Kendari — Infrastruktur jalan tidak hanya berperan menghubungkan manusia dan barang, tetapi juga dapat dirancang untuk mendukung lingkungan, kesehatan, kehidupan sosial, dan pembangunan ekonomi. Susanti Djalante dari Faculty of Civil Engineering, Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Indonesia, mengembangkan kerangka indikator kinerja untuk menilai infrastruktur jalan hijau dan keterkaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Artikel tersebut terbit pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) dan menunjukkan bahwa 30 indikator yang disusun dapat dikaitkan dengan 11 dari 17 SDGs melalui 47 hubungan indikator–SDG.
Gagasan jalan hijau muncul dari kebutuhan untuk mengurangi dampak lingkungan yang selama ini dapat menyertai pembangunan infrastruktur transportasi. Pembangunan dan pemeliharaan jalan membutuhkan material serta energi dalam jumlah besar dan dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca. Perluasan jaringan jalan juga dapat meningkatkan permukaan kedap air, mengubah penggunaan lahan, memecah habitat, serta menambah tekanan terhadap lingkungan. Karena itu, konsep jalan hijau tidak lagi melihat jalan hanya sebagai sarana mobilitas, tetapi sebagai bagian dari sistem lingkungan yang dapat memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat dan ekosistem.
Dalam kerangka yang dikembangkan Djalante, jalan hijau mencakup elemen seperti vegetasi di sepanjang jalan, permukaan yang memungkinkan infiltrasi air, saluran pengelolaan limpasan, bahu jalan, serta fasilitas mobilitas aktif seperti jalur pejalan kaki dan sepeda. Elemen tersebut dapat membantu mengatur suhu, mengelola air hujan, meningkatkan kualitas udara, menyediakan habitat, mendukung keanekaragaman hayati, sekaligus menciptakan lingkungan perjalanan yang lebih aman dan nyaman. Pendekatan tersebut menempatkan koridor jalan sebagai infrastruktur multifungsi yang memiliki hubungan dengan ekosistem dan kesejahteraan manusia.
Djalante menyusun kerangka tersebut melalui penelitian konseptual kualitatif berbasis tinjauan literatur terstruktur. Tidak ada responden, survei lapangan, atau pengambilan sampel statistik dalam kajian ini. Literatur yang telah diterbitkan digunakan sebagai dasar untuk membangun hubungan antara infrastruktur jalan hijau, jasa ekosistem, kesehatan ekosistem, kesehatan manusia, dan kesejahteraan. Korpus akhir terdiri atas 21 sumber, yaitu 17 artikel jurnal dan empat laporan atau buku institusional, dengan publikasi sumber antara 1987 dan 2026. Sebanyak 16 sumber atau 76 persen diterbitkan pada periode 2016–2026.
Analisis kemudian menggunakan kerangka DPSIR yang menghubungkan faktor pendorong, tekanan, kondisi lingkungan, dampak, dan respons kelembagaan. Dalam konteks jalan, pertumbuhan penduduk, aktivitas ekonomi, dan perubahan iklim dapat menghasilkan tekanan berupa perubahan penggunaan lahan, peningkatan permukaan kedap air, emisi, penggunaan sumber daya, kebisingan, dan limpasan air. Tekanan tersebut kemudian memengaruhi kualitas udara, air, tanah, suhu permukaan, vegetasi, habitat, serta kualitas lingkungan perjalanan. Dampaknya dapat dirasakan oleh ekosistem maupun manusia.
Hasil utama kajian menghasilkan 30 indikator yang terbagi dalam empat dimensi. Dimensi ekologis memiliki 10 indikator, dimensi kesehatan memiliki lima indikator, dimensi sosial-budaya memiliki delapan indikator, sedangkan dimensi ekonomi memiliki tujuh indikator. Indikator ekologis mencakup pengurangan panas perkotaan, peningkatan kualitas udara, penyerapan karbon, emisi sepanjang siklus hidup material perkerasan, penggunaan material rendah dampak, pengelolaan air hujan, perlindungan kualitas air dan tanah, pengurangan kebisingan, serta konektivitas habitat.
Pada aspek kesehatan, indikator yang digunakan mencakup dukungan terhadap aktivitas fisik melalui berjalan kaki dan bersepeda, manfaat mental dari lanskap hijau, interaksi sosial, keselamatan jalan, serta pengurangan paparan terhadap polusi udara dan kebisingan. Sementara itu, dimensi sosial-budaya melihat konektivitas jalur mobilitas aktif, akses terhadap moda transportasi, kualitas lingkungan pejalan kaki, kelayakan kawasan, identitas ruang, kualitas visual, partisipasi masyarakat, serta kesetaraan akses antargenerasi.
Dimensi ekonomi melengkapi kerangka dengan indikator penghematan biaya sepanjang siklus hidup, pengurangan kebutuhan infrastruktur drainase konvensional, peningkatan nilai properti dan lahan, aktivitas ekonomi lokal dan pariwisata, penghematan biaya kesehatan, pengurangan emisi dan penggunaan energi, serta pengurangan biaya akibat kemacetan dan waktu perjalanan. Dengan demikian, manfaat jalan hijau tidak hanya dinilai dari biaya pembangunan, tetapi juga dari nilai lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi yang dapat muncul dalam jangka panjang.
Pemetaan terhadap SDGs menunjukkan bahwa 30 indikator tersebut memiliki 47 hubungan dengan 11 SDGs. Kontribusi terbesar berada pada SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, dengan 17 indikator atau 56,7 persen dari keseluruhan indikator. SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera memiliki delapan indikator atau 26,7 persen, sedangkan SDG 9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur memiliki tujuh indikator atau 23,3 persen.
Indikator lainnya juga terhubung dengan SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi, SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, dan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pembangunan jalan hijau memiliki potensi kontribusi yang lebih luas daripada sekadar menyediakan jaringan transportasi.
Menurut kerangka tersebut, jalan dapat memberikan manfaat yang saling berkaitan. Jalur pejalan kaki dan sepeda dapat mendukung aktivitas fisik dan kesehatan, vegetasi dapat membantu mengurangi panas dan polusi, permukaan permeabel dapat membantu mengelola limpasan air, sementara pemilihan material rendah karbon dapat mengurangi beban lingkungan. Pada saat yang sama, konektivitas transportasi dan peningkatan kualitas ruang publik dapat mendukung aksesibilitas serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Kerangka ini juga dapat membantu lembaga transportasi dan perencana membandingkan pilihan desain, melakukan pemantauan kinerja, menetapkan tolok ukur, serta menghubungkan kinerja proyek jalan dengan pelaporan SDGs. Namun, Djalante menegaskan bahwa indikator yang dikembangkan masih berada pada tahap konseptual. Kerangka tersebut belum divalidasi oleh para ahli dan belum diterapkan pada koridor jalan nyata. Bobot masing-masing indikator, satuan pengukuran, sumber data, dan nilai ambang juga belum ditentukan.
Pengembangan berikutnya diarahkan pada validasi indikator melalui metode berbasis ahli, penentuan protokol pengukuran dan nilai benchmark, serta pengujian pada koridor jalan perkotaan dan perdesaan, termasuk di Indonesia. Kajian lanjutan juga dapat mengembangkan model penilaian gabungan dengan memberikan bobot pada 30 indikator berdasarkan preferensi pemangku kepentingan, penilaian ahli, dan metode analisis kuantitatif.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.292
Link jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

0 Komentar