Kolaborasi Tujuh Pemangku Kepentingan Dinilai Penting untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Konawe Selatan

Illustration by Ai


Peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Konawe Selatan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan sekolah. Kolaborasi antara organisasi guru, dewan pendidikan, kepala sekolah, forum guru mata pelajaran, komite sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun sistem pendidikan yang lebih partisipatif dan berkelanjutan.

Temuan tersebut disampaikan Sulsalman Moita dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Halu Oleo, melalui artikel berjudul Strategy for Strengthening Stakeholder Capacity to Improve the Quality of Education in Konawe Selatan Regency. Artikel tersebut diterbitkan dalam International Journal of Integrative Research (IJIR), Volume 4 Nomor 9 tahun 2026, halaman 837–848. Naskah diterima pada 4 Juli, direvisi pada 24 Agustus, dan diterima pada 26 September 2026.

Kajian ini menunjukkan bahwa peningkatan mutu pendidikan membutuhkan penguatan kapasitas para pemangku kepentingan melalui peningkatan kompetensi, pengembangan profesional guru dan kepala sekolah, koordinasi, pengawasan, komunikasi, serta keterlibatan masyarakat. Namun, sinergi antaraktor pendidikan masih perlu diperkuat agar program pendidikan tidak berjalan secara terpisah dan dapat memberikan dampak yang lebih berkelanjutan.

Tantangan Pendidikan Tidak Hanya Berasal dari Sekolah

Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kompetensi tenaga pendidik, fasilitas sekolah, biaya pendidikan, kurikulum, hingga tata kelola dan partisipasi masyarakat.

Dalam konteks Konawe Selatan, persoalan pendidikan masih mencakup tingginya angka putus sekolah pada jenjang menengah, kualitas dan kompetensi guru yang belum optimal, biaya pendidikan, perubahan kurikulum, serta keterbatasan infrastruktur. Pada saat yang sama, kebijakan pendidikan yang terlalu berorientasi pada target jangka pendek dinilai belum sepenuhnya membangun pola pengembangan pendidikan yang berkelanjutan.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Konawe Selatan memiliki 511 sekolah, yang terdiri dari 340 sekolah dasar, 110 sekolah menengah pertama, 50 sekolah menengah atas, dan 11 sekolah menengah kejuruan. Jumlah satuan pendidikan tersebut membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, sekolah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat.

Moita menekankan bahwa anggaran pendidikan yang besar tidak otomatis menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik apabila tidak didukung oleh kemampuan para pemangku kepentingan dalam mengelola dan memanfaatkannya secara efektif.

Karena itu, pendidikan perlu dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan pendanaan, sementara sekolah, guru, orang tua, organisasi profesi, dan masyarakat berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi program pendidikan.

Melibatkan Berbagai Aktor Pendidikan

Penelitian dilakukan di Kabupaten Konawe Selatan dengan melibatkan berbagai pihak sebagai sumber informasi, antara lain kepala unit pelaksana teknis pendidikan, kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, anggota komite sekolah, orang tua, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, dan siswa.

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, kuesioner, serta analisis dokumen. Peneliti juga melakukan pemeriksaan keabsahan data melalui triangulasi, keterlibatan berkelanjutan dengan informan, dan diskusi dengan pihak yang memahami bidang yang dikaji.

Dari kajian tersebut, terdapat tujuh kelompok pemangku kepentingan yang dinilai memiliki peran strategis dalam peningkatan mutu pendidikan di Konawe Selatan.

1. Organisasi Guru Perlu Memperkuat Kompetensi

Organisasi guru dapat menjadi wadah pengembangan profesional melalui pelatihan, pendampingan, seminar, lokakarya, dan kegiatan akademik lainnya.

Dalam konteks Konawe Selatan, organisasi seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI) diarahkan untuk memperkuat kompetensi pedagogis dan profesional guru. Pelatihan mencakup model pembelajaran, kurikulum, penyusunan perangkat pembelajaran, hingga penulisan karya ilmiah.

Moita juga menilai organisasi profesi guru perlu memperkuat jaringan internal dan eksternal, memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pembelajaran, serta membangun kemitraan dengan pemerintah daerah untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan persoalan pendidikan.

2. Dewan Pendidikan Harus Menjadi Penghubung Aspirasi Masyarakat

Dewan Pendidikan memiliki posisi penting dalam menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah daerah.

Namun, penelitian menemukan bahwa fungsi Dewan Pendidikan di Konawe Selatan belum sepenuhnya memenuhi harapan. Aktivitasnya dinilai masih cenderung berfokus pada kegiatan seremonial, sementara berbagai persoalan konkret seperti kebutuhan fasilitas laboratorium, literasi, dan angka putus sekolah masih membutuhkan perhatian lebih besar.

Dewan Pendidikan diharapkan dapat menjadi mediator antara pemerintah, masyarakat, sekolah, dan lembaga legislatif. Perannya mencakup mengumpulkan kebutuhan masyarakat, memberikan rekomendasi kebijakan, mendorong partisipasi orang tua, serta melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap program pendidikan.

