Sebuah penelitian kesehatan masyarakat terbaru
yang dipublikasikan pada September 2026 mengungkapkan bahwa faktor jenis
kelamin laki-laki, kebiasaan merokok aktif, status gizi kurang, serta kondisi
ventilasi rumah yang buruk menjadi pemicu utama penularan tuberkulosis (TBC)
paru
Tantangan Penanggulangan TBC
di Tingkat Komunitas
Di tingkat
pelayanan primer seperti Puskesmas Warung Jambu, upaya penemuan kasus terduga
TBC berhasil melampaui target
Metodologi Penelitian
Kesehatan Masyarakat
- Populasi dan Sampel: Penelitian melibatkan 100
responden pasien TBC yang terdaftar dan menjalani pengobatan di Puskesmas
Warung Jambu, Kota Bogor
. - Pengumpulan Data: Data primer mengenai kondisi
lingkungan rumah dan perilaku kebiasaan dihimpun melalui kuesioner terstruktur
Google Forms
. Data sekunder mengenai riwayat klinis pasien diperoleh dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) . - Analisis Data: Data diolah menggunakan uji statistik Chi-square pada program
SPSS untuk mengukur derajat hubungan, Prevalence Ratio (PR), dan interval kepercayaan (Confidence Interval/CI
95%)
. Penelitian ini telah mengantongi persetujuan etik resmi dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran UKI .
Temuan Utama Penelitian
- Jenis Kelamin Laki-Laki Berisiko Lebih Tinggi:
Laki-laki memiliki risiko 8,77 kali lebih tinggi terkena TBC paru dibandingkan
perempuan ($\text{PR} = 8,77$; $95\%\text{ CI: }
3,51\text{--}21,88$; $p < 0,001$)
. Tingginya mobilitas luar rumah, tingginya angka merokok, dan paparan lingkungan kerja menjadi pemicu utamanya . - Kebiasaan Merokok Aktif: Perokok aktif memiliki risiko
6,50 kali lebih tinggi menderita TBC paru dibanding non-perokok ($\text{PR} = 6,50$;
$p
< 0,001$)
. Paparan asap rokok merusak sistem pertahanan mukosiliar dan sel makrofag di saluran pernapasan . - Status Gizi Kurang (Undernutrition): Kondisi kekurangan gizi
berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) berhubungan signifikan dengan kejadian TBC
($\text{PR} = 1,70$; $95\%\text{ CI: }
1,36\text{--}2,11$; $p < 0,001$)
. Malnutrisi melemahkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi bakteri . - Ventilasi dan Luas Jendela Rumah Tidak Memenuhi Standard:
Rumah dengan luas ventilasi permanen kurang dari $1\text{ m}^2$ ($\text{PR}
= 1,53$; $p < 0,001$) dan luas jendela rumah kurang
dari $1\text{ m}^2$ ($p < 0,001$)
terbukti meningkatkan risiko penularan TBC akibat pertukaran udara yang minim
. - Faktor Lain yang Tidak Signifikan: Usia, tingkat
pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan, status HIV, riwayat diabetes
mellitus, luas jendela kamar tidur, pencahayaan rumah, dan perokok pasif tidak
menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dalam penelitian ini ($p >
0,05$)
.
Implikasi Kebijakan dan
Dampak Praktis
- Skrining Terfokus pada Kelompok Rentan: Program
penemuan kasus TBC secara aktif (active case finding) perlu difokuskan pada kelompok
laki-laki usia produktif dan perokok aktif
. - Integrasi Program Edukasi: Penanganan pasien TBC wajib
mengintegrasikan program penanganan ketergantungan rokok dan pemberian makanan
tambahan (PMT) untuk memulihkan status gizi pasien
. - Peningkatan Kualitas Permukiman Sehat: Pemerintah
daerah perlu memperkuat regulasi dan edukasi mengenai standar rumah sehat,
khususnya ketersediaan ventilasi udara yang memadai untuk memutus rantai
penularan penyakit menular melalui udara
.
Kutipan Penelitian
"Penularan
TBC di tingkat komunitas tidak dipengaruhi oleh satu faktor tunggal, melainkan
gabungan antara kebiasaan hidup, kondisi imunitas tubuh, dan kualitas
lingkungan tempat tinggal. Menghentikan kebiasaan merokok, membenahi status
gizi, dan memastikan ventilasi rumah yang sehat menjadi langkah krusial untuk
menekan angka kejadian TBC secara berkelanjutan."
Profil Singkat Peneliti
- Nama Peneliti Utama: dr. Andriyani Risma Sanggul, M.Kes.
- Nama Co-Peneliti: Morado Natanael Sidauruk, Kelly Ivana, Yudha Putra Santoso, dan Welly Salutondok
- Gelar Akademik: Dokter / Magister Kesehatan (M.Kes.)
- Afiliasi Universitas: Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, Indonesia
- Bidang Keahlian: Kesehatan Masyarakat, Kedokteran Komunitas, dan Epidemiologi Penyakit Menular
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: Risk Factors for Primary and Secondary Tuberculosis in the Warung Jambu Health Center Area, 2026
- Nama Jurnal: JURNAL MULTIDISIPLIN MADANI (MUDIMA)
- Tahun Publikasi: 2026
- DOI:
https://doi.org/10.55927/mudima.v6i9.130 - URL Resmi:
https://journalmudima.my.id/index.php/mudima

0 Komentar