Inovasi Ekonomi Sirkular Meningkatkan Daya Saing UMKM di Negara Berkembang

Created by AI

FORMOSA NEWS - TERNATE — Inovasi ekonomi sirkular dapat membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meningkatkan daya saing melalui efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, penggunaan kembali bahan baku, dan perbaikan proses bisnis. Penelitian Asri Thalib dari Universitas Khairun Ternate, Indonesia, yang dipublikasikan pada 2026, menemukan bahwa inovasi ekonomi sirkular dan praktik manajemen berkelanjutan masing-masing memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap daya saing UMKM. Namun, praktik manajemen berkelanjutan belum terbukti memperkuat hubungan antara inovasi ekonomi sirkular dan daya saing usaha.

Temuan dalam artikel berjudul “Circular Economy Innovation and SME Competitiveness in Emerging Economies” tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak harus dipandang sebagai beban tambahan bagi pelaku usaha. Jika diterapkan melalui inovasi yang tepat, prinsip ekonomi sirkular dapat menjadi strategi bisnis untuk meningkatkan efisiensi, menciptakan nilai tambah, dan memperkuat posisi UMKM di pasar yang semakin kompetitif.

Ekonomi Sirkular Menawarkan Alternatif bagi UMKM

Model ekonomi konvensional umumnya mengikuti pola mengambil sumber daya, mengolahnya menjadi produk, kemudian membuang sisa material setelah digunakan. Pola ini dikenal sebagai ekonomi linear. Sebaliknya, ekonomi sirkular berupaya mempertahankan nilai bahan dan produk selama mungkin melalui penggunaan kembali, perbaikan, pengolahan ulang, serta pengurangan limbah.

Bagi UMKM, pendekatan ini dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan usaha. Pelaku usaha makanan, misalnya, dapat mengurangi sisa bahan produksi dan mengoptimalkan penggunaan bahan baku. Pengusaha kerajinan dapat memanfaatkan kembali potongan material untuk menghasilkan produk baru. Sementara itu, usaha manufaktur dapat memperbaiki proses produksi agar penggunaan bahan dan energi menjadi lebih efisien.

Langkah-langkah tersebut berpotensi mengurangi pemborosan sekaligus membuka peluang pengembangan produk yang memiliki nilai tambah. Di tengah persaingan pasar, kemampuan menghasilkan produk berkualitas dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien dapat menjadi salah satu keunggulan usaha.

Namun, penerapan ekonomi sirkular tidak selalu mudah. UMKM di negara berkembang sering menghadapi keterbatasan modal, teknologi, pengetahuan manajerial, dan tenaga kerja terampil. Karena itu, keberhasilan transformasi menuju usaha yang lebih berkelanjutan tidak hanya bergantung pada ide inovasi, tetapi juga pada kemampuan perusahaan mengelola perubahan.

Penelitian Melibatkan 150 Pelaku UMKM

Asri Thalib menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengkaji hubungan antara inovasi ekonomi sirkular, praktik manajemen berkelanjutan, dan daya saing UMKM. Penelitian melibatkan 150 responden dari sektor manufaktur dan jasa, dengan cakupan usaha yang meliputi pengolahan makanan, manufaktur, ritel, kerajinan, dan jasa.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala penilaian lima poin. Responden merupakan pemilik atau pengelola UMKM yang telah menjalankan usaha sekurang-kurangnya tiga tahun dan memahami praktik inovasi serta pengelolaan bisnis berkelanjutan.

Data kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), yaitu teknik statistik untuk menguji hubungan antara beberapa konsep yang diukur melalui sejumlah indikator.

Penelitian mengukur tiga aspek utama. Pertama, inovasi ekonomi sirkular, yang mencakup efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, penggunaan kembali bahan, dan perbaikan proses produksi. Kedua, praktik manajemen berkelanjutan, yang meliputi perencanaan keberlanjutan, komitmen manajemen, pengelolaan sumber daya, keterlibatan organisasi, dan penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengambilan keputusan. Ketiga, daya saing UMKM, yang berkaitan dengan efisiensi biaya, nilai bagi pelanggan, inovasi produk, dan kinerja pasar.

Inovasi Ekonomi Sirkular Berpengaruh Positif terhadap Daya Saing

Hasil analisis menunjukkan bahwa inovasi ekonomi sirkular memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap daya saing UMKM. Hubungan tersebut menghasilkan koefisien jalur sebesar 0,410 dengan nilai p kurang dari 0,001.

Artinya, dalam model penelitian ini, semakin kuat penerapan inovasi ekonomi sirkular, semakin tinggi pula daya saing UMKM yang dilaporkan. Temuan ini mendukung pandangan bahwa efisiensi sumber daya dan inovasi proses bisnis dapat menjadi bagian penting dari strategi menghadapi persaingan.

Penelitian juga menemukan bahwa inovasi ekonomi sirkular memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap praktik manajemen berkelanjutan, dengan koefisien sebesar 0,635 dan nilai p kurang dari 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan inovasi sirkular berkaitan dengan pengelolaan usaha yang lebih berorientasi pada keberlanjutan.

