Perubahan Karakteristik Rumen dan Konsistensi Kotoran Anak Kambing Hibrida yang Diberi Makan Susu Kambing, Sapi, Kerbau, Susu Pengganti, dan Campuran Susu Kedelai-Kambing


Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Timor Leste - Pengaruh Berbagai Sumber Susu terhadap Perkembangan Rumen dan Konsistensi Feses Anak Kambing Persilangan. Penelitian yang dilakukan oleh Armando B. M. Afonso dari National University of Timor Lorosa'e, bekerja sama dengan Cesar C. Sevilla, Amado A. Angeles, Jose A. N. Bautista, dan Josefina T. Dizon dari University of the Philippines Los Baños (UPLB) dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 9 Tahun 2026 menyoroti bahwa memberikan panduan strategis bagi industri peternakan mengenai pilihan pakan cair pengganti yang efisien secara ekonomis tanpa mengganggu kesehatan saluran pencernaan ternak.

Latar Belakang: Mencari Alternatif Susu Cair yang Efektif dan Ekonomis

Anak kambing yang baru lahir memiliki organ rumen yang belum matang dan sangat bergantung pada asupan susu cair sebelum mampu mencerna pakan serat padat secara efisien. Meskipun susu kambing murni merupakan pakan alami terbaik, penggunaannya dalam jumlah besar sering kali mengurangi jatah susu cair yang dapat dijual ke pasar komersial sehingga meningkatkan biaya produksi peternakan. Kondisi ini mendorong para peneliti untuk menguji efektivitas sumber susu alternatif—seperti susu sapi, susu kerbau, pengganti susu (milk replacer), hingga pakan berbasis nabati seperti susu kedelai—guna menekan biaya operasional. Namun, perbedaan komposisi nutrisi dari setiap jenis susu dapat memberikan dampak berbeda pada pertumbuhan organ pencernaan serta adaptasi metabolik cempe.

Metodologi Penelitian Sederhana
Untuk menguji respon pencernaan tersebut, para peneliti merancang eksperimen acak lengkap menggunakan 30 ekor anak kambing jantan persilangan yang baru lahir. Setelah menerima kolostrum selama empat hari pertama, ternak dibagi secara acak ke dalam lima kelompok perlakuan pakan cair dengan masing-masing enam ulangan:

  • Kelompok 1 (T1): Susu kambing murni.
  • Kelompok 2 (T2): Susu sapi murni.
  • Kelompok 3 (T3): Susu kerbau murni.
  • Kelompok 4 (T4): Pengganti susu (milk replacer) komersial yang dilarutkan sesuai dosis.
  • Kelompok 5 (T5): Campuran 50% susu kedelai dan 50% susu kambing.
Pemberian susu cair dilakukan dua kali sehari selama masa pra-sapih hingga usia 68 hari. Bertahap mulai hari ke-15, cempe diperkenalkan dengan pakan padat berupa rumput segar dan pakan penguat (concentrate). Setelah fase penyapihan, ternak dialihkan penuh ke pakan padat hingga usia 128 hari untuk mengevaluasi pematangan rumen pasca-sapih. Peneliti mengukur kerapatan, panjang, dan luas permukaan penyerapan papila rumen melalui pengamatan fisik serta jaringan mikroskopis (histologi), di samping mencatat kondisi konsistensi feses harian.

