Budaya "asal bapak
senang" atau sycophancy di lingkungan birokrasi dan organisasi
modern bukan sekadar masalah etika antarpribadi atau perilaku penjilat biasa.
Perilaku ini telah berkembang menjadi ancaman serius bagi integritas informasi
dan tata kelola organisasi.
Penelitian terbaru yang dilakukan
oleh Loso Judijanto dari IPOSS Jakarta mendokumentasikan
bagaimana pola penyesuaian diri ke atas, pembungkaman diri (employee silence),
dan sikap penurut secara rasional dapat merusak pengambilan keputusan serta
memicu kegagalan akuntabilitas publik. Kajian ilmiah bertajuk "When
Agreement Becomes Governance: Sycophancy, Silence, and Upward Conformity as
Information-Integrity Failures in Modern Bureaucracies – A Critical
Review" ini dipublikasikan dalam jurnal Multitech Journal of
Science and Technology (MJST) pada tahun 2026.
Loso Judijanto menegaskan bahwa
ketika perbedaan pendapat membawa risiko karier dan pujian menghasilkan
imbalan, bawahan cenderung menyaring informasi negatif demi keamanan pribadi.
Akibatnya, pimpinan puncak menerima laporan yang telah dipoles, menciptakan
konsensus palsu yang sangat berbahaya bagi keberlangsung institusi.
Latar Belakang: Ketika
Asimetri Kekuasaan Membungkam Kebenaran
Dunia birokrasi dan organisasi
modern beroperasi dalam lingkungan yang kian kompleks, mulai dari dinamika
teknologi, ketidakpastian geopolitik, hingga risiko reputasi. Dalam kondisi
ini, pimpinan sangat membutuhkan informasi yang akurat dan kritis untuk menguji
asumsi kebijakan. Namun, struktur hierarki yang ketat sering kali menciptakan
asimetri kekuasaan.
Ketika penilaian kinerja,
kenaikan pangkat, dan akses terhadap sumber daya dikuasai penuh oleh segelintir
pemegang kekuasaan, karyawan secara alami menghitung risiko interaksi. Menolak
atau mengkritik gagasan atasan dipersepsikan memiliki risiko karier yang
tinggi, sedangkan menyetujui dan memuji atasan memberikan rasa aman serta
keuntungan posisi. Fenomena inilah yang menggeser fungsi hierarki dari
penyampai realitas menjadi penyaring informasi.
Metodologi Penelitian
Sederhana
Penelitian ini menggunakan
pendekatan critical qualitative literature review (QLR) atau tinjauan
pustaka kualitatif kritis dengan orientasi integratif. Loso Judijanto menelaah
dan menyintesis puluhan hasil riset bereputasi internasional di bidang perilaku
organisasi, manajemen sumber daya manusia, etika bisnis, dan administrasi publik
yang terbit sebagian besar antara tahun 2020 hingga 2026.
Melalui pemetaan konseptual,
penelitian ini menghubungkan fenomena penjilatan (ingratiation),
manajemen kesan (impression management), kesesuaian pendapat (opinion
conformity), pembungkaman karyawan (employee silence), hingga
kepemimpinan narsistik dan eksploratif ke dalam satu kerangka kerja tata kelola
informasi.
Temuan Utama Penelitian
Hasil sintesis komprehensif ini
mengungkapkan sejumlah temuan kunci mengenai mekanisme dan dampak sycophancy
dalam organisasi:
- Paradoks Rasionalitas Individu vs. Disfungsi
Kolektif: Secara individu, bersikap penurut dan menghindari konflik
dengan atasan adalah langkah rasional bagi karyawan untuk mengamankan
posisi. Namun, jika dilakukan secara massal, tindakan ini menjadi
disfungsi kolektif yang merusak kualitas keputusan organisasi.
- Terciptanya Konsensus Palsu dan "Buta
Endogen": Pimpinan yang jarang mendengar kritik menganggap
strateginya sudah benar. Kondisi ini memicu false consensus dan endogenous
blindness, di mana pimpinan menjadi makin percaya diri atas keputusan
yang salah karena tidak adanya umpan balik yang jujur.
- Pembungkaman Etis (Ethical Silence): Sycophancy
bukan hanya menahan kritik strategi, tetapi juga menutupi penyimpangan
etika. Karyawan sering membenarkan tindakan menyembunyikan kesalahan atas
nama "loyalitas" kepada atasan atau organisasi.
- Tergerusnya Sistem Meritokrasi: Promosi dan
penghargaan tidak lagi didasarkan pada kompetensi objektif, melainkan pada
kemahiran beradaptasi politik dan menyenangkan atasan. Akibatnya, terjadi adverse
selection—pekerja kritis cenderung keluar atau dibungkam, sementara
individu penurut naik ke puncak kepemimpinan.
- Kegagalan Sistem Formal: Saluran aspirasi
formal seperti kotak saran, survei internal, atau kebijakan open-door
kerap gagal jika karyawan merasa tidak ada jaminan keamanan psikologis (psychological
safety) yang nyata dari pembalasan politik.
Dampak dan Implikasi Kebijakan
Publik
Dalam konteks birokrasi dan
sektor publik, dampak dari kegagalan integritas informasi ini sangat fatal.
Informasi kinerja yang dimanipulasi demi menyenangkan pejabat publik dapat
menghasilkan kebijakan yang meleset dari kebutuhan masyarakat.
Untuk mengatasi jebakan budaya
"asal bapak senang", penelitian ini merekomendasikan penataan
arsitektur tata kelola anti-sikofansi yang berlapis:
- Pelindung Kepemimpinan (Leadership Safeguards):
Mendorong kepemimpinan yang rendah hati (humble leadership) serta
membiasakan pimpinan untuk menunda penyampaian preferensi pribadi agar
bawahan bebas berpendapat.
- Pelindung SDM (HR Safeguards): Menerapkan
evaluasi dari banyak sumber (multi-source evaluation), panel
promosi independen, serta audit rekam jejak karier.
- Pelindung Proses Keputusan (Decision
Safeguards): Melembagakan mekanisme penentang terstruktur (structured
dissent) seperti pembentukan tim lawan (red teaming), analisis pre-mortem,
dan penunjukan posisi devil's advocate dalam pengambilan keputusan
penting.
- Pelindung Akuntabilitas (Accountability
Safeguards): Memperkuat perlindungan whistleblower
independen dan saluran pelaporan etika yang terpisah dari hierarki komando
langsung.
"Sycophancy harus
dipindahkan dari sekadar masalah etiket antarpribadi ke inti tata kelola
organisasi. Kerusakan utamanya terletak pada jurang pemisah antara realitas di
lapangan dan informasi yang sampai ke telinga pemegang kekuasaan,"
tulis Loso Judijanto dalam laporan penelitiannya.
Profil Singkat Penulis
Loso Judijanto adalah
peneliti yang berafiliasi dengan IPOSS Jakarta. Beliau memiliki keahlian
dan fokus riset di bidang perilaku organisasi (organizational behavior),
manajemen sumber daya manusia (human resource management), tata kelola
birokrasi (bureaucratic governance), serta etika kepemimpinan (ethical
leadership).
Sumber Penelitian
- Judul Artikel Jurnal: When Agreement
Becomes Governance: Sycophancy, Silence, and Upward Conformity as
Information-Integrity Failures in Modern Bureaucracies – A Critical Review
- Nama Jurnal: Multitech Journal of Science
and Technology (MJST)
- Tahun Publikasi: 2026
- DOI: https://doi.org/10.59890/mjst.v4i9.336
- URL Resmi: https://slamultitechpublisher.my.id/index.php/mjst/index
0 Komentar