Selain itu, praktik manajemen berkelanjutan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap daya saing UMKM, dengan koefisien sebesar 0,406 dan nilai p kurang dari 0,001. Dengan demikian, inovasi dan pengelolaan bisnis berkelanjutan masing-masing berhubungan positif dengan daya saing usaha.

Meskipun demikian, penelitian menghasilkan temuan penting pada hubungan antara kedua faktor tersebut. Praktik manajemen berkelanjutan tidak terbukti memperkuat pengaruh inovasi ekonomi sirkular terhadap daya saing. Pengujian interaksi menghasilkan koefisien sebesar -0,089 dengan nilai p sebesar 0,256, sehingga hasilnya tidak signifikan secara statistik.

Temuan ini menunjukkan bahwa praktik manajemen berkelanjutan dapat berkontribusi langsung terhadap daya saing, tetapi keberadaannya tidak otomatis memperbesar dampak inovasi ekonomi sirkular. Peneliti mengemukakan bahwa keterbatasan modal, teknologi, pengetahuan, dan kesiapan organisasi dapat menjadi tantangan bagi UMKM dalam mengintegrasikan inovasi dengan sistem manajemen berkelanjutan.

Pengelolaan Berkelanjutan Perlu Berjalan Bersama Inovasi

Hasil penelitian memberikan sejumlah implikasi bagi pelaku UMKM. Salah satunya adalah pentingnya mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan usaha, bukan sekadar mengikuti tren keberlanjutan.

Pelaku UMKM dapat memulai dengan mengevaluasi bagian proses bisnis yang paling banyak menghasilkan limbah atau menggunakan bahan baku secara tidak efisien. Setelah itu, mereka dapat mencoba penggunaan kembali material, pengurangan sisa produksi, perbaikan desain produk, atau penyesuaian proses kerja untuk menghemat sumber daya.

Langkah berikutnya adalah memperkuat praktik manajemen. Pemilik usaha perlu menetapkan target pengurangan limbah, memantau biaya produksi, melibatkan karyawan dalam perbaikan proses, serta mempertimbangkan dampak lingkungan ketika mengambil keputusan bisnis.

Pendekatan tersebut dapat membantu UMKM menghubungkan inovasi dengan kebutuhan operasional sehari-hari. Namun, pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan biaya awal, ketersediaan teknologi, permintaan pasar, dan manfaat ekonomi yang realistis.

Bagi pemerintah dan lembaga pendamping UMKM, penelitian ini juga menyoroti pentingnya dukungan yang tidak berhenti pada sosialisasi konsep ekonomi sirkular. Pelatihan inovasi ramah lingkungan, pendampingan manajerial, akses teknologi, dan pembiayaan yang sesuai dapat membantu pelaku usaha menerapkan perubahan secara bertahap.

Dukungan tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap usaha. UMKM pengolahan makanan, misalnya, memiliki kebutuhan berbeda dari usaha kerajinan atau manufaktur. Karena itu, program pendampingan yang berangkat dari masalah nyata pelaku usaha berpotensi lebih relevan daripada pendekatan yang seragam.

Hasil Penelitian Perlu Dipahami Sesuai Batasannya

Penelitian ini memberikan bukti empiris mengenai hubungan inovasi ekonomi sirkular, praktik manajemen berkelanjutan, dan daya saing UMKM. Namun, hasilnya perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasan penelitian.

Data diperoleh melalui survei pada satu periode pengamatan dan berdasarkan tanggapan responden. Dengan desain tersebut, penelitian belum dapat menjelaskan secara mendalam perubahan kinerja UMKM dalam jangka panjang atau memastikan bahwa inovasi ekonomi sirkular menjadi satu-satunya penyebab peningkatan daya saing.

Selain itu, meskipun artikel membahas UMKM di negara berkembang, sampel yang dilaporkan berjumlah 150 responden dari beberapa sektor usaha. Hasilnya tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh UMKM di semua negara berkembang.

Penelitian berikutnya dapat melibatkan lebih banyak wilayah dan sektor, menggunakan pengamatan jangka panjang, serta menggabungkan survei dengan wawancara. Faktor lain seperti kemampuan digital, dukungan pemerintah, inovasi teknologi, dan kolaborasi rantai pasok juga dapat dikaji untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh.

Secara keseluruhan, penelitian Asri Thalib menegaskan bahwa ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu pendekatan strategis untuk memperkuat daya saing UMKM. Penggunaan sumber daya yang lebih efisien, pengurangan limbah, inovasi produk, dan pengelolaan usaha yang berkelanjutan dapat membantu pelaku usaha menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa inovasi tersebut didukung oleh kemampuan manajerial, teknologi, dan sumber daya yang memadai.

Profil Penulis

Asri Thalib merupakan penulis penelitian yang berafiliasi dengan Universitas Khairun Ternate, Indonesia. Ia menjadi penulis korespondensi untuk artikel “Circular Economy Innovation and SME Competitiveness in Emerging Economies”. Informasi yang tersedia pada naskah sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun biografi terperinci mengenai bidang keahlian penulis.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Circular Economy Innovation and SME Competitiveness in Emerging Economies

Penulis: Asri Thalib

Jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI)

Tahun publikasi: 2026

DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i5.65

Situs resmi jurnal: https://journalijmbi.my.id/index.php/ijmbi

ISSN-E: 3025-5589

Posting Komentar

0 Komentar