Medan, September 2026 — Pendidikan inklusif di Indonesia terus berkembang dengan mendorong siswa penyandang disabilitas untuk belajar bersama siswa lainnya dalam lingkungan sekolah reguler. Namun, keberadaan siswa disabilitas di ruang kelas yang sama belum selalu berarti bahwa diskriminasi telah sepenuhnya hilang.
Hal tersebut terlihat dalam studi berjudul “The Challenge of Realizing Education Free from Discrimination Against Students with Disabilities: An Ethnographic Study at SMA Cahaya Medan” yang ditulis oleh Vinta Ito Manik, Ratih Baiduri, dan Supsiloani dari Universitas Negeri Medan. Artikel yang diterbitkan dalam Journal of Language Development and Linguistics (JLDL) pada September 2026 tersebut mengungkap bahwa SMA Cahaya Medan telah membangun praktik pendidikan inklusif melalui interaksi sosial, dukungan guru, dan kesempatan yang setara bagi siswa disabilitas. Meski demikian, berbagai bentuk ableisme atau pandangan yang menempatkan kemampuan tertentu sebagai standar “normal” masih ditemukan dalam kehidupan sekolah.
SMA Cahaya Medan dan Praktik Pendidikan Inklusif
SMA Cahaya Medan merupakan sekolah yang berada di bawah pengawasan Kongregasi Suster-Suster Santo Yosef (KSSY) dan dikelola melalui Yayasan Pendidikan Katolik Seri Amal. Sekolah yang berdiri sejak 1979 tersebut beralamat di Jalan Hayam Wuruk No. 11, Petisah Hulu, Medan Baru, Kota Medan.
Dalam praktiknya, sekolah menerima siswa dengan berbagai kondisi disabilitas untuk belajar bersama di kelas reguler. Dari 652 siswa kelas X hingga XII, terdapat delapan siswa berkebutuhan khusus, yang terdiri atas satu siswa dengan disabilitas fisik, satu siswa tunanetra, dan enam siswa tunarungu.
Pendidikan inklusif di sekolah tersebut tidak hanya terlihat dari keberadaan siswa disabilitas di ruang kelas. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan akademik maupun nonakademik, organisasi, serta berbagai aktivitas sosial di lingkungan sekolah.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya upaya membangun budaya sekolah yang menghargai keberagaman. Hubungan antarsiswa juga banyak dibangun melalui sikap saling membantu, toleransi, solidaritas, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Tantangan Tidak Hanya Berasal dari Fasilitas
Studi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan inklusif tidak semata-mata berkaitan dengan fasilitas atau kemampuan teknis sekolah dalam memberikan pembelajaran. Tantangan juga muncul dari cara masyarakat sekolah memandang disabilitas.
Dalam konteks pendidikan inklusif, ableisme dapat muncul ketika kemampuan tertentu dianggap sebagai standar yang lebih baik atau lebih “normal”, sementara perbedaan kemampuan dipandang sebagai kekurangan. Karena itu, keberadaan siswa disabilitas di sekolah reguler belum otomatis menghilangkan diskriminasi.
Penelitian tersebut menemukan adanya stereotip, anggapan bahwa siswa disabilitas kurang mampu, perlakuan yang terlalu protektif, hingga candaan yang secara tidak langsung memperkuat label terhadap mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan menuju sekolah inklusif juga membutuhkan perubahan cara pandang terhadap disabilitas.
Guru Menjadi Penghubung Penting dalam Kelas Inklusif
Proses pembelajaran menjadi salah satu tantangan utama. Guru harus menyesuaikan pembelajaran dengan perbedaan kemampuan akademik, kebutuhan komunikasi, serta cara siswa menerima informasi.
Bagi siswa tunarungu, misalnya, diskusi dengan banyak pembicara secara bersamaan dapat menjadi tantangan karena informasi verbal tidak selalu mudah diterima. Guru kemudian melakukan berbagai penyesuaian, seperti berbicara lebih jelas, menggunakan gerakan atau gestur, menuliskan informasi di papan, serta mendekati siswa ketika memberikan penjelasan.
Namun, penelitian juga menemukan bahwa belum semua guru memiliki pelatihan khusus mengenai pembelajaran inklusif. Dalam beberapa kondisi, guru masih mengandalkan pengalaman pribadi dan melakukan improvisasi dalam menyesuaikan metode pembelajaran.
Karena itu, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mediator sosial. Cara guru berkomunikasi dan memperlakukan perbedaan turut menentukan apakah ruang kelas menjadi lingkungan yang nyaman dan inklusif bagi seluruh siswa.
Penerimaan Sosial Belum Sepenuhnya Menghapus Jarak
Meskipun siswa disabilitas telah terlibat dalam kehidupan sosial sekolah, penelitian menunjukkan bahwa tantangan emosional masih dapat muncul.
Pada awal interaksi, siswa non-disabilitas terkadang bersikap terlalu hati-hati karena khawatir melakukan kesalahan. Sikap tersebut sebenarnya dapat muncul dari niat baik, tetapi apabila dilakukan secara berlebihan justru dapat menciptakan jarak sosial.
Perhatian yang terlalu besar juga berpotensi membuat seorang siswa lebih dikenal berdasarkan kondisi disabilitasnya dibandingkan identitasnya sebagai teman, anggota organisasi, atau bagian dari komunitas sekolah.
Selain itu, sebagian siswa disabilitas dapat merasakan tekanan untuk terus membuktikan bahwa mereka mampu. Proses adaptasi yang berlangsung terus-menerus juga dapat menimbulkan kelelahan emosional. Bahkan candaan yang dianggap biasa oleh siswa lain dapat menimbulkan ketidaknyamanan apabila berkaitan dengan kondisi disabilitas.
Inklusi Merupakan Proses Sosial yang Terus Berjalan
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bahwa pendidikan inklusif tidak dapat dipandang hanya sebagai kebijakan atau keputusan administratif sekolah.
Inklusi merupakan proses sosial dan budaya yang terus dinegosiasikan melalui interaksi sehari-hari. Siswa disabilitas tidak hanya menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, tetapi juga membangun identitas mereka sebagai teman, anggota organisasi, siswa aktif, dan bagian dari komunitas sekolah.
Pada saat yang sama, perspektif lama seperti stereotip, keraguan terhadap kemampuan, perlakuan berlebihan, dan candaan terkait disabilitas masih dapat muncul berdampingan dengan nilai-nilai baru tentang kesetaraan dan keberagaman.
Dengan demikian, munculnya tantangan tidak serta-merta menunjukkan bahwa pendidikan inklusif gagal. Sebaliknya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan budaya membutuhkan proses yang berkelanjutan, refleksi, penyesuaian, serta keterlibatan seluruh warga sekolah.
Pentingnya Mengubah Cara Pandang terhadap Disabilitas
Temuan penelitian ini memiliki implikasi yang lebih luas bagi pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia. Sekolah tidak cukup hanya menyediakan akses bagi siswa disabilitas untuk masuk dan belajar bersama siswa lainnya.
Lingkungan pendidikan juga perlu membangun budaya yang mampu menghargai keberagaman kemampuan, mengurangi stereotip, meningkatkan kapasitas guru, memperbaiki komunikasi, serta menciptakan hubungan sosial yang setara.
Studi tersebut menegaskan bahwa pendidikan inklusif di SMA Cahaya Medan telah memberikan ruang bagi siswa disabilitas untuk berpartisipasi dalam pembelajaran, organisasi, dan kehidupan sosial sekolah. Namun, inklusi tetap menjadi proses yang membutuhkan penyesuaian secara berkelanjutan.
Dengan kata lain, membangun sekolah yang benar-benar inklusif bukan hanya tentang menghadirkan siswa disabilitas di dalam kelas, tetapi juga memastikan bahwa mereka diterima, dihargai, didukung, dan diperlakukan sebagai bagian yang setara dari komunitas pendidikan.
Profil Penulis
- Vinta Ito Manik- Universitas Negeri Medan.
- Ratih Baiduri- Universitas Negeri Medan
- Supsiloani- Universitas Negeri Medan
Sumber
Judul artikel: The Challenge of Realizing Education Free from Discrimination Against Students with Disabilities: An Ethnographic Study at SMA Cahaya Medan
Penulis: Vinta Ito Manik, Ratih Baiduri, Supsiloani
Afiliasi: Universitas Negeri Medan
Jurnal: Journal of Language Development and Linguistics (JLDL)
Volume: 5, Nomor 2
Tahun: 2026
Halaman: 249–262
DOI: https://doi.org/10.55927/jldl.v5i2.16906
Website Jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/jldl

0 Komentar