Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI) ini menemukan bahwa ketiga faktor tersebut secara bersama-sama menjelaskan 53,5% variasi kepuasan kerja guru. Budaya organisasi memberikan kontribusi relatif terbesar, diikuti komitmen organisasi dan lingkungan kerja. Temuan ini memberikan gambaran bagi pengelola sekolah dan yayasan pendidikan mengenai pentingnya membangun suasana kerja yang positif untuk mendukung pengalaman profesional guru.
Mengapa Kepuasan Kerja Guru Penting?
Guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas daripada mengajar di dalam kelas. Mereka juga mengelola kegiatan pembelajaran, berinteraksi dengan siswa dan orang tua, bekerja sama dengan rekan sejawat, menyelesaikan tugas administrasi, serta menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan pendidikan.
Berbagai tanggung jawab tersebut menjadikan kepuasan kerja sebagai salah satu aspek penting dalam pengelolaan sekolah. Kepuasan kerja menggambarkan penilaian positif seseorang terhadap pekerjaannya, termasuk tanggung jawab, penghargaan, kondisi tempat kerja, dan hubungan dengan rekan kerja.
Guru yang merasa dihargai dan memperoleh dukungan dari lingkungan sekolah berpotensi memiliki pengalaman kerja yang lebih positif. Sebaliknya, persoalan mengenai penghargaan, hubungan antarrekan, fasilitas, dan dukungan organisasi dapat memengaruhi penilaian guru terhadap pekerjaannya.
Persoalan ini menjadi relevan bagi sekolah yang dikelola yayasan pendidikan. Selain mengikuti aturan formal, sekolah juga memiliki nilai dan identitas kelembagaan yang memengaruhi perilaku serta interaksi sehari-hari.
Di sekolah-sekolah yang diteliti, YPK St. Yoseph Medan menekankan nilai iman, tanggung jawab, ketulusan, ketaatan, dan ketekunan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi guru dalam menjalankan tugas profesional dan membangun hubungan kerja yang baik.
Namun, nilai organisasi tidak cukup hanya dicantumkan dalam aturan atau slogan sekolah. Nilai tersebut perlu tercermin dalam keputusan pimpinan, komunikasi, kerja sama, serta cara sekolah menghargai kontribusi guru.
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Penelitian ini melibatkan 40 guru tetap yayasan dari tiga sekolah, yaitu SMP Cinta Rakyat 1, SMP Cinta Rakyat 2, dan SMP Cinta Rakyat 3 di Kota Pematangsiantar. Masing-masing sekolah menyumbangkan 25, tujuh, dan delapan responden.
Karena jumlah populasi relatif kecil, seluruh guru tetap yang termasuk dalam populasi penelitian dilibatkan sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Kuesioner menggunakan skala penilaian lima tingkat untuk mengukur komitmen organisasi, budaya organisasi, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja.
Sebelum digunakan dalam penelitian utama, instrumen diuji kepada 30 guru di luar sampel penelitian. Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa pertanyaan yang digunakan memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas.
Selanjutnya, data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Secara sederhana, metode ini digunakan untuk mengetahui hubungan beberapa faktor dengan kepuasan kerja guru sekaligus memperhitungkan keberadaan faktor-faktor lainnya dalam model analisis.
Para peneliti juga melakukan pengujian statistik untuk mengetahui hubungan masing-masing faktor dan pengaruh ketiganya secara bersama-sama dalam model penelitian.
Tiga Faktor yang Berkaitan dengan Kepuasan Kerja Guru
Hasil analisis menunjukkan bahwa komitmen organisasi, budaya organisasi, dan lingkungan kerja masing-masing memiliki hubungan positif dan signifikan secara statistik dengan kepuasan kerja guru.
1. Budaya organisasi memberikan kontribusi relatif terbesar.
Budaya organisasi memiliki koefisien regresi terstandar sebesar β = 0,377, sedikit lebih tinggi daripada komitmen organisasi.
Hasil ini menunjukkan pentingnya nilai bersama, norma perilaku, dan rasa memiliki dalam lingkungan sekolah. Di bawah naungan YPK St. Yoseph Medan, nilai iman, tanggung jawab, ketulusan, ketaatan, dan ketekunan dapat menjadi pedoman dalam membangun perilaku profesional dan kerja sama.
Bagi pengelola sekolah, temuan ini menunjukkan perlunya menerapkan nilai kelembagaan dalam kegiatan sehari-hari. Pimpinan sekolah dapat memperkuat budaya organisasi melalui komunikasi yang terbuka, penerapan aturan secara konsisten, pengambilan keputusan yang adil, dan penghargaan terhadap kontribusi guru.
2. Komitmen organisasi juga berperan penting.
Komitmen organisasi memiliki koefisien regresi terstandar sebesar β = 0,376, dengan nilai signifikansi 0,004.
Komitmen organisasi menggambarkan keterikatan guru terhadap sekolah serta kesediaan mereka untuk mendukung tujuan institusi. Guru yang memiliki keterikatan kuat dengan sekolah dapat merasa lebih terhubung dengan visi lembaga dan tanggung jawab profesionalnya.
Temuan ini memberikan alasan bagi sekolah untuk membangun rasa memiliki dan melibatkan guru dalam kegiatan kelembagaan. Komunikasi yang jelas mengenai tujuan sekolah, kesempatan berpartisipasi, dan hubungan yang baik antara pimpinan dan guru dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat komitmen organisasi.
