Minat Riset Menentukan Efektivitas Latihan Terstruktur dalam Pembelajaran Metodologi Penelitian

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Mahasiswa dengan minat riset tinggi memperoleh hasil belajar lebih tinggi melalui latihan terstruktur dalam mata kuliah penelitian pendidikan dibandingkan pembelajaran langsung. Temuan ini dilaporkan Hamidi dari STKIP Hamzar bersama Robinson Situmorang dan Hartati Muchtar dari Universitas Negeri Jakarta melalui kajian terhadap 52 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) di STKIP Hamzar Lombok, Indonesia. Artikel tersebut diterbitkan pada 2026 dalam Formosa Journal of Science and Technology.

Penelitian ini penting karena mata kuliah metodologi penelitian tidak hanya menuntut mahasiswa memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan penelitian nyata. Mahasiswa calon guru perlu belajar mengidentifikasi masalah, menyusun pertanyaan penelitian, memilih metode, membuat instrumen, memahami bukti, menganalisis temuan, hingga menyusun laporan penelitian. Namun, materi metodologi penelitian sering dianggap padat secara konsep dan cukup teknis sehingga cara pembelajaran dapat memengaruhi hasil belajar mahasiswa.

Latihan Terstruktur Dibandingkan Pembelajaran Langsung

Hamidi, Robinson Situmorang, dan Hartati Muchtar membandingkan dua pendekatan pembelajaran, yaitu structured practice atau latihan terstruktur dan direct instruction atau pembelajaran langsung. Latihan terstruktur tidak sekadar memberikan lebih banyak tugas kepada mahasiswa. Model ini menyusun latihan secara bertahap, memberikan arahan dosen, menyediakan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi, serta menghubungkan latihan secara berulang dengan konsep yang sedang dipelajari.

Dalam penerapannya, mahasiswa mengerjakan berbagai aktivitas seperti mengidentifikasi dan merumuskan masalah penelitian, menyusun proposal, membuat instrumen penelitian, serta mempresentasikan dan mendiskusikan hasil pekerjaan. Dosen tetap memberikan bimbingan dan umpan balik sepanjang proses pembelajaran. Sementara itu, pada kelompok pembelajaran langsung, dosen memiliki peran lebih dominan dalam menyampaikan materi dengan porsi latihan mahasiswa yang lebih sedikit.
Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen faktorial 2 × 2. Sebanyak 52 mahasiswa dilibatkan, terdiri dari 24 mahasiswa dalam kelompok latihan terstruktur dan 28 mahasiswa dalam kelompok pembelajaran langsung. Masing-masing kelompok kemudian diklasifikasikan berdasarkan tingkat minat terhadap penelitian menjadi kelompok minat tinggi dan minat rendah.
Pembelajaran berlangsung selama 10 pertemuan dengan materi yang sama pada kedua kondisi. Hasil belajar diukur menggunakan tes yang mencakup konsep dasar penelitian pendidikan, jenis penelitian, metode penelitian, etika ilmiah dan plagiarisme, penyusunan proposal, serta penyusunan laporan penelitian. Data kemudian dianalisis menggunakan analisis statistik untuk melihat pengaruh metode pembelajaran, tingkat minat penelitian, dan hubungan antara keduanya.

Hasil Berbeda Menurut Tingkat Minat Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas metode pembelajaran tidak sama untuk semua mahasiswa. Faktor metode pembelajaran dan minat penelitian sama-sama menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar. Namun, temuan paling penting muncul pada interaksi antara kedua faktor tersebut.

Pada mahasiswa dengan minat penelitian tinggi, latihan terstruktur menghasilkan nilai rata-rata 27,17, sedangkan pembelajaran langsung menghasilkan rata-rata 22,64. Selisihnya mencapai 4,52 poin dan secara statistik signifikan. Ukuran efek yang dilaporkan juga tergolong besar, dengan nilai Cohen’s d sebesar 1,31.

Sebaliknya, pada mahasiswa dengan minat penelitian rendah, nilai rata-rata kelompok latihan terstruktur adalah 22,42, sementara kelompok pembelajaran langsung mencapai 23,29. Meskipun secara angka kelompok pembelajaran langsung memiliki rata-rata sedikit lebih tinggi, perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik.

