Kepemimpinan Transformasional dan Transformasi Digital Meningkatkan Kinerja Pegawai Bea Cukai Indonesia

Created by AI

FORMOSA NEWS - Kepemimpinan transformasional dan transformasi digital memiliki hubungan positif dengan peningkatan kinerja pegawai di lingkungan pelayanan kepabeanan Indonesia. Temuan ini dilaporkan oleh Andika Wahyu Permadi dan Helni Mutiarsih Jumhur dari Telkom University, Indonesia, dalam artikel yang diterbitkan pada 2026 di International Journal of Management and Business Intelligence. Penelitian terhadap 97 pegawai KPPBC Tipe Madya Pabean C Kantor Pos Pasar Baru menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya berhubungan langsung dengan kinerja pegawai, tetapi juga berperan melalui transformasi digital. Hasil ini menegaskan pentingnya mengembangkan kemampuan kepemimpinan bersamaan dengan pemanfaatan teknologi digital di instansi pemerintah.

Tantangan Pelayanan Kepabeanan di Tengah Perubahan Perdagangan

Administrasi kepabeanan dan cukai Indonesia menghadapi lingkungan perdagangan internasional yang semakin kompleks. Perubahan rantai pasok global, ketidakpastian ekonomi, kebijakan perdagangan, dan perkembangan perdagangan elektronik lintas negara menciptakan tuntutan baru bagi lembaga yang bertanggung jawab mengawasi barang impor dan mengelola penerimaan negara.

KPPBC Tipe Madya Pabean C Kantor Pos Pasar Baru memiliki posisi khusus dalam struktur Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Unit ini menangani kiriman pos internasional, termasuk barang yang masuk ke Indonesia melalui jalur pos lintas negara.

Artikel Permadi dan Jumhur mencatat penurunan jumlah dokumen kiriman yang ditangani kantor tersebut. Jumlah dokumen turun dari 875.470 pada 2023 menjadi 459.156 pada 2024, kemudian 424.802 pada 2025. Sebaliknya, target penerimaan negara meningkat dari Rp45 miliar pada 2023 menjadi Rp50,8 miliar pada 2024.

Kondisi tersebut menggambarkan tantangan operasional yang dihadapi instansi pemerintah. Pegawai perlu menghadapi perubahan volume pekerjaan, menjaga kualitas pelayanan, memenuhi target organisasi, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi serta perubahan regulasi.

Transformasi digital menjadi salah satu pendekatan untuk menjawab tantangan tersebut. Namun, penerapan teknologi tidak otomatis menghasilkan peningkatan kinerja. Pegawai juga perlu memahami sistem baru, memanfaatkan informasi secara efektif, dan menyesuaikan kebiasaan kerja. Karena itu, kepemimpinan berperan penting dalam membantu pegawai menghadapi perubahan organisasi.

Peran Kepemimpinan dalam Mendukung Transformasi Digital

Kepemimpinan transformasional merupakan pendekatan kepemimpinan yang mendorong pegawai mencapai tujuan bersama, berpikir kritis, dan mengembangkan kemampuan diri. Pemimpin tidak hanya memberikan instruksi atau menetapkan target, tetapi juga membangun motivasi, menyampaikan visi, mendorong inovasi, dan menghargai kontribusi anggota tim.

Pendekatan ini mencakup empat unsur utama, yaitu menjadi teladan yang dipercaya, menyampaikan visi yang menginspirasi, mendorong munculnya gagasan baru, dan memberikan perhatian terhadap kebutuhan pengembangan setiap pegawai.

Pola kepemimpinan tersebut relevan bagi instansi pemerintah yang memiliki prosedur kerja, ketentuan regulasi, dan struktur birokrasi yang dapat memengaruhi proses penerapan teknologi baru.

Permadi dan Jumhur menguji hubungan kepemimpinan transformasional dengan kinerja pegawai serta peran transformasi digital sebagai faktor perantara. Kajian tersebut menghubungkan perilaku kepemimpinan dengan pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan operasional di unit kepabeanan Indonesia.

Dalam konteks ini, transformasi digital tidak sekadar mengganti dokumen kertas menjadi dokumen elektronik. Transformasi digital juga mencakup pengelolaan data, keamanan informasi, infrastruktur teknologi, kompetensi digital pegawai, manajemen risiko, dan integrasi sistem digital ke dalam proses kerja sehari-hari.

Kajian tersebut juga menggunakan kerangka Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) sebagai landasan untuk memahami transformasi digital di sektor publik Indonesia. SPBE diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang lebih efektif, transparan, dan akuntabel melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Survei terhadap 97 Pegawai Menunjukkan Tiga Hubungan Positif

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap pegawai KPPBC Tipe Madya Pabean C Kantor Pos Pasar Baru. Kuesioner disebarkan secara daring pada 26 Agustus hingga 4 September 2026.