3. Lingkungan kerja tetap menjadi faktor penting.
Lingkungan kerja memiliki koefisien regresi terstandar sebesar β = 0,285, dengan nilai signifikansi 0,020.
Lingkungan kerja mencakup kondisi fisik maupun sosial. Aspek fisik meliputi ruang kelas, fasilitas pembelajaran, dan ketersediaan sarana kerja. Sementara itu, aspek sosial mencakup komunikasi, hubungan antarpegawai, kerja sama, serta dukungan administratif.
Walaupun kontribusi relatifnya lebih rendah dibandingkan dua faktor lainnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja tetap berkaitan secara signifikan dengan kepuasan guru. Sekolah dapat menindaklanjutinya dengan memperhatikan kelayakan fasilitas, memperbaiki koordinasi antarguru, membangun komunikasi yang sehat, dan menyediakan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Ketiga Faktor Menjelaskan 53,5% Variasi Kepuasan Guru
Model analisis secara keseluruhan menunjukkan hasil yang signifikan, dengan nilai F sebesar 14,629 dan nilai p kurang dari 0,001. Artinya, komitmen organisasi, budaya organisasi, dan lingkungan kerja secara bersama-sama memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan kerja guru dalam sampel penelitian.
Nilai koefisien determinasi atau R² mencapai 0,535. Angka tersebut berarti bahwa ketiga faktor dalam model menjelaskan 53,5% variasi kepuasan kerja guru yang diamati.
Sementara itu, 46,5% sisanya berkaitan dengan faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model. Penelitian ini belum memastikan faktor tambahan apa saja yang menjelaskan bagian tersebut.
Hasil tersebut mendukung pendekatan pengelolaan sekolah yang terpadu. Peningkatan fasilitas saja belum tentu menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan rasa memiliki atau budaya organisasi. Sebaliknya, penguatan nilai kelembagaan juga perlu disertai kondisi kerja yang mendukung agar guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Sitepu, Restu, dan Purba (2024), yang melaporkan hubungan signifikan antara budaya sekolah dan kepuasan kerja guru SMP di Kabupaten Karo. Penelitian Eryilmaz dan rekan-rekannya (2025) juga menyoroti pentingnya kondisi kerja sekolah dalam kepuasan kerja guru berdasarkan bukti internasional.
Kesamaan temuan tersebut memperkuat relevansi budaya organisasi dan lingkungan kerja dalam pembahasan kepuasan guru, meskipun setiap penelitian memiliki konteks dan karakteristik responden yang berbeda.
Implikasi bagi Pengelolaan Sekolah
Hasil penelitian ini memberikan beberapa pertimbangan praktis bagi yayasan pendidikan dan pengelola sekolah.
Pertama, pimpinan sekolah dapat memperkuat budaya organisasi dengan menerapkan nilai kelembagaan secara konsisten dalam perilaku dan keputusan sehari-hari. Komunikasi yang terbuka, standar profesional yang jelas, dan penghargaan atas kontribusi guru dapat membantu menciptakan suasana kerja yang lebih positif.
Kedua, komitmen organisasi dapat diperkuat dengan memberikan ruang partisipasi kepada guru, menjelaskan arah dan prioritas sekolah, serta membangun hubungan profesional yang saling mendukung. Guru perlu memahami bagaimana kontribusi mereka berkaitan dengan tujuan pendidikan lembaga.
Ketiga, perbaikan lingkungan kerja dapat dilakukan melalui evaluasi fasilitas pembelajaran, penyediaan sarana kerja, peningkatan koordinasi, serta penguatan hubungan antarguru dan dukungan administratif.
Meski demikian, hasil penelitian perlu dipahami sesuai dengan cakupannya. Penelitian hanya melibatkan 40 guru tetap yayasan dari tiga sekolah di satu kota dan menggunakan data kuesioner yang dikumpulkan dalam satu periode. Karena itu, hubungan statistik yang ditemukan tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat, dan hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh guru di Indonesia.
Penelitian lanjutan dengan jumlah responden yang lebih besar, beragam jenis yayasan pendidikan, dan variabel tambahan diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan kepuasan kerja guru.
Profil Singkat Penulis
Artikel ini ditulis oleh Juniarto Leonardus Sidabutar, Marisi Butarbutar, Efendi, Sherly, dan Liper Siregar. Kelima penulis berafiliasi dengan Program Magister Ilmu Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sultan Agung, Indonesia.
Artikel tersebut membahas manajemen organisasi pendidikan, khususnya hubungan antara komitmen organisasi, budaya organisasi, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja guru. Juniarto Leonardus Sidabutar bertindak sebagai penulis korespondensi dan dapat dihubungi melalui email juniarto.leonardus@gmail.com.
Informasi yang tersedia dalam naskah sumber tidak mencantumkan gelar akademik setiap penulis maupun bidang keahlian individual mereka secara terperinci.
Sumber Penelitian
Sidabutar, J. L., Butarbutar, M., Efendi, Sherly, dan Siregar, L. (2026). “The Effect of Organizational Commitment, Organizational Culture, and Work Environment on Teachers’ Job Satisfaction in Junior High Schools Under the Auspices of YPK St. Yoseph Medan in Pematangsiantar City.” International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI).
DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i5.67
Situs jurnal: https://journalijmbi.my.id/index.php/ijmbi

0 Komentar