3. Organisasi Profesi Guru Perlu Kembali Aktif

Selain organisasi pengembangan kompetensi, organisasi profesi guru juga dinilai perlu menghidupkan kembali fungsi profesionalnya.

Penelitian menemukan bahwa organisasi guru di tingkat kabupaten masih lebih banyak terlihat dalam kegiatan seremonial. Padahal, organisasi tersebut dapat menjadi ruang bagi guru untuk mendiskusikan persoalan pendidikan, membangun jejaring profesional, meningkatkan kompetensi, memperjuangkan perlindungan profesi, serta memberikan dukungan hukum dan kesejahteraan.

4. Kepala Sekolah Perlu Memperkuat Kepemimpinan

Forum kepala sekolah atau Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) menjadi salah satu elemen penting dalam penguatan manajemen sekolah.

Di Konawe Selatan, forum tersebut telah melakukan pertemuan secara berkala, mulai dari bulanan hingga triwulanan. Forum ini dapat digunakan untuk membahas masalah, tantangan, potensi, sumber daya, serta inovasi yang dihadapi masing-masing sekolah.

Moita menilai forum kepala sekolah juga dapat menjadi saluran untuk menyampaikan aspirasi sekolah kepada pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.

5. Forum Guru Mendorong Berbagi Pengetahuan

Forum guru mata pelajaran dan kelompok kerja guru juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Forum tersebut menjadi tempat bagi guru untuk membahas inovasi pendidikan, model pembelajaran, kurikulum, penggunaan teknologi, serta berbagai masalah yang muncul dalam kegiatan belajar mengajar.

Penelitian menemukan bahwa forum guru dapat membantu meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Guru juga dapat berbagi pengalaman dari pelatihan, seminar, lokakarya, penelitian tindakan kelas, dan kegiatan profesional lainnya.

6. Komite Sekolah Perlu Diperkuat

Komite sekolah di Konawe Selatan telah tersedia pada berbagai jenjang pendidikan, tetapi efektivitasnya masih berbeda-beda.

Penelitian menemukan bahwa kinerja sejumlah komite sekolah belum optimal. Rendahnya komitmen organisasi membuat fungsi pengawasan, kemitraan, dan dukungan terhadap sekolah masih cenderung berada di tangan internal sekolah. Akibatnya, komite sekolah berisiko hanya menjalankan fungsi simbolis.

Penguatan komite sekolah dapat dilakukan melalui revitalisasi struktur organisasi, pemilihan anggota yang memiliki pengalaman dan komitmen, pembagian tugas yang lebih jelas, serta pertemuan rutin untuk membahas persoalan sekolah.

7. Masyarakat Menjadi Bagian Penting dari Pendidikan

Keterlibatan masyarakat menjadi bagian terakhir dari strategi penguatan kapasitas pemangku kepentingan.

Penelitian menunjukkan bahwa dukungan orang tua dan masyarakat terhadap pendidikan di Konawe Selatan semakin terlihat. Tingkat partisipasi sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama telah mencapai 87%, meskipun indikator partisipasi pendidikan lainnya masih belum sepenuhnya mencapai target nasional.

Menurut Moita dari Universitas Halu Oleo, keterlibatan masyarakat tidak cukup hanya mendorong anak bersekolah. Masyarakat juga perlu berpartisipasi dalam menyediakan lingkungan belajar, mendukung fasilitas pendidikan, mengawasi program sekolah, serta terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pendidikan.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Secara keseluruhan, penelitian Moita menunjukkan bahwa mutu pendidikan merupakan hasil dari kerja bersama berbagai aktor, bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan sekolah.

Tujuh pemangku kepentingan memiliki fungsi yang saling melengkapi: organisasi guru memperkuat kompetensi dan kepentingan profesional, Dewan Pendidikan menyalurkan aspirasi dan melakukan pengawasan, organisasi profesi mendukung pengembangan serta perlindungan guru, forum kepala sekolah memperkuat kepemimpinan, forum guru meningkatkan kompetensi pembelajaran, komite sekolah menjadi penghubung sekolah dengan orang tua dan masyarakat, sedangkan masyarakat terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi pendidikan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa strategi peningkatan mutu pendidikan di Konawe Selatan perlu bergerak dari pendekatan yang hanya berfokus pada penyediaan anggaran dan fasilitas menuju ekosistem pendidikan yang kolaboratif, partisipatif, transparan, dan berbasis kebutuhan masyarakat.

Dengan koordinasi yang lebih kuat, setiap pemangku kepentingan dapat menjalankan fungsi secara lebih jelas dan saling mendukung. Pendekatan tersebut berpotensi membuat program pendidikan lebih terintegrasi, akuntabel, dan berkelanjutan.

Profil Penulis

Sulsalman Moita merupakan penulis artikel dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Halu Oleo. Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik penulis, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi.

Sumber Penelitian

Judul: Strategy for Strengthening Stakeholder Capacity to Improve the Quality of Education in Konawe Selatan Regency
Penulis: Sulsalman Moita
Afiliasi: FISIP, Halu Oleo University
Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR)
Volume: 4, Nomor 9
Tahun: 2026
Halaman: 837–848
DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i9.4
Website jurnal: https://journalijir.my.id/index.php/ijir

 


Posting Komentar

0 Komentar