FORMOSA NEWS - Bali - Audit Akuntansi Perhotelan Ungkap Perlunya Perbaikan Klasifikasi Biaya Makanan Gratis di Bali Agung Village. Penelitian yang dilakukan oleh Ni Wayan Putri Purnama Utami, Titien Damayanti, dan Ni Luh Riska Yusmarisa dari Politeknik Pariwisata Bali dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 9 Tahun 2026 menyoroti bahwa aspek pengakuan dan pengukuran telah berjalan sesuai standar, praktik klasifikasi biaya dan pengungkapan laporan keuangan masih memerlukan penyesuaian signifikan agar lebih akurat dan transparan.
Dalam industri perhotelan modern, fasilitas gratis diberikan untuk berbagai tujuan operasional. Di Bali Agung Village Hotel, fasilitas makanan dan minuman cuma-cuma ini umumnya dibagi menjadi tiga kategori utama. Pertama, layanan pemulihan layanan (service recovery) bagi tamu yang menghadapi kendala seperti masalah kebersihan kamar atau gangguan kebisingan proyek, dengan nilai voucer berkisar antara Rp150.000 hingga Rp250.000. Kedua, apresiasi bagi tamu setia (repeat guests) guna memperkuat loyalitas dengan nilai voucer Rp300.000 hingga Rp500.000. Ketiga, fasilitas untuk pemilik hotel atau staf internal saat rapat dan kunjungan rutin, yang bernilai antara Rp500.000 hingga Rp1.000.000. Kendati tujuan pemberiannya beragam, temuan awal penelitian menunjukkan bahwa seluruh biaya makanan gratis tersebut selama ini dibebankan secara pukul rata ke dalam Departemen Makanan dan Minuman (Food and Beverage Department). Praktik penyamarataan ini dikhawatirkan dapat mendistorsi evaluasi kinerja departemen serta mengurangi keandalan informasi biaya operasional hotel.
Implikasi dari penelitian ini sangat luas bagi dunia usaha perhotelan. Manajemen hotel diimbau untuk memperbaiki praktik pengungkapan keuangan serta merevisi alur klasifikasi biaya agar selaras dengan standar global USALI. Dengan sistem akuntansi yang lebih transparan, pengelola hotel dapat memantau efisiensi biaya secara lebih presisi, meningkatkan akuntabilitas, serta mendukung pengambilan kebijakan strategis yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas layanan kepada tamu.
Profil Penulis
Ni Wayan Putri Purnama Utami – Peneliti dan praktisi bidang akuntansi dan perhotelan, Politeknik Pariwisata Bali.
Titien Damayanti, S.E., M.Si. – Dosen dan peneliti bidang akuntansi pariwisata, Politeknik Pariwisata Bali. (Kontak Korespondensi: titien@ppb.ac.id)
Ni Luh Riska Yusmarisa – Peneliti bidang keuangan dan pariwisata, Politeknik Pariwisata Bali.
Sumber Penelitian
Ni Wayan Putri Purnama Utami, Titien Damayanti, Ni Luh Riska Yusmarisa. Analysis of the Accounting Treatment of Complimentary Food and Beverages Based on the Conceptual Framework for Financial Reporting (KKPK) and the Uniform System of Accounts for the Lodging Industry (USALI) at the Bali Agung Village Seminyak Hotel. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 9, hlm. 2061-2074)
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i9.91
URL Resmi Jurnal:https://journalfjas.my.id/index.php/fjas .
Dalam industri perhotelan modern, fasilitas gratis diberikan untuk berbagai tujuan operasional. Di Bali Agung Village Hotel, fasilitas makanan dan minuman cuma-cuma ini umumnya dibagi menjadi tiga kategori utama. Pertama, layanan pemulihan layanan (service recovery) bagi tamu yang menghadapi kendala seperti masalah kebersihan kamar atau gangguan kebisingan proyek, dengan nilai voucer berkisar antara Rp150.000 hingga Rp250.000. Kedua, apresiasi bagi tamu setia (repeat guests) guna memperkuat loyalitas dengan nilai voucer Rp300.000 hingga Rp500.000. Ketiga, fasilitas untuk pemilik hotel atau staf internal saat rapat dan kunjungan rutin, yang bernilai antara Rp500.000 hingga Rp1.000.000. Kendati tujuan pemberiannya beragam, temuan awal penelitian menunjukkan bahwa seluruh biaya makanan gratis tersebut selama ini dibebankan secara pukul rata ke dalam Departemen Makanan dan Minuman (Food and Beverage Department). Praktik penyamarataan ini dikhawatirkan dapat mendistorsi evaluasi kinerja departemen serta mengurangi keandalan informasi biaya operasional hotel.
Untuk membedah persoalan ini, tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam bersama Asisten Chief Accountant hotel, observasi langsung terhadap prosedur pencatatan, serta analisis dokumen internal seperti voucer komplementer dan laporan keuangan. Data tersebut kemudian diuji menggunakan kerangka kerja ganda: Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (KKPK) 2025 dan standar akuntansi internasional perhotelan, yaitu Uniform System of Accounts for the Lodging Industry (USALI) Edisi Revisi ke-12 tahun 2024.
Hasil analisis memperlihatkan temuan penting yang terbagi ke dalam beberapa poin utama:
- Kepatuhan pada Kerangka Konseptual (KKPK): Dari sisi pengakuan (recognition), pengukuran (measurement), dan penyajian (presentation), praktik akuntansi hotel umumnya sudah sejalan dengan KKPK. Biaya diukur berdasarkan biaya bahan baku aktual berdasarkan resep standar pada tanggal transaksi dan disajikan sebagai beban operasional. Namun, aspek pengungkapan (disclosure) masih dinilai kurang karena rincian biaya komplementer belum diungkapkan secara spesifik dalam catatan atas laporan keuangan.
- Kesesuaian dengan Standar USALI: Berdasarkan panduan USALI, pencatatan biaya makanan gratis untuk tamu setia (repeat guests) sudah tepat diklasifikasikan di bawah Departemen Makanan dan Minuman. Sebaliknya, biaya untuk penanganan keluhan tamu (service recovery) serta kebutuhan pemilik dan internal hotel mengalami salah klasifikasi. Berdasarkan standar USALI, biaya pemulihan layanan seharusnya dicatat di bawah Departemen Administrasi dan Umum (Administrative and General) sebagai bagian dari Service Recovery, sementara konsumsi internal harus dikategorikan sebagai In-House Entertainment.
Implikasi dari penelitian ini sangat luas bagi dunia usaha perhotelan. Manajemen hotel diimbau untuk memperbaiki praktik pengungkapan keuangan serta merevisi alur klasifikasi biaya agar selaras dengan standar global USALI. Dengan sistem akuntansi yang lebih transparan, pengelola hotel dapat memantau efisiensi biaya secara lebih presisi, meningkatkan akuntabilitas, serta mendukung pengambilan kebijakan strategis yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas layanan kepada tamu.
Profil Penulis
Ni Wayan Putri Purnama Utami – Peneliti dan praktisi bidang akuntansi dan perhotelan, Politeknik Pariwisata Bali.
Titien Damayanti, S.E., M.Si. – Dosen dan peneliti bidang akuntansi pariwisata, Politeknik Pariwisata Bali. (Kontak Korespondensi: titien@ppb.ac.id)
Ni Luh Riska Yusmarisa – Peneliti bidang keuangan dan pariwisata, Politeknik Pariwisata Bali.
Sumber Penelitian
Ni Wayan Putri Purnama Utami, Titien Damayanti, Ni Luh Riska Yusmarisa. Analysis of the Accounting Treatment of Complimentary Food and Beverages Based on the Conceptual Framework for Financial Reporting (KKPK) and the Uniform System of Accounts for the Lodging Industry (USALI) at the Bali Agung Village Seminyak Hotel. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 9, hlm. 2061-2074)
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i9.91
URL Resmi Jurnal:

0 Komentar