![]() |
| Illustration by Ai |
Keberadaan Wisata Batu Lombeng di Desa Lebani, Kabupaten Mamuju, membawa dampak sosial yang cenderung positif bagi masyarakat pesisir setempat. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Rubiana, Isra Wahyudi, Arwin, Haryanto, dan Ilham dari Universitas Muhammadiyah Mamuju dan dipublikasikan pada tahun 2026. Penelitian ini menunjukkan bahwa destinasi wisata pesisir tersebut tidak hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga meningkatkan interaksi sosial dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas wisata. Temuan ini penting karena menunjukkan bagaimana pengembangan pariwisata dapat menjadi sarana pembangunan masyarakat pesisir yang berkelanjutan.
Dalam dua dekade terakhir, sektor
pariwisata berkembang menjadi salah satu penggerak pembangunan daerah di
Indonesia. Selain memberikan manfaat ekonomi, pariwisata juga membawa perubahan
sosial yang memengaruhi pola interaksi, nilai budaya, dan kehidupan masyarakat
lokal. Dampak tersebut menjadi semakin menarik untuk dikaji pada wilayah
pesisir yang selama ini bergantung pada sektor perikanan dan sumber daya laut
sebagai sumber utama mata pencaharian.
Desa Lebani di Kecamatan Simboro,
Kabupaten Mamuju, merupakan salah satu kawasan pesisir yang mengalami
perkembangan sektor wisata melalui destinasi Batu Lombeng. Objek wisata ini
dikenal karena keindahan alam pantainya dan menjadi ruang pertemuan antara
masyarakat lokal, pengelola wisata, serta wisatawan dari berbagai daerah.
Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, muncul berbagai perubahan dalam
kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.
Untuk memahami perubahan
tersebut, tim peneliti melakukan penelitian pada Mei hingga Juni 2026 dengan
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sebanyak 31 informan yang terdiri
atas pengelola wisata, masyarakat Desa Lebani, dan wisatawan dipilih sebagai
sumber informasi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi
lapangan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi dampak
sosial yang muncul akibat perkembangan Wisata Batu Lombeng.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dampak sosial positif menjadi karakter utama dari perkembangan destinasi
wisata ini. Beberapa manfaat yang dirasakan masyarakat antara lain:
- Meningkatnya interaksi sosial antara warga dan
wisatawan.
- Terbukanya peluang usaha lokal seperti warung makan,
penjualan makanan ringan, penyewaan gazebo, dan jasa parkir.
- Bertambahnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan
pendukung pariwisata.
- Munculnya diversifikasi mata pencaharian masyarakat
pesisir.
- Tingginya tingkat penerimaan masyarakat terhadap
keberadaan destinasi wisata.
Sebelum sektor wisata berkembang,
sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada kegiatan perikanan dan
pertanian. Kehadiran Wisata Batu Lombeng tidak menggantikan pekerjaan utama
tersebut, tetapi memberikan sumber pendapatan tambahan yang membantu meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Warga memanfaatkan peluang ekonomi baru tanpa harus
meninggalkan mata pencaharian tradisional mereka. Kondisi ini menunjukkan
adanya kemampuan masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan ekonomi yang
terjadi di wilayah pesisir.
Salah satu temuan paling menonjol
dalam penelitian ini adalah tingginya tingkat penerimaan masyarakat terhadap
keberadaan Wisata Batu Lombeng. Dari 31 responden yang diwawancarai, 28 orang
menyatakan setuju dan dua orang menyatakan sangat setuju terhadap keberadaan
wisata tersebut. Hanya satu responden yang memberikan jawaban netral. Secara
keseluruhan, sebanyak 96,77 persen responden memberikan tanggapan positif
terhadap Wisata Batu Lombeng.
Menurut Rubiana dan tim dari
Universitas Muhammadiyah Mamuju, tingginya dukungan masyarakat tersebut sejalan
dengan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory). Teori ini
menjelaskan bahwa masyarakat akan mendukung pengembangan pariwisata apabila
manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan biaya atau risiko yang
ditimbulkan. Dalam kasus Desa Lebani, peluang usaha, peningkatan aktivitas
ekonomi, dan bertambahnya interaksi sosial dianggap memberikan keuntungan nyata
bagi masyarakat.
Selain manfaat ekonomi, kawasan
wisata juga berfungsi sebagai ruang sosial baru bagi masyarakat. Interaksi yang
terjadi antara warga lokal dan wisatawan memperluas jaringan komunikasi,
memperkaya pengalaman sosial, serta membuka kesempatan untuk mengenal berbagai
budaya dan latar belakang yang berbeda. Aktivitas wisata tidak hanya
menciptakan hubungan antara penjual dan pembeli, tetapi juga mempererat
hubungan sosial yang lebih luas.
Meski demikian, penelitian ini
juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Dampak
negatif memang belum terlihat dominan, namun terdapat potensi masalah yang
dapat muncul apabila perkembangan wisata tidak dikelola dengan baik. Beberapa
isu yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah yang belum optimal,
keterlibatan masyarakat yang belum merata, keterbatasan usaha lokal tertentu,
serta kemungkinan terjadinya perubahan nilai dan pola hidup masyarakat akibat
meningkatnya interaksi dengan wisatawan.
Analisis SWOT yang dilakukan
peneliti menunjukkan bahwa Batu Lombeng memiliki kekuatan berupa potensi alam
pesisir yang menarik dan hubungan positif antara masyarakat dengan wisatawan.
Namun, terdapat beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki, terutama dalam aspek
pengelolaan sampah, peningkatan kapasitas masyarakat, dan penguatan sistem
pengelolaan wisata. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan pengembangan
pariwisata berbasis masyarakat yang melibatkan warga secara aktif dalam
perencanaan dan pengelolaan destinasi wisata.
Bagi pemerintah daerah dan
pengelola wisata, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan
pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari
manfaat sosial yang dirasakan masyarakat lokal. Pengembangan wisata yang
memperhatikan aspek lingkungan, budaya, dan pemerataan manfaat ekonomi akan
membantu menciptakan destinasi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Temuan ini juga menjadi contoh
bagi daerah pesisir lain di Indonesia yang tengah mengembangkan sektor
pariwisata. Pengalaman Desa Lebani menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi
alat pemberdayaan masyarakat apabila dikelola secara inklusif dan berorientasi
pada kesejahteraan bersama. Dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama,
manfaat ekonomi dan sosial dapat dirasakan secara lebih merata tanpa
mengabaikan kelestarian lingkungan dan budaya lokal.
Profil Penulis
Rubiana merupakan
akademisi dan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Mamuju yang
memiliki fokus kajian pada pembangunan masyarakat pesisir, sumber daya
perairan, dan pariwisata berkelanjutan. Dalam penelitian ini, Rubiana bertindak
sebagai penulis korespondensi.
Isra Wahyudi, Arwin, Haryanto,
dan Ilham adalah dosen dan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Mamuju
yang aktif dalam bidang pengelolaan sumber daya pesisir, pemberdayaan
masyarakat, dan pembangunan pariwisata berbasis komunitas.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The
Social Impact of Batu Lombeng Tourism on the Coastal Community of Lebani
Village, Mamuju Regency
Penulis: Rubiana, Isra Wahyudi, Arwin, Haryanto, dan Ilham
Afiliasi: Universitas Muhammadiyah Mamuju
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced
Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4, No. 8, 2026, halaman 793–800
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i8.306

0 Komentar