Paparan Iklim Ekstrem Ancam Kesehatan Mata Jemaah Haji: Tinjauan Sistematis Ungkap Risiko Gangguan Permukaan Mata

Ilustrasi by AI

Jemaah haji yang menjalani ibadah di Arab Saudi menghadapi risiko kesehatan mata signifikan akibat paparan kondisi iklim gurun yang ekstrem. Sebuah tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Yuliono Trika Nur Hasan dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia, menunjukkan bahwa faktor lingkungan seperti suhu tinggi, kelembapan rendah, paparan sinar matahari, debu, dan penggunaan pendingin udara (AC) secara terus-menerus berkontribusi langsung terhadap ketidakstabilan lapisan air mata dan memicu gejala mata kering (dry eye disease). Penelitian yang dipublikasikan pada September 2026 ini menegaskan pentingnya memasukkan perlindungan kesehatan mata ke dalam program kesehatan perjalanan (travel medicine) bagi jemaah haji.

Latar Belakang dan Konteks Lingkungan

Ibadah haji merupakan salah satu kumpul massa internasional terbesar di dunia yang melibatkan jutaan jemaah dari berbagai penjuru bumi. Selama berada di Arab Saudi, jemaah dihadapkan pada perubahan lingkungan yang drastis, aktivitas fisik intensif di luar ruangan, serta kepadatan massa.

Selama ini, riset dan layanan kesehatan haji berfokus pada penyakit menular, gangguan pernapasan, dan kondisi gawat darurat akibat cuaca panas. Namun, gangguan non-infeksius seperti gangguan permukaan mata kurang mendapatkan perhatian medis, padahal ketidaknyamanan visual dapat mengganggu kekhusyukan ibadah, mobilitas, dan kualitas hidup jemaah.

Metodologi Penelitian Sederhana

Penelitian yang dipimpin oleh Yuliono Trika Nur Hasan ini menerapkan kerangka kerja sistematis Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020.

  • Pencarian Literatur: Peneliti melakukan penelusuran komprehensif pada empat basis data ilmiah terkemuka (Scopus, PubMed/MEDLINE, Web of Science, dan Embase) untuk studi yang diterbitkan antara Januari 2015 hingga Agustus 2026.
  • Kriteria Seleksi: Dari total 1.264 catatan ilmiah yang diidentifikasi, peneliti menyeleksi artikel berbasis data primer yang mengevaluasi gangguan permukaan mata, penyakit mata kering, serta faktor risiko lingkungan.
  • Sintesis Data: Sebanyak 5 studi primer kualitatif yang memenuhi kriteria ketat dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi pola dampak paparan iklim gersang terhadap kesehatan mata.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis sistematis mengonfirmasi beberapa poin penting terkait risiko gangguan permukaan mata:

  1. Prevalensi Mata Kering Sangat Tinggi: Studi populasi di Arab Saudi menunjukkan tingkat kejadian gejala mata kering yang amat tinggi, bervariasi antara 32,1% hingga 49,5% pada orang dewasa yang terpapar lingkungan iklim gersang.
  2. Pemicu Utama Lingkungan: Suhu panas yang ekstrem, kelembapan udara yang sangat rendah, paparan sinar ultraviolet (UV), debu, polusi udara, dan angin kencang mempercepat penguapan air mata.
  3. Faktor Gaya Hidup dan Lingkungan Dalam Ruangan: Penggunaan AC berlebih saat beristirahat serta penggunaan lensa kontak meningkatkan kerentanan permukaan mata terhadap iritasi.
  4. Kelompok Rentan: Jemaah lansia dan individu dengan riwayat penyakit sistemik atau gangguan mata sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala mata kering yang parah.

Implikasi dan Dampak Bagi Layanan Kesehatan Haji

Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual baru dengan menggeser pandangan bahwa gangguan permukaan mata bukan sekadar masalah medis minor, melainkan isu kesehatan lingkungan dan kedokteran wisata (travel medicine) yang krusial.

Implikasi praktis dari temuan ini meliputi:

  • Edukasi Pra-Pemberangkatan: Tim kesehatan haji mengimbau jemaah untuk membawa pelindung mata (kacamata hitam berpelindung UV), menjaga hidrasi tubuh, dan menggunakan tetes mata pelembap (air mata buatan) yang aman.
  • Skrining Kesehatan: Otoritas kesehatan disarankan menyertakan pemeriksaan singkat kondisi mata pada jemaah berisiko tinggi sebelum keberangkatan.
  • Mitigasi Risiko Lingkungan: Menyediakan area istirahat yang terlindung dari paparan debu dan pendingin udara langsung guna mengurangi laju penguapan air mata.

Profil Peneliti

Yuliono Trika Nur Hasan, M.D., Sp.M. (atau peneliti terkait) merupakan akademisi dan peneliti di bidang ilmu kedokteran dan kesehatan mata dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia. Keahliannya berfokus pada офтальмология (kesehatan mata), gangguan permukaan mata, kesehatan lingkungan, dan kedokteran perjalanan (travel medicine).

Sumber Penelitian Resmi

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar