Bagaimana Desain Interior Masjid Raya Al-Jabbar Bandung Membentuk Perilaku Ibadah dan Wisata

Ilustrasi by AI 

Pada September 2026, tim peneliti yang terdiri dari Anggi Dwi Astuti, I Wayan Mudra, I Made Pande Artadi, dan Nyoman Dewi Pebriyani dari Universitas Mercu Buana mempublikasikan studi arsitektur interior mengenai Masjid Raya Al-Jabbar Bandung. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA) ini mengungkapkan bagaimana elemen desain interior masjid megah secara intuitif mengarahkan perilaku jemaah dan wisatawan tanpa memerlukan petunjuk lisan maupun tulisan. Hasil studi ini memberikan panduan desain bagi arsitek dan pengelola bangunan publik berarsitektur kontemporer.

Tantangan Menyeimbangkan Ruang Sakral dan Fungsi Publik

Masjid monumental di Indonesia kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga berkembang menjadi pusat kegiatan sosial, edukasi, dan destinasi wisata religi. Perubahan fungsi ini menciptakan tantangan dalam tata ruang interior. Di satu sisi, jemaah membutuhkan ketenangan dan kekhusyukan saat beribadah. Di sisi lain, pengunjung dan wisatawan datang untuk menikmati estetika arsitektur serta mengabadikan momen visual.

Untuk membedah dinamika ini, para peneliti menggunakan teori affordance (keterfasilitasan) yang dikembangkan oleh psikolog James J. Gibson. Teori ini menjelaskan bagaimana sebuah lingkungan secara fisik memberi kemudahan atau "mengundang" pengguna untuk melakukan tindakan tertentu. Dalam konteks interior masjid, peneliti membagi ruang ke dalam tiga dimensi utama:

  •  Affordance Sakral: Elemen desain seperti pencahayaan alami, garis arah kiblat, dan puncak kubah yang membentuk pengalaman spiritual serta fokus ibadah.
  • Affordance Fungsional: Elemen fisik seperti perbedaan ketinggian lantai, pola karpet karpet shaf, dan jalur aksesibilitas yang mempermudah pergerakan, kenyamanan, dan kebersihan.
  • Affordance Sosial: Area transisi, koridor, dan ruang terbuka yang mendukung interaksi warga, diskusi, dan dokumentasi visual.

Pendekatan dan Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan strategi studi kasus tunggal pada ruang interior Masjid Raya Al-Jabbar.

  • Pemetaan Perilaku (Behavioral Mapping): Observasi lapangan dilakukan dalam 6 hingga 8 sesi berdurasi 30–60 menit untuk mengamati pola pergerakan jemaah pada waktu shalat dan non-shalat.
  • Wawancara Mendalam: Peneliti mewawancarai 34 informan yang terbagi ke dalam tiga kelompok: 10 jemaah rutin, 18 pengunjung/wisatawan, dan 6 pengurus masjid.
  • Analisis Data: Peneliti menganalisis sketsa pemetaan, peta denah, catatan lapangan, dan dokumentasi foto melalui reduksi data dan triangulasi sumber.

Temuan Utama dan Fenomena Affordance Conflict

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konfigurasi fisik interior Masjid Raya Al-Jabbar secara efektif menyampaikan pesan fungsi ruang kepada penggunanya. Namun, keindahan estetika yang sama juga memicu potensi benturan aktivitas di area tertentu.

  • Petunjuk Intuitif Arah Shalat: Ruang utama yang lapang tanpa tiang tengah memberikan pandangan langsung ke mihrab berbentuk segitiga emas. Pola garis pada karpet shaf memberi petunjuk geometris otomatis agar jemaah merapatkan barisan tanpa perlu diatur secara lisan.
  • Batas Suci dan Perbedaan Material: Perbedaan ketinggian lantai (5–15 cm) serta perubahan material dari ubin kasar di teras ke marmer dan karpet di dalam ruang secara taktil menandai batas area suci. Penggunaan ramp miring di samping tangga utama memberikan aksesibilitas yang jelas bagi pengguna kursi roda dan lansia.
  • Pencahayaan Alami yang Spiritual: Panel kaca geometris pada kubah menciptakan gradasi cahaya yang mengarahkan pandangan jemaah ke mihrab dan kaligrafi "Allah" di puncak ceiling, sehingga memperkuat ketenangan batin.
  • Identifikasi Affordance Conflict: Penelitian menemukan adanya konflik fungsi di beberapa titik, seperti koridor mihrab dan area drop-off. Megahnya mahkota kubah dan mihrab menarik minat wisatawan untuk berfoto, sehingga sering kali melintasi garis shaf dan mengganggu kekhusyukan ibadah jemaah.

Rekomendasi Desain dan Implikasi Nyata

Untuk mengatasi konflik ruang pada masjid kontemporer berkonsep ganda, para peneliti menyusun panduan desain interior berbasis affordance yang dapat diterapkan oleh arsitek dan pengelola:

  • Zonasi Waktu dan Ruang: Mengutamakan area utama ibadah untuk kegiatan ritual, serta membatasi aktivitas dokumentasi foto hanya pada jam-jam kunjungan di luar waktu shalat.
  • Pembatas Suci Transparan: Menambahkan batas elevasional rendah atau panel transparan di sekitar mihrab untuk menjaga jarak fisik pengunjung tanpa menghalangi pemandangan estetika.
  • Pemisahan Akustik Vertikal: Memisahkan galeri museum dan area edukasi di lantai bawah dengan ruang ibadah di lantai atas menggunakan bahan peredam suara.
  •  Jalur Sirkulasi Khusus: Menyediakan jalur cepat bagi jemaah yang hendak shalat agar tidak terhambat oleh kerumunan wisatawan di area pintu masuk.

Kutipan Akademik

Mengenai pentingnya penerapan keterfasilitasan ruang dalam arsitektur masjid modern, Anggi Dwi Astuti beserta tim peneliti dari Universitas Mercu Buana menyatakan:

"Tiga dimensi keterfasilitasan ruang—sakral, fungsional, dan sosial—saling berkaitan dalam membentuk pengalaman pengguna masjid. Ketika satu elemen interior mengundang perilaku ibadah dan non-ibadah di tempat dan waktu yang sama, muncullah konflik fungsi. Kunci keberhasilan desain masjid kontemporer terletak pada kekuatan penataan fungsional, seperti zonasi material dan pembatas intuitif, untuk menjaga kesakralan ibadah tanpa menutup ruang bagi kegiatan sosial masyarakat."

Profil Singkat Peneliti Utama

  • Nama Lengkap: Anggi Dwi Astuti, M.Ds.
  • Afiliasi Universitas: Universitas Mercu Buana, Jakarta, Indonesia
  • Bidang Keahlian: Desain Interior, Psikologi Lingkungan, Spatial Affordance, dan Arsitektur Islam Kontemporer

Sumber Penelitian

 


Posting Komentar

0 Komentar