Temuan Utama: Dampak Jenis Susu terhadap Organ Rumen dan Kesehatan Pencernaan
Penelitian ini mengungkapkan bahwa jenis pakan cair berpengaruh nyata terhadap pembentukan papila rumen serta toleransi pencernaan ternak:
  • Respon Pra-Sapih (Usia 68 Hari): Susu kerbau menghasilkan kerapatan papila rumen tertinggi sebesar 142 papila per cm², disusul susu sapi sebesar 134 papila per cm². Sebaliknya, susu kambing murni menghasilkan kerapatan papila terendah (90 papila per cm²), tetapi mencatat ukuran papila terpanjang yaitu 1,06 mm. Sementara itu, milk replacer menghasilkan keliling papila terbesar (2,00 mm) dan luas penampang terluas (0,64 mm²). Campuran susu kedelai dan susu kambing mencatat luas permukaan penyerapan rumen terkecil sebesar 183,98 mm²/cm².
  • Respon Pasca-Sapih (Usia 128 Hari): Setelah ternak disapih dan beralih sepenuhnya ke pakan padat, struktur organ rumen mengalami perkembangan pesat pada seluruh kelompok. Kelompok yang sebelumnya diberi susu sapi mencatat pertumbuhan panjang papila paling unggul secara signifikan, yakni mencapai 2,35 mm, jauh melampaui kelompok susu kambing (1,43 mm) maupun milk replacer (1,48 mm). Kelompok susu sapi ini juga menghasilkan total area penyerapan nutrisi tertinggi sebesar 545,64 mm²/cm².
  • Keamanan Jaringan Organ: Pemeriksaan histologis menunjukkan bahwa seluruh jenis pakan cair yang diuji aman dan tidak menimbulkan luka, peradangan, atau lesi jaringan (No Apparent Lesion - NAL) pada dinding rumen.
  • Adaptasi Pencernaan dan Konsistensi Feses: Pada dua minggu pertama, seluruh kelompok mengalami kotoran cair ringan akibat adaptasi awal terhadap pakan cair. Namun, anak kambing yang diberi campuran susu kedelai dan susu kambing menunjukkan frekuensi kotoran cair yang lebih sering dan memerlukan waktu pemulihan pencernaan lebih lambat dibanding kelompok pakan hewani.
Implikasi Praktis dan Dampak Bagi Industri Peternakan
Hasil penelitian ini memberikan kabar baik bagi efisiensi bisnis peternakan kambing. Peternak tidak harus bergantung sepenuhnya pada susu kambing murni untuk membesarkan cempe. Susu sapi segar maupun pakan pengganti susu (milk replacer) terbukti menjadi alternatif yang sangat layak secara biologis dan ekonomis. Kedua alternatif tersebut mampu mendukung perkembangan penyerapan organ rumen dengan baik tanpa memicu gangguan kesehatan pencernaan. Namun demikian, penggunaan pakan pengganti berbasis tanaman seperti susu kedelai membutuhkan kehati-hatian. Saluran pencernaan anak kambing muda memiliki tingkat sensitivitas tinggi terhadap protein nabati, sehingga berisiko memicu gangguan pencernaan jika tidak diproses dengan benar. Dalam analisisnya, Armando B. M. Afonso dan tim peneliti dari UPLB menegaskan bahwa pemberian pakan cair pada masa awal berfungsi meletakkan fondasi struktur organ, yang selanjutnya dipercepat oleh konsumsi pakan padat setelah penyapihan. Karena itu, pemilihan sumber susu hendaknya menyeimbangkan antara kinerja perkembangan biologis ternak dan efisiensi biaya operasional peternakan.

Profil Penulis
Armando B. M. Afonso, S.Pt., M.Si. (Penulis Utama): Dosen dan peneliti di National University of Timor Lorosa'e, Dili, Timor Leste, dengan kepakaran di bidang nutrisi dan fisiologi pencernaan ternak ruminansia.
Prof. Dr. Cesar C. Sevilla: Guru Besar di Institute of Animal Science, College of Agriculture and Food Science, University of the Philippines Los Baños (UPLB), Filipina, ahli dalam bidang nutrisi dan metabolisme ternak.
Dr. Amado A. Angeles: Akademisi dan peneliti di University of the Philippines Los Baños (UPLB), pakar dalam manajemen produksi ternak perah dan nutrisi ruminansia muda.
Dr. Jose A. N. Bautista: Peneliti dan staf pengajar di University of the Philippines Los Baños (UPLB), berfokus pada bidang fisiologi reproduksi dan produksi ternak.
Dr. Josefina T. Dizon: Peneliti di University of the Philippines Los Baños (UPLB), berpengalaman dalam studi ilmu peternakan dan pengembangan sistem produksi ternak berkelanjutan.

Sumber Penelitian
Armando B. M. Afonso, Cesar C. Sevilla, Amado A. Angeles, Jose A. N. Bautista, Josefina T. Dizon. Changes in Rumen Characteristics and Fecal Consistency of Crossbred Buck Kids Fed Goat, Cattle, Buffalo Milk, Milk Replacer, and Soybean-Goat Milk. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Volume 5, Nomor 9, Halaman 1997-2016)
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i9.127
Tautan Resmi: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar