Waktu Penyambungan Sore Hari dan Sitokinin 250 ppm Tingkatkan Keberhasilan Grafting Nangka

Ilustrasi by AI

Palu – Waktu penyambungan dan penggunaan zat pengatur tumbuh sitokinin dapat memengaruhi keberhasilan perbanyakan tanaman nangka melalui teknik grafting. Temuan tersebut dilaporkan Adrian Roberto Tambunan, Enny Adelina, dan Adrianton dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu, melalui penelitian yang dilakukan pada Januari hingga Maret 2025 di Balai Perbenihan Tanaman Pangan Hortikultura Sidera, Kecamatan Sigi-Biromaru. Hasilnya penting bagi pengembangan bibit nangka karena teknik grafting dapat mempertahankan karakter unggul tanaman induk sekaligus membantu mempercepat masa berbuah.

Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) merupakan salah satu tanaman buah tropis yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan memiliki nilai ekonomi. Data Badan Pusat Statistik yang dikutip dalam artikel menunjukkan produksi nangka Indonesia mencapai 813.756 ton pada 2022, kemudian turun menjadi 789.200 ton pada 2023. Penurunan tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan teknik budidaya dan perbanyakan tanaman yang dapat menghasilkan bibit berkualitas.

Perbanyakan nangka melalui biji memiliki keterbatasan karena keturunannya dapat memiliki karakter yang tidak seragam dan membutuhkan waktu relatif lama untuk menghasilkan buah. Grafting menjadi salah satu alternatif perbanyakan vegetatif karena menggabungkan batang bawah yang memiliki sistem perakaran kuat dengan batang atas atau entres dari tanaman induk yang memiliki karakter unggul. Dengan cara tersebut, sifat tanaman induk diharapkan dapat dipertahankan pada bibit hasil perbanyakan.

Keberhasilan grafting tidak hanya ditentukan oleh keterampilan penyambungan. Kondisi fisiologis tanaman, kualitas batang bawah dan entres, kebersihan alat, suhu, kelembapan, kesesuaian kedua bagian tanaman, serta waktu pelaksanaan penyambungan juga dapat memengaruhi proses penyatuan jaringan. Penggunaan zat pengatur tumbuh, khususnya sitokinin, juga diperhatikan karena hormon tersebut berperan dalam pembelahan sel, pembentukan jaringan, perkembangan tunas, dan daun.

Dalam percobaan tersebut, peneliti menguji dua waktu penyambungan, yaitu pukul 12.00–14.00 dan 15.00–16.00. Faktor kedua berupa konsentrasi sitokinin yang terdiri atas perlakuan tanpa sitokinin sebagai kontrol serta konsentrasi 100, 150, 200, dan 250 ppm. Percobaan dilakukan dengan rancangan kelompok dan diulang tiga kali. Secara keseluruhan terdapat 30 unit percobaan dengan lima tanaman sampel pada setiap unit sehingga 150 bibit nangka diamati.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penyambungan pada pukul 15.00–16.00 memberikan waktu penyatuan jaringan yang lebih cepat dibandingkan penyambungan pada pukul 12.00–14.00. Rata-rata waktu penyatuan mencapai 3,62 hari pada sore hari, sedangkan penyambungan pada siang hari mencapai 4,20 hari.

Kondisi sore hari yang memiliki suhu lebih rendah dan kelembapan lebih tinggi diperkirakan membantu mempertahankan turgor sel dan mengurangi kehilangan air melalui transpirasi. Kondisi tersebut mendukung pembentukan kalus dan proses penyatuan jaringan antara batang bawah dan entres.

Perbedaan waktu penyambungan juga terlihat pada pertumbuhan tunas. Pada pengamatan minggu ketiga setelah penyambungan, panjang tunas rata-rata mencapai 3,97 cm pada perlakuan pukul 15.00–16.00, sedangkan perlakuan pukul 12.00–14.00 menghasilkan rata-rata 2,94 cm. Pada minggu ketujuh, panjang tunas masing-masing mencapai 7,50 cm dan 7,33 cm.

Jumlah daun juga menunjukkan hasil yang lebih tinggi pada penyambungan sore hari. Pada minggu ketujuh, tanaman yang disambung pukul 15.00–16.00 memiliki rata-rata 9,73 daun, dibandingkan 7,93 daun pada penyambungan pukul 12.00–14.00. Pada minggu kedelapan, jumlahnya mencapai 11,47 daun pada perlakuan sore hari dan 9,60 daun pada perlakuan siang hari.

Dari sisi keberhasilan sambungan, penyambungan pukul 15.00–16.00 menghasilkan persentase keberhasilan sekitar 61,33 persen pada pengamatan awal, sementara penyambungan pukul 12.00–14.00 mencapai 60 persen. Pada pengamatan keberlangsungan sambungan, perlakuan sore hari mencatat 89,33 persen, sedangkan perlakuan siang hari 60 persen.

Selain waktu penyambungan, konsentrasi sitokinin juga memberikan perbedaan pada sejumlah parameter. Konsentrasi 250 ppm menghasilkan waktu penyatuan tercepat, yaitu 3,79 hari. Perlakuan yang sama juga menghasilkan persentase keberhasilan penyambungan sebesar 73,33 persen pada pengamatan yang dilaporkan serta jumlah daun tertinggi, dengan rata-rata 47,50 daun pada pengamatan minggu kedelapan.

Secara keseluruhan, analisis menunjukkan tidak terdapat interaksi antara waktu penyambungan dan konsentrasi sitokinin. Artinya, kedua faktor tersebut memberikan pengaruh masing-masing terhadap parameter pertumbuhan dan keberhasilan sambungan, tetapi kombinasi keduanya tidak menunjukkan interaksi yang signifikan dalam percobaan tersebut.

Temuan ini memberikan informasi praktis bagi pembibitan nangka. Pelaksanaan grafting pada sore hari dapat menjadi salah satu pilihan waktu yang perlu dipertimbangkan karena kondisi lingkungan yang lebih mendukung proses penyatuan jaringan. Penggunaan sitokinin pada konsentrasi 250 ppm juga menunjukkan respons yang baik pada sejumlah parameter yang diamati.

Bagi pengembangan budidaya nangka, keberhasilan perbanyakan vegetatif menjadi bagian penting dalam menyediakan bibit dengan karakter yang lebih seragam. Teknik grafting yang tepat dapat membantu mempertahankan karakter tanaman induk unggul dan mendukung penyediaan bahan tanam untuk pengembangan produksi nangka.

Peneliti juga merekomendasikan penelitian lanjutan dengan rentang waktu penyambungan dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang lebih luas. Penelitian berikutnya dapat melihat jenis zat pengatur tumbuh lain, karakter entres dan batang bawah, kondisi lingkungan, serta teknik grafting yang berbeda. Pengamatan jangka panjang juga diperlukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, produktivitas, dan kualitas buah.

Tentang Penulis

Adrian Roberto Tambunan
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Enny Adelina
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Adrianton
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Sumber Penelitian

“The Effect of Grafting Time and Plant Growth Regulator (PGR) Application on Graft Union Success Rate in Jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lamk)”

East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Volume 5, Nomor 9, 2026, halaman 3731–3742.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.305

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research

Posting Komentar

0 Komentar