaskan 87,7 persen variasi kepuasan kerja karyawan.
Implikasi bagi perusahaan manufaktur
Hasil penelitian memberikan pesan praktis bagi perusahaan. Peningkatan kepuasan kerja tidak cukup dilakukan hanya melalui kompensasi atau kebijakan individual. Perusahaan juga perlu memperhatikan bagaimana budaya kerja dibangun, bagaimana pemimpin berinteraksi dengan karyawan, dan bagaimana tekanan kerja dikelola.
Budaya organisasi yang terbuka, komunikatif, suportif, dan menghargai kontribusi karyawan dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat. Di sisi lain, pemimpin perlu memberikan arahan yang jelas sekaligus memperhatikan kebutuhan dan kondisi bawahannya.
Penelitian Johnnyfan, Goh, dan Saragih pada akhirnya merekomendasikan penguatan budaya organisasi, peningkatan kualitas kepemimpinan, dan pengelolaan stres secara terintegrasi sebagai strategi untuk meningkatkan kepuasan kerja di PT. Samawood Utara Work Industri.
Profil Penulis
Johnnyfan — Universitas Methodist Indonesia.
Thomas Sumarsan Goh — Universitas Methodist Indonesia.
Henri Saragih — Universitas Methodist Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul: The Role of Work Stress in Mediating the Effects of Organizational Culture and Leadership on Job Satisfaction at PT. Samawood Utama Works Industry
Penulis: Johnnyfan, Thomas Sumarsan Goh, Henri Saragih
Afiliasi: Universitas Methodist Indonesia
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 9, 2026, halaman 1259–1268
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i9.76
URL jurnal: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar