Tata Kelola Puskesmas dalam Mempercepat Penurunan Stunting: Studi Fenomenologis tentang Kesenjangan Implementasi Kebijakan di Puskesmas Ngantang

Gambar Ilustrasi AI

Tata Kelola Puskesmas Ngantang Mengungkap Hambatan Utama Percepatan Penurunan Stunting di Tingkat Lokal

MALANG, Formosa News — Penelitian fenomenologi dari Universitas Gajayana Malang mengungkapkan bahwa hambatan utama percepatan penurunan stunting di tingkat puskesmas bukan terletak pada komitmen kepemimpinan, melainkan pada ketidaksinkronan data antarlembaga, ketimpangan koordinasi lintas sektor, dan keterbatasan anggaran desa. Penelitian yang dilakukan sejak Februari hingga Juni 2026 ini disusun oleh Yosar Haritsar dan Tri Cicik Wijayanti dari Program Magister Manajemen Universitas Gajayana Malang dan dipublikasikan pada 31 Agustus 2026. Hasil studi di Puskesmas Ngantang, Kabupaten Malang, ini memberikan peta jalan penting bagi perbaikan tata kelola layanan kesehatan primer agar program penanganan stunting berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.

Konteks dan Masalah: Prevalensi Stunting di Atas Rata-Rata Kabupaten

Pemerintah Indonesia terus memprioritaskan percepatan penurunan stunting sebagai agenda nasional. Namun, efektivitas kebijakan di tingkat tapak sering kali terbentur kendala implementasi institusional. Di wilayah kerja Puskesmas Ngantang, Kabupaten Malang, angka prevalensi stunting tercatat sebesar 8,6% pada Februari 2026. Angka ini berada di atas rata-rata Kabupaten Malang yang mencapai 5,85%.

Masalah stunting bersifat multidimensi, yang tidak hanya disebabkan oleh asupan gizi yang kurang, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh, akses sanitasi, hingga kapasitas tata kelola puskesmas. Meskipun kebijakan dan alokasi dana dari pemerintah pusat maupun daerah tersedia, efektivitas program sering terhambat oleh lemahnya koordinasi antarsektor, perencanaan yang kurang terintegrasi, dan belum optimalnya pengawasan di lapangan.

Metodologi Penelitian: Pendekatan Fenomenologi Kualitatif

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk menggali secara mendalam pengalaman, persepsi, dan tantangan yang dihadapi para pelaku pemangku kepentingan. Penelitian berlangsung di wilayah kerja Puskesmas Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pengumpulan dan analisis data dilakukan melalui langkah-langkah berikut:

  • Pemilihan Informan: Pemilihan informan kunci menggunakan teknik purposive dan snowball sampling. Informan utama adalah Kepala Puskesmas Ngantang, didampingi tujuh informan pendukung yang meliputi koordinator program gizi, koordinator kesehatan keluarga, petugas gizi, kader posyandu, perwakilan PKK, tokoh masyarakat, dan orang tua balita.
  • Pengumpulan Data: Data diperoleh melalui wawancara mendalam terstruktur, observasi partisipatif di lapangan, serta studi dokumen resmi.
  • Uji Keabsahan Data: Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan metode, verifikasi, serta member checking.
  • Analisis Data: Mengikuti tahapan fenomenologi, mulai dari bracketing, reduksi fenomenologis (horizonalization), pengelompokan makna, hingga sintesis deskripsi tekstural dan struktural berdasarkan lima pilar tata kelola.

Temuan Utama: Analisis Lima Pilar Tata Kelola Kesehatan

Studi ini mengevaluasi kinerja pelaksanaan program berdasarkan lima pilar utama tata kelola kesehatan di Puskesmas Ngantang:

  • Komitmen Kepemimpinan: Menjadi kekuatan utama. Kepala Puskesmas Ngantang menunjukkan kepemimpinan yang adaptif dengan menghadirkan inovasi Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) bagi petani, Posyandu Remaja, dan integrasi Bina Keluarga Balita (BKB). Namun, edukasi pola asuh belum diprioritaskan setara dengan intervensi gizi spesifik.
  • Koordinasi Lintas Sektor: Kolaborasi antara puskesmas, pemerintah desa, kader, PKK, dan Karang Taruna telah berjalan. Hambatan utama adalah koordinasi yang belum rutin serta tingkat komitmen yang berbeda-beda antardesa.
  • Perencanaan Terintegrasi: Usulan penanganan stunting telah masuk dalam Musrenbang tingkat desa dan kecamatan. Namun, keterbatasan anggaran desa dan prioritas pembangunan fisik membuat usulan sektor kesehatan sering tergeser.
  • Aksi Konvergensi dan Data: Terjadi perbedaan data stunting antara versi puskesmas, desa, dan kecamatan. Ketidaksinkronan data ini menyulitkan penetapan sasaran, alokasi sumber daya, dan evaluasi bersama.
  • Monitoring dan Evaluasi: Pengukuran di Posyandu dan pelaporan bulanan telah berjalan rutin, namun masih diwarnai keterlambatan laporan, variasi keterampilan kader dalam mengukur balita, serta pengawasan yang belum merata.

Faktor penghambat utama lainnya meliputi beban kerja tenaga kesehatan yang tinggi akibat perangkapan jabatan, keterlambatan pencairan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), dan terbatasnya pelatihan berkelanjutan bagi kader.

Implikasi dan Model Penguatan Tata Kelola Stunting

Hasil penelitian ini merekomendasikan model penguatan tata kelola terintegrasi berbasis manajerial, bukan sekadar menambah program baru. Model ini mengintegrasikan lima langkah prioritas:

  • Kepemimpinan Transformasional: Memperkuat advokasi dan menyeimbangkan prioritas antara intervensi gizi dan edukasi pola asuh.
  • Koordinasi Rutin Lintas Sektor: Menggelar lokakarya mini berkala untuk menyelaraskan komitmen pemerintah desa dan sektor terkait.
  • Perencanaan Berbasis Data Valid: Memastikan usulan Musrenbang didasarkan pada data stunting yang telah diverifikasi bersama.
  • Sinkronisasi Data Konvergensi: Mengintegrasikan sistem pencatatan antara puskesmas, desa, dan kecamatan agar tidak ada perbedaan angka sasaran.
  • Digitalisasi Pelaporan dan Pelatihan Kader: Meningkatkan kapasitas kader posyandu melalui pelatihan pengukuran standar dan penggunaan aplikasi pelaporan digital.
"Tantangan terbesar dalam percepatan penurunan stunting di tingkat puskesmas bukan pada ketiadaan program atau komitmen pimpinan, melainkan pada penyelarasan data, konsistensi koordinasi lintas sektor, dan penguatan kapasitas kader di lapangan," ungkap Yosar Haritsar dari Universitas Gajayana Malang.

Profil Penulis

  1. Yosar Haritsar, S.E., M.M. — Penulis utama dan akademisi pada Program Magister Manajemen Universitas Gajayana Malang, memiliki kepakaran dalam bidang manajemen tata kelola kesehatan publik, manajemen operasional, dan evaluasi kebijakan.
  2. Tri Cicik Wijayanti, S.E., M.M. — Co-author dan dosen pada Program Magister Manajemen Universitas Gajayana Malang, menguasai bidang manajemen sumber daya manusia, organisasi publik, dan strategi pelayanan masyarakat.

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: Health Center Governance in Accelerating Stunting Reduction: A Phenomenological Study on Policy Implementation Gaps at Ngantang Health Center
  • Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences (IJCS)
  • Volume & Halaman: Vol. 4, No. 8, 2026: 2215–2224
  • Tahun Publikasi: 2026 (Diterima: 31 Agustus 2026)
  • DOI: https://doi.org/10.55927/mwxt4n16
  • URL Resmi: https://journalijcs.my.id/index.php/ijcs

Posting Komentar

0 Komentar