Mengidentifikasi Faktor yang Menghambat Digitalisasi E-Commerce pada UKM dan Pola Perilaku Konsumen untuk Meningkatkan Inklusi Ekonomi Digital

Gambar Ilustrasi AI

Enam Hambatan Utama Digitalisasi E-Commerce dan Pola Perilaku Konsumen UMKM di Bandung Raya

FORMOSA NEWS — Digitalisasi melalui e-commerce memegang peranan penting dalam memperkuat inklusi ekonomi digital bagi Usaha Mikro dan Kecil (UMK), khususnya pada sektor fashion kreatif. Penelitian komprehensif ini dilakukan oleh Agrie Wahyudi Kharisman, Fahmi Damarjati Ruseka, dan Ahmad Zulfahmi Ubaidillah dari Universitas Sangga Buana YPKP, dan dipublikasikan pada Oktober 2026. Hasil temuan ini menggarisbawahi perlunya pendekatan ekosistem yang mengintegrasikan literasi digital, akses pembiayaan, serta kepercayaan konsumen agar pelaku usaha kecil mampu bertahan dan bersaing di pasar digital.

Dinamika Transformasi Digital dan Tantangan Usaha Kecil

Transformasi ekonomi digital di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dengan kontribusi sektor e-commerce yang kian mendominasi aktivitas perdagangan nasional. Kendati jutaan pelaku usaha mikro telah memanfaatkan platform daring, kesiapan dalam mengoptimalkan ekosistem digital belum merata. Pelaku usaha kerap dihadapkan pada hambatan teknis maupun nonteknis, mulai dari keterbatasan pengoperasian fitur lanjutan hingga ketatnya persaingan pasar. Di sisi lain, perubahan perilaku belanja masyarakat menuntut UMK untuk memahami preferensi konsumen yang semakin selektif terhadap harga, promosi, dan reputasi toko.

Metode Penelitian Campuran di Wilayah Bandung Raya

Penelitian ini menerapkan pendekatan metode campuran (mixed methods) dengan desain sekuensial eksplanatori (sequential explanatory). Wilayah cakupan penelitian meliputi kawasan Bandung Raya yang mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat.

Tahap kualitatif melibatkan 20 pelaku UMK sektor fashion kreatif yang dipilih melalui teknik purposive sampling melalui wawancara mendalam. Sementara itu, tahap kuantitatif melibatkan 250 konsumen aktif e-commerce yang dipilih menggunakan accidental sampling dengan kriteria berusia minimal 18 tahun dan pernah bertransaksi dalam enam bulan terakhir. Analisis data diperdalam menggunakan kerangka teori Technology Acceptance Model (TAM) dan Theory of Planned Behavior (TPB).

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian mengidentifikasi hambatan operasional di sisi pelaku usaha serta memetakan faktor penentu keputusan belanja di sisi konsumen:

  • Enam Hambatan Utama Digitalisasi UMK: Pelaku usaha menghadapi kendala berupa rendahnya literasi digital (belum optimal menggunakan iklan berbayar dan analitik penjualan), keterbatasan modal untuk biaya promosi dan stok, persaingan harga yang memicu perang harga, perubahan algoritma marketplace, rendahnya kepercayaan konsumen pada toko baru, serta perubahan regulasi dan kebijakan platform.
  • Faktor Penentu Keputusan Pembelian Konsumen: Keputusan belanja konsumen digital sangat dipengaruhi oleh harga (89%), gratis ongkir (85%), rating produk (82%), review pembeli (80%), flash sale (73%), live shopping (61%), dan rekomendasi influencer (48%).
  • Loyalitas Konsumen yang Rendah: Sebanyak 69% konsumen mudah berpindah ke toko lain ketika menemukan harga yang lebih murah, sementara hanya 21% yang menyatakan loyal terhadap satu toko tertentu.
  • Preferensi Pembayaran: Dompet digital (e-wallet) menjadi pilihan pembayaran terfavorit (45%), diikuti transfer bank (28%), Cash on Delivery / COD (18%), dan layanan paylater (9%).

Implikasi dan Strategi Penguatan Inklusi Ekonomi Digital

Hasil analisis menegaskan bahwa keberhasilan digitalisasi tidak cukup diukur dari keterlibatan UMK masuk ke dalam platform digital semata. Diperlukan strategi komprehensif yang menjembatani sisi penawaran (supply side) dan permintaan (demand side) secara bersamaan.

Agrie Wahyudi Kharisman bersama tim dari Universitas Sangga Buana YPKP merumuskan lima strategi utama untuk mendongkrak inklusi ekonomi digital:

"Peningkatan inklusi ekonomi digital memerlukan pendekatan ekosistem yang mengintegrasikan pelatihan literasi digital dan pemanfaatan AI, kemudahan akses pembiayaan seperti KUR digital, penguatan kepercayaan konsumen melalui rating dan sertifikasi, optimalisasi data penjualan, serta kolaborasi erat antara pemerintah, marketplace, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi," ungkap para peneliti Universitas Sangga Buana YPKP tersebut.

Profil Penulis

  • Agrie Wahyudi Kharisman, S.E., M.M. – Dosen dan Peneliti, Universitas Sangga Buana YPKP (Bidang Keahlian: Manajemen Bisnis, E-Commerce, dan Transformasi Digital UMKM).
  • Fahmi Damarjati Ruseka – Peneliti, Universitas Sangga Buana YPKP (Bidang Keahlian: Manajemen Pemasaran dan Ekonomi Digital).
  • Ahmad Zulfahmi Ubaidillah – Peneliti, Universitas Sangga Buana YPKP (Bidang Keahlian: Sistem Informasi dan Kewirausahaan Digital).

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar