Penelitian berjudul “Strategic Financial Agility in Strengthening Corporate Resilience under Artificial Intelligence Driven Economic Uncertainty” mengkaji hubungan antara kelincahan keuangan dan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan operasional, beradaptasi terhadap gangguan, serta merespons perubahan kondisi bisnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan perusahaan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya keuangan, tetapi juga pada kemampuan perusahaan menyesuaikan penggunaan sumber daya tersebut ketika situasi berubah.
AI Menghadirkan Peluang dan Tantangan Baru bagi Dunia Usaha
Kecerdasan buatan mengubah cara perusahaan mengolah informasi, merencanakan operasional, dan mengambil keputusan. Teknologi berbasis AI dapat membantu perusahaan menganalisis informasi dengan lebih cepat, meningkatkan efisiensi, dan menemukan peluang bisnis. Namun, perubahan teknologi juga dapat menimbulkan kebutuhan investasi baru, mengubah model bisnis, serta meningkatkan tuntutan terhadap manajemen agar mampu merespons perubahan dengan lebih cepat.
Kondisi tersebut membuat kemampuan beradaptasi secara finansial semakin penting. Perusahaan mungkin memiliki sumber daya yang cukup, tetapi tetap mengalami kesulitan apabila anggaran tidak dapat dialihkan ketika prioritas berubah atau proses pengambilan keputusan keuangan membutuhkan waktu terlalu lama.
Dalam konteks regional Bengkulu, artikel penelitian tersebut menyebutkan bahwa perekonomian provinsi ini tumbuh sebesar 4,99% secara tahunan pada kuartal II tahun 2025, berdasarkan data badan statistik provinsi yang dirujuk dalam artikel. Meskipun pertumbuhan ekonomi menunjukkan aktivitas ekonomi yang positif, perusahaan tetap menghadapi tantangan akibat perkembangan teknologi dan perubahan kondisi eksternal.
Para peneliti mengkaji tantangan tersebut melalui konsep kelincahan keuangan strategis, yaitu kemampuan perusahaan mengelola sumber daya keuangan secara fleksibel, mengambil keputusan dengan cepat, dan menyesuaikan rencana investasi sebagai respons terhadap perubahan.
Survei terhadap 120 Manajer Keuangan dan Strategi
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei yang melibatkan 120 manajer keuangan dan strategi pada satu perusahaan di Bengkulu. Para responden dipilih karena memiliki tanggung jawab dalam pengambilan keputusan keuangan atau strategis.
Responden mengisi kuesioner terstruktur menggunakan skala penilaian lima poin. Data kemudian dianalisis dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), yaitu teknik statistik untuk menguji hubungan antarkonsep yang diukur melalui beberapa indikator.
Penelitian mengkaji tiga konsep utama, yaitu kelincahan keuangan strategis, ketahanan perusahaan, dan ketidakpastian ekonomi yang berkaitan dengan perubahan berbasis AI. Dalam penelitian ini, ketidakpastian ekonomi akibat perkembangan AI berfungsi sebagai konteks penelitian, bukan sebagai variabel yang diuji untuk menentukan apakah variabel tersebut memperkuat atau memperlemah hubungan antara kelincahan keuangan dan ketahanan perusahaan.
Dari seluruh responden, 66 orang atau 55% merupakan manajer keuangan, sedangkan 54 orang atau 45% merupakan manajer strategi. Sebagian besar responden berusia 36–45 tahun, yakni sebanyak 60,83%. Kelompok dengan masa kerja terbesar adalah responden yang telah bekerja selama enam hingga sepuluh tahun, yaitu sebesar 41,67%.
Kelincahan Keuangan Memiliki Hubungan Signifikan dengan Ketahanan Perusahaan
Hasil utama penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan secara statistik antara kelincahan keuangan strategis dan ketahanan perusahaan. Koefisien jalur yang dilaporkan adalah β = 0,541, dengan nilai statistik t sebesar 8,333 dan nilai p kurang dari 0,001.
Secara praktis, hasil tersebut menunjukkan bahwa kelincahan keuangan yang lebih tinggi berkaitan dengan ketahanan perusahaan yang lebih kuat pada responden dalam penelitian ini. Temuan statistik tersebut mendukung hipotesis peneliti bahwa perusahaan dengan kemampuan keuangan yang lebih adaptif cenderung lebih siap mempertahankan fungsi operasional dan merespons perubahan.
Model penelitian menghasilkan nilai R² sebesar 0,292. Artinya, kelincahan keuangan strategis menjelaskan 29,2% variasi ketahanan perusahaan dalam model tersebut. Angka ini tidak berarti bahwa ketahanan perusahaan meningkat sebesar 29,2%. Faktor lain, seperti kepemimpinan, budaya organisasi, kemampuan digital, inovasi, dan kesiapan tenaga kerja, juga dapat berkontribusi terhadap kemampuan perusahaan menghadapi gangguan.
Para peneliti juga menganalisis tiga komponen kelincahan keuangan:
- Fleksibilitas alokasi sumber daya: Komponen ini memperoleh skor rata-rata 3,442, tertinggi di antara ketiga komponen yang diukur. Hasil tersebut menggambarkan pentingnya kemampuan mengalihkan sumber daya keuangan ketika prioritas bisnis berubah.
- Adaptabilitas investasi: Komponen ini memperoleh skor rata-rata 3,433, yang menunjukkan relevansi penyesuaian keputusan investasi terhadap perkembangan kondisi bisnis.
- Kecepatan pengambilan keputusan keuangan: Komponen ini mencatat skor rata-rata 3,428, yang menekankan pentingnya keputusan tepat waktu dalam merespons risiko dan peluang baru.
Perbedaan skor rata-rata ketiga komponen tersebut relatif kecil. Meski demikian, pola ini menggambarkan bahwa kelincahan keuangan mencakup fleksibilitas anggaran, ketepatan waktu pengambilan keputusan, dan kemampuan menyesuaikan investasi, bukan hanya satu praktik keuangan tertentu.
Makna Temuan bagi Para Pemimpin Perusahaan
Bagi pemimpin perusahaan, temuan ini menunjukkan perlunya perubahan cara pandang terhadap fungsi keuangan dalam mendukung ketahanan organisasi. Pengelolaan keuangan tidak harus terbatas pada kegiatan administratif, seperti pelaporan, penyusunan anggaran, dan pemantauan pengeluaran. Fungsi keuangan juga dapat berperan strategis dalam membantu perusahaan beradaptasi terhadap ketidakpastian.
Pertama, perusahaan dapat membangun mekanisme yang memungkinkan pengalihan dana ketika kondisi pasar, kebutuhan teknologi, atau risiko operasional berubah. Hal ini bukan berarti mengabaikan pengendalian keuangan. Sebaliknya, perusahaan perlu memiliki prosedur yang jelas untuk meninjau prioritas dan mengalokasikan kembali sumber daya apabila diperlukan.
Kedua, manajemen dapat meningkatkan ketepatan waktu pengambilan keputusan keuangan dengan memperjelas tanggung jawab pengambil keputusan serta melakukan evaluasi rutin terhadap risiko bisnis dan asumsi investasi. Keputusan yang lebih cepat akan lebih bermanfaat apabila didukung oleh informasi yang dapat dipercaya dan sistem pertanggungjawaban yang memadai.
Ketiga, perusahaan dapat mengevaluasi kembali rencana investasi seiring berkembangnya teknologi AI. Sebelum mengalokasikan dana dalam jumlah besar, perusahaan perlu mempertimbangkan biaya, manfaat yang diharapkan, risiko penerapan, dan kebutuhan tenaga kerja yang berkaitan dengan penggunaan sistem baru.
Langkah-langkah tersebut berpotensi membantu perusahaan mempersiapkan diri menghadapi gangguan. Namun, penelitian ini tidak menguji intervensi manajemen tertentu atau membuktikan bahwa satu praktik khusus dapat menjamin ketahanan perusahaan.
Kelincahan Keuangan Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Solusi
Temuan penelitian mendukung pandangan bahwa pengelolaan keuangan yang adaptif merupakan salah satu kemampuan penting bagi perusahaan yang menghadapi perubahan teknologi dan ekonomi. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan. Studi tersebut melibatkan 120 manajer dari satu perusahaan di Bengkulu, menggunakan survei potong lintang (cross-sectional), dan mengukur tanggapan dalam satu periode pengamatan. Oleh karena itu, hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasikan kepada seluruh perusahaan, industri, atau wilayah di Indonesia.
Penelitian selanjutnya yang melibatkan berbagai perusahaan dan industri dalam periode lebih panjang dapat membantu menentukan apakah hubungan yang sama berlaku pada lingkungan bisnis yang berbeda. Studi mendatang juga dapat mengkaji hubungan antara kematangan digital, kelincahan kepemimpinan, pembelajaran organisasi, kemampuan AI, dan ketahanan perusahaan.
Untuk saat ini, pesan utama penelitian ini adalah bahwa perusahaan yang beroperasi dalam lingkungan bisnis yang semakin dipengaruhi AI membutuhkan lebih dari sekadar cadangan keuangan. Perusahaan juga perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan penggunaan sumber daya, mengambil keputusan tepat waktu, dan mengevaluasi kembali investasi seiring perubahan kondisi bisnis.
Profil Penulis
Artikel penelitian ini ditulis oleh lima peneliti yang berafiliasi dengan perguruan tinggi di Indonesia:
- Muhammad Istan — Institut Agama Islam Negeri Curup, Indonesia; penulis korespondensi.
- Jenita — Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Indonesia.
- Rahman Arifin — Institut Agama Islam Negeri Curup, Indonesia.
- Ety Yuliati — Universitas Ibn Khaldun Bogor, Indonesia.
- Imam Buchari — Universitas Al-Amien Prenduan, Indonesia.
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik para penulis atau biografi individual secara terperinci. Penelitian ini berfokus pada kelincahan keuangan strategis, manajemen keuangan, ketahanan perusahaan, serta ketidakpastian ekonomi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Strategic Financial Agility in Strengthening Corporate Resilience under Artificial Intelligence Driven Economic Uncertainty
Penulis: Muhammad Istan, Jenita, Rahman Arifin, Ety Yuliati, dan Imam Buchari
Jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI)
Tahun publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i5.64
Situs resmi jurnal: https://journalijmbi.my.id/index.php/ijmbi
ISSN-E: 3025-5589

0 Komentar