Dari total 109 pegawai aktif, peneliti menerima 101 kuesioner. Sebanyak empat kuesioner tidak memenuhi persyaratan masa kerja minimal satu tahun sehingga dikeluarkan dari analisis. Dengan demikian, penelitian menggunakan 97 jawaban yang valid.

Survei mengukur tiga aspek utama, yaitu kepemimpinan transformasional, transformasi digital, dan kinerja pegawai. Kinerja pegawai dinilai berdasarkan kuantitas pekerjaan, kualitas hasil, ketepatan waktu, dan efisiensi biaya.

Data kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak SmartPLS untuk menguji hubungan antarvariabel dan mengetahui apakah transformasi digital menjadi perantara pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja pegawai.

Hasil analisis menunjukkan tiga hubungan langsung yang positif dan signifikan secara statistik.

Pertama, kepemimpinan transformasional berhubungan positif dengan kinerja pegawai. Koefisien hubungan tercatat sebesar 0,351 dengan nilai p sebesar 0,001. Hasil ini menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional yang lebih kuat berkaitan dengan kinerja pegawai yang lebih baik di kantor yang diteliti.

Kedua, kepemimpinan transformasional memiliki hubungan positif yang kuat dengan transformasi digital. Koefisiennya mencapai 0,701 dengan nilai p di bawah 0,001. Hubungan ini merupakan yang paling kuat di antara ketiga hubungan langsung yang diuji. Temuan tersebut menyoroti peran pemimpin dalam mendukung penerapan teknologi dan membantu organisasi beradaptasi.

Ketiga, transformasi digital berhubungan positif dengan kinerja pegawai. Koefisiennya sebesar 0,451 dengan nilai p di bawah 0,001. Hubungan ini lebih kuat dibandingkan hubungan langsung antara kepemimpinan transformasional dan kinerja pegawai.

Secara bersama-sama, kepemimpinan transformasional dan transformasi digital menjelaskan 54,9% variasi kinerja pegawai dalam model statistik penelitian. Sementara itu, kepemimpinan transformasional menjelaskan 49,1% variasi transformasi digital. Angka tersebut menunjukkan bahwa faktor lain di luar model juga berkontribusi terhadap kinerja pegawai dan keberhasilan transformasi digital.

Penilaian responden terhadap ketiga variabel juga berada dalam kategori tinggi. Rata-rata skor kepemimpinan transformasional mencapai 82,44%, transformasi digital 82,47%, dan kinerja pegawai 82,14%.

Transformasi Digital Menjadi Penghubung antara Kepemimpinan dan Kinerja

Temuan penting lainnya adalah peran transformasi digital sebagai variabel perantara atau mediator dalam hubungan kepemimpinan transformasional dengan kinerja pegawai.

Analisis menunjukkan bahwa pengaruh tidak langsung kepemimpinan transformasional terhadap kinerja melalui transformasi digital memiliki koefisien sebesar 0,316 dengan nilai p di bawah 0,001. Karena pengaruh langsung kepemimpinan terhadap kinerja juga tetap positif dan signifikan, hasil tersebut menunjukkan adanya mediasi parsial.

Secara sederhana, kepemimpinan dapat berkaitan dengan kinerja pegawai melalui dua jalur yang saling melengkapi.

Jalur pertama adalah pengaruh langsung. Pemimpin memberikan arahan, membangun motivasi, menjelaskan standar kerja, dan menghargai pencapaian pegawai.

Jalur kedua berlangsung melalui transformasi digital. Pemimpin mendukung penerapan dan pemanfaatan sistem digital sehingga pegawai dapat mengakses informasi, mengelola data, dan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien.

Dalam model penelitian, pengaruh total kepemimpinan transformasional terhadap kinerja pegawai mencapai 0,667 setelah pengaruh langsung dan tidak langsung digabungkan. Hasil ini menunjukkan bahwa kontribusi kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan motivasi pegawai, tetapi juga dengan dukungannya dalam membangun lingkungan kerja digital.

Meski demikian, hasil penelitian tidak berarti bahwa teknologi otomatis memperbaiki seluruh aspek kinerja. Temuan tersebut justru menunjukkan pentingnya dukungan organisasi dalam memastikan sistem digital dapat digunakan secara efektif.

Prioritas Perbaikan bagi Instansi Pemerintah

Hasil penelitian memberikan beberapa rekomendasi praktis bagi pengelola sektor publik, khususnya instansi kepabeanan dan organisasi yang sedang menjalankan transformasi digital.

1. Mengintegrasikan pengembangan kepemimpinan dengan program digitalisasi.

Pelatihan kepemimpinan dan penerapan teknologi sebaiknya dirancang secara terpadu. Pemimpin perlu menjelaskan tujuan perubahan digital, mendorong pegawai mencari cara kerja yang lebih baik, dan memberikan pendampingan ketika muncul kesulitan dalam menggunakan sistem baru.