Dengan demikian, hasil penelitian tidak menunjukkan bahwa latihan terstruktur selalu lebih efektif daripada pembelajaran langsung. Keunggulan latihan terstruktur terutama terlihat pada mahasiswa yang sejak awal memiliki minat tinggi terhadap kegiatan penelitian. Pada mahasiswa dengan minat penelitian rendah, tidak ditemukan perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kedua pendekatan tersebut.

Pembelajaran Perlu Menyesuaikan Karakteristik Mahasiswa

Temuan tersebut memberikan perspektif penting bagi pendidikan calon guru. Menurut Hamidi, Robinson Situmorang, dan Hartati Muchtar, pembelajaran metodologi penelitian sebaiknya tidak hanya berfokus pada pertanyaan metode mana yang paling efektif, tetapi juga mempertimbangkan untuk siapa dan dalam kondisi seperti apa suatu metode bekerja.

Latihan terstruktur memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berulang kali menggunakan konsep penelitian dalam situasi yang lebih nyata. Mahasiswa dengan minat penelitian tinggi kemungkinan memiliki dorongan yang lebih kuat untuk terlibat dalam proses tersebut, mulai dari menemukan masalah hingga menyusun proposal dan memperbaiki instrumen. Namun, penulis menegaskan bahwa mekanisme tersebut masih perlu diuji melalui penelitian berikutnya karena penelitian ini tidak secara langsung mengukur faktor seperti kepercayaan diri akademik, pengetahuan awal, pengaturan diri, atau keterlibatan mahasiswa.

Bagi mahasiswa dengan minat penelitian rendah, hasil penelitian tidak berarti bahwa mereka harus mendapatkan lebih sedikit pembelajaran aktif. Sebaliknya, penulis mengusulkan perlunya dukungan yang lebih bertahap, misalnya melalui contoh yang lebih jelas, latihan dengan siklus lebih pendek, umpan balik yang lebih sering, serta penjelasan mengenai hubungan antara keterampilan penelitian dan kebutuhan profesional calon guru.

Pendekatan ini juga dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum. Mata kuliah metodologi penelitian dapat menggabungkan penjelasan konsep dengan latihan menyusun masalah penelitian, proposal, instrumen, serta proyek penelitian sederhana. Penilaian juga dapat diperluas, tidak hanya melalui ujian akhir, tetapi melalui kemampuan mahasiswa menerapkan pengetahuan metodologi pada persoalan penelitian yang baru.

Tidak Berarti Pembelajaran Langsung Tidak Efektif

Penulis memberikan catatan penting bahwa temuan penelitian ini tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa pembelajaran langsung tidak efektif. Pembelajaran langsung tetap dapat membantu mahasiswa memahami istilah, prosedur, dan konsep baru melalui penjelasan serta pemodelan yang diberikan dosen.

Penelitian justru menunjukkan pentingnya mengatur keseimbangan antara penjelasan dosen, latihan terbimbing, umpan balik, diskusi, dan tugas penelitian. Efektivitas pembelajaran dapat berkaitan dengan karakteristik mahasiswa yang menerima metode tersebut.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Sampel hanya terdiri dari 52 mahasiswa dari satu institusi pendidikan guru. Selain itu, kelompok pembelajaran berasal dari konteks kampus yang berbeda sehingga pengaruh lingkungan kampus atau faktor lain belum sepenuhnya dapat dipisahkan dari pengaruh metode pembelajaran. Karena itu, hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas.

Profil Penulis

Hamidi merupakan penulis utama dan berasal dari STKIP Hamzar, Lombok, Indonesia. Robinson Situmorang dan Hartati Muchtar berasal dari Universitas Negeri Jakarta. Ketiganya berkontribusi pada kajian mengenai pembelajaran metodologi penelitian, desain pembelajaran, serta pendidikan calon guru. Artikel mencantumkan Hamidi sebagai corresponding author.

Sumber Penelitian

Judul: Interactive Effects of Structured Practice and Research Interest on University Students’ Learning Outcomes in an Educational Research Course
Penulis: Hamidi, Robinson Situmorang, Hartati Muchtar
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Volume/Nomor: Vol. 5, No. 9, 2026
Halaman: 2571–2586

Posting Komentar

0 Komentar