2. Memperkuat manajemen pengetahuan.

Indikator manajemen pengetahuan memperoleh skor terendah dalam kelompok transformasi digital, yaitu 81,44%. Instansi dapat menindaklanjuti temuan ini dengan memperbaiki dokumentasi kerja, memperluas berbagi pengetahuan, menyediakan panduan yang mudah diakses, dan memfasilitasi pembelajaran ant pegawai.

3. Mendorong pemikiran kritis dan komunikasi dua arah.

Indikator kemampuan pemimpin dalam mendorong pemikiran baru memperoleh skor terendah pada kelompok kepemimpinan transformasional, yaitu 81,03%. Pemimpin dapat memperkuat aspek ini dengan membuka ruang bagi saran pegawai, membahas persoalan operasional secara terbuka, dan melibatkan tim dalam perbaikan proses kerja.

4. Memperkuat pengendalian kualitas.

Ketepatan pekerjaan dan efisiensi waktu memperoleh skor tertinggi dalam kelompok kinerja pegawai, masing-masing sebesar 82,89%. Namun, penerapan pengendalian kualitas memperoleh skor terendah, yaitu 80,82%. Artinya, peningkatan kecepatan kerja perlu diimbangi pemeriksaan kualitas yang konsisten serta kepatuhan terhadap pedoman kerja dan anggaran.

5. Memperhatikan faktor lain yang memengaruhi kinerja.

Model penelitian belum menjelaskan seluruh variasi kinerja pegawai. Faktor seperti motivasi kerja, kompensasi, budaya organisasi, literasi digital, dan kesiapan infrastruktur teknologi dapat menjadi perhatian dalam penelitian maupun kebijakan berikutnya.

Rekomendasi tersebut juga dapat dipertimbangkan oleh instansi pemerintah lain yang ingin meningkatkan kualitas pelayanan melalui digitalisasi.

Makna Temuan bagi Transformasi Pemerintahan Digital Indonesia

Transformasi pemerintahan digital di Indonesia tidak cukup dilakukan dengan membeli perangkat komputer, membangun aplikasi, atau menyediakan platform pelayanan elektronik. Instansi juga membutuhkan pegawai yang mampu beradaptasi serta pemimpin yang dapat mengarahkan perubahan organisasi.

Penelitian Andika Wahyu Permadi dan Helni Mutiarsih Jumhur memberikan bukti dari satu unit kepabeanan khusus bahwa kepemimpinan transformasional dan transformasi digital memiliki hubungan positif dengan kinerja pegawai. Hasilnya mendukung pendekatan manajemen terpadu, yaitu mengembangkan kemampuan pemimpin sekaligus memastikan teknologi digital memberikan manfaat nyata dalam pekerjaan sehari-hari.

Namun, hasil tersebut perlu dipahami sesuai dengan batasan penelitian. Survei hanya dilakukan pada satu kantor dan mengukur kondisi pada satu periode. Oleh karena itu, hasil analisis menunjukkan hubungan statistik antarvariabel, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kepemimpinan atau transformasi digital secara langsung menyebabkan peningkatan kinerja. Penelitian lanjutan di beberapa kantor kepabeanan dan dalam jangka waktu lebih panjang diperlukan untuk menguji apakah hubungan tersebut konsisten pada konteks organisasi yang berbeda.

Pelajaran utamanya adalah bahwa transformasi digital bukan semata-mata proyek teknologi, melainkan juga tantangan kepemimpinan dan pengembangan organisasi. Potensi teknologi akan lebih mudah diwujudkan ketika pemimpin mendukung pegawai, mendorong proses belajar, dan menghubungkan perubahan digital dengan peningkatan kinerja serta kualitas pelayanan publik.

Profil Penulis

Andika Wahyu Permadi merupakan penulis dan peneliti yang berafiliasi dengan Telkom University, Indonesia. Dalam artikel ini, ia mengkaji kepemimpinan transformasional, transformasi digital, dan kinerja pegawai pada lingkungan administrasi kepabeanan sektor publik.

Helni Mutiarsih Jumhur merupakan akademisi yang berafiliasi dengan Telkom University, Indonesia. Ia menjadi penulis bersama dalam kajian mengenai hubungan praktik kepemimpinan, transformasi digital, dan kinerja pegawai.

Sumber Penelitian

Judul artikel jurnal: The Effect of Transformational Leadership on Employee Performance Mediated by Digital Transformation at KPPBC Type Madya Pabean C Kantor Pos Pasar Baru

Penulis: Andika Wahyu Permadi dan Helni Mutiarsih Jumhur

Afiliasi: Telkom University, Indonesia

Nama jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJBMI)

Publikasi: Volume 4, Nomor 5, 2026, halaman 1383–1398

DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i5.74

Situs resmi jurnal: https://journalijmbi.my.id/index.php/ijmbi

Posting Komentar

0